Israel Gempur Lebanon pada Minggu Paskah, 14 Orang Tewas

- Sedikitnya 14 orang tewas akibat serangan udara Israel di berbagai wilayah Lebanon pada Minggu Paskah, termasuk keluarga beranggotakan enam orang di Lebanon selatan.
- Sejak awal Maret 2026, lebih dari 1.461 warga Lebanon tewas dan lebih dari satu juta mengungsi akibat serangan Israel yang menargetkan infrastruktur Hizbullah.
- Presiden Lebanon Joseph Aoun menyerukan perundingan dengan Israel untuk menghentikan perang dan mencegah kehancuran lebih luas di wilayah selatan negara itu.
Jakarta, IDN Times - Sedikitnya 14 orang tewas setelah Israel membombardir sejumlah wilayah di Lebanon pada Minggu (5/4/2026). Ini menjadi salah satu hari paling mematikan di Lebanon sejak pertempuran Israel-Hizbullah kembali pecah awal Maret 2026.
Dilansir Al Jazeera, serangan Israel di pinggiran selatan ibu kota, Beirut, menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 39 lainnya. Sementara itu, di Lebanon selatan, sebanyak 10 orang tewas, termasuk satu keluarga yang beranggotakan enam orang.
Militer Israel menyatakan pihaknya melancarkan serangan terhadap infrastruktur Hizbullah di Beirut, tanpa memberikan bukti atas klaim mereka.
1. 1.461 orang tewas akibat serangan Israel di Lebanon

Israel kembali membombardir Lebanon sejak 2 Maret 2026, setelah kelompok Hizbullah Lebanon menembakkan roket ke Israel sebagai respons atas perang Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Pasukan Israel juga melancarkan invasi darat ke Lebanon selatan.
Menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, korban tewas akibat serangan Israel sejauh ini mencapai 1.461 orang, dengan 129 di antaranya adalah anak-anak. Lebih dari 1 juta warga Lebanon juga terpaksa mengungsi akibat perang tersebut.
Pada Minggu, Hizbullah mengklaim telah menembakkan rudal jelajah ke kapal perang Israel yang berada sekitar 126 km dari pantai Lebanon. Namun, media Israel, Channel 14, melaporkan bahwa kapal tersebut bukan milik Israel, melainkan milik Inggris. Rudal itu disebut mengenai kapal dan menyebabkan kerusakan. Meski demikian, kapal tersebut tetap melanjutkan misinya, dikutip dari Anadolu.
2. Penyeberangan Masnaa dievakuasi menyusul ancaman Israel

Sebelumnya, pada Sabtu (4/4/2026), Israel mengumumkan akan melancarkan serangan terhadap penyeberangan Masnaa, yang menghubungkan Lebanon dan Suriah. Mereka mengklaim jalur tersebut digunakan oleh Hizbullah untuk kepentingan militer.
Pos-pos perbatasan segera dievakuasi menyusul ancaman Israel. Menurut laporan media, lokasi itu hampir sepenuhnya kosong pada Minggu pagi, hanya menyisakan beberapa petugas yang masih berjaga.
Di Suriah, Direktur Hubungan Masyarakat Otoritas Umum Perbatasan dan Bea Cukai, Mazen Aloush, mengatakan bahwa penyeberangan tersebut, yang dikenal sebagai Jdeidet Yabous di sisi Suriah, hanya khusus digunakan untuk keperluan sipil dan tidak pernah dimanfaatkan untuk tujuan militer. Ia menambahkan bahwa lalu lintas di penyeberangan tersebut akan dihentikan sementara akibat ancaman dari Israel.
3. Presiden Lebanon terus mengajak Israel untuk melakukan perundingan

Di tengah perang yang semakin memanas, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, kembali menyerukan perundingan dengan Israel untuk mengakhiri perang. Ia mengatakan bahwa dirinya ingin menyelamatkan Lebanon selatan dari kehancuran berskala besar seperti yang terjadi dalam perang genosida Israel di Gaza.
“Mengapa kita tidak bernegosiasi, setidaknya sampai kita bisa menyelamatkan rumah-rumah yang belum hancur?” kata Aoun dalam pidatonya.
Menurut analisis satelit terbaru oleh Pusat Satelit PBB, sekitar 81 persen dari seluruh bangunan di Jalur Gaza telah rusak atau hancur akibat serangan Israel sejak Oktober 2023. Perang tersebut juga menewaskan lebih dari 72 ribu warga Palestina.


















