Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hizbullah Tembakkan Roket ke Israel usai Serangan Dashyat di Lebanon
Pasukan Hizbullah melakukan latihan di desa Aaramta di distrik Jezzine, Lebanon selatan, pada Mei 2023 (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)
  • Hizbullah menembakkan roket ke Israel utara sebagai balasan atas serangan besar-besaran Israel di Lebanon yang menewaskan ratusan orang dan melanggar gencatan senjata.
  • Iran memperingatkan akan keluar dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS jika Israel terus menyerang Lebanon, menegaskan dukungannya terhadap Hizbullah.
  • Wakil Presiden AS JD Vance menyebut Iran bodoh jika menggagalkan gencatan senjata demi Lebanon, menilai konflik tersebut bukan bagian dari kesepakatan AS-Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Hizbullah mengatakan bahwa kelompoknya telah menembakkan roket ke wilayah utara Israel pada Kamis (9/4/2026). Serangan ini dilakukan setelah pasukan Israel melancarkan serangan besar-besaran di Lebanon, yang menewaskan 254 orang.

Dalam pernyataannya, Hizbullah mengatakan mereka menargetkan permukiman Israel di Manara sebagai respons terhadap pelanggaran gencatan senjata yang dilakukan Israel. Sekutu Iran itu menegaskan bahwa serangan mereka akan terus berlanjut sampai agresi Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap negara dan rakyat Lebanon berhenti.

Sebelumnya, surat Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa sebuah rudal berhasil dicegat di wilayah Galilea Atas setelah diluncurkan dari Lebanon menuju Israel utara. Sirene serangan udara pun berbunyi di kawasan Galilee Panhandle usai peluncuran tersebut, dikutip dari Anadolu.

1. Israel gempur Lebanon beberapa jam setelah gencatan senjata AS-Iran

serangan Israel di Lebanon pada 2024 (Jimmyp84, CC0, via Wikimedia Commons)

Pada Rabu (8/4/2026), pasukan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran di berbagai wilayah Lebanon, menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 1.165 lainnya. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mengumumkan kesepakatan gencatan senjata setelah berperang selama lebih dari 5 pekan.

Pejabat Iran dan mediator Pakistan mengatakan bahwa Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata selama 2 pekan tersebut. Namun, Israel bersikeras sebaliknya, dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berjanji akan terus melanjutkan serangan terhadap Hizbullah.

Setelah awalnya diam, Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa Lebanon merupakan kasus terpisah dan bukan bagian dari kesepakatan tersebut.

2. Iran ancam keluar dari kesepakatan gencatan senjata

bendera Iran (unsplash.com/sina drakhshani)

Iran sendiri telah menegaskan tidak akan meninggalkan Hizbullah. Menurut kantor berita Tasnim, para pejabat Iran mengatakan bahwa negaranya siap untuk keluar dari kesepakatan gencatan senjata jika Israel terus pelanggaran di Lebanon.

"Persyaratan Gencatan Senjata Iran-AS jelas dan eksplisit: AS harus memilih – gencatan senjata atau melanjutkan perang melalui Israel. AS tidak bisa melakukan keduanya," kata Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya.

Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) Iran juga mengancam akan melanjutan pertempuran jika Israel tidak mematuhi gencatan senjata di Lebanon.

“Jika agresi terhadap Lebanon yang kami cintai tidak segera dihentikan, kami akan menjalankan tugas kami dan memberikan respons yang akan disesalkan kepada para agresor jahat di kawasan ini,” demikian pernyataan IRGC.

3. Wapres AS JD Vance sebut Iran bodoh jika pertaruhkan gencatan senjata demi Lebanon

Wakil Presiden AS, JD Vance (Gage Skidmore from Surprise, AZ, United States of America, CC BY-SA 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.0>, via Wikimedia Commons)

Menanggapi ancaman Iran, Wakil Presiden AS, JD Vance, mengatakan bahwa Teheran sama saja melakukan tindakan bodoh jika mempertaruhkan gencatan senjata dengan Washington akibat serangan Israel di Lebanon.

“Jika Iran ingin membiarkan perundingan ini runtuh—dalam konflik di mana mereka sedang terpukul—hanya karena Lebanon, yang tidak ada kaitannya dengan mereka dan yang tidak pernah sekalipun disebut oleh Amerika Serikat sebagai bagian dari gencatan senjata, maka itu sepenuhnya merupakan pilihan mereka,” kata Vance, yang menilai perbedaan pandangan tersebut sebagai sebuah kesalahpahaman, dikutip dari Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa meskipun Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata, Israel telah bersedia menahan diri di negara tersebut demi memastikan agar perundingan antara AS dan Iran berjalan lancar.

Perang Israel di Lebanon kembali meletus pada awal Maret 2026, setelah Hizbullah melancarkan serangan roket ke Israel sebagai respons atas perang AS-Israel terhadap Iran. Sejak itu, Hizbullah menghadapi tekanan yang meningkat dari dalam negeri karena dianggap menyeret negara tersebut ke dalam perang di Timur Tengah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team