Pesawat ERJ-170 Saudi Arabian Airlines di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh (DearEdward from New York, NY, USA, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)
Suasana tegang berlanjut hingga Senin malam saat ledakan kembali terdengar di Riyadh setelah koalisi pimpinan Saudi mencegat sebuah rudal Houthi, sementara kelompok tersebut mengklaim kembali menargetkan bandara. Koalisi juga mengumumkan telah mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik menuju Khamis Mushait, sementara Houthi mengaku menyerang pangkalan di kota tersebut menggunakan pesawat nirawak. Peringatan bahaya udara dari pemerintah yang berbunyi kencang di ponsel warga bahkan sempat menunda sepak mula pertandingan antara klub Uzbekistan Neftchi Fergana melawan Al Nassr.
Operasional Bandara Internasional King Khalid masih ditangguhkan pada Senin akibat rentetan serangan tersebut. Maskapai Etihad Airways membatalkan seluruh penerbangan ke dan dari Riyadh hingga pekan depan serta menangguhkan penerbangan ke Dammam dan Jeddah. Sementara itu, Gulf Air membatalkan penerbangan hingga Sabtu, dan operator penerbangan AS Delta menunda peluncuran rute langsung Atlanta-Riyadh yang semula dijadwalkan pada 23 Oktober 2026.
Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menyatakan peristiwa beberapa pekan terakhir telah menguji ketahanan infrastruktur, lembaga, dan rakyat kerajaan sehingga membutuhkan respons yang sama seriusnya. Terkait eskalasi yang terjadi, Kepala Hak Asasi Manusia PBB Volker Turk mengaku sangat terpukul oleh serangan berulang ke wilayah Saudi dan mendesak kedua pihak untuk mundur demi mencegah penderitaan tanpa akhir. Sementara itu, analis keamanan Universitas Ottawa Thomas Juneau menilai wilayah Arab Saudi terlalu luas sehingga mustahil bagi mereka untuk mempertahankan diri secara konsisten.