Comscore Tracker

Di Tengah Perang Ukraina, 20 Ribu Ton Pupuk Rusia Meluncur ke Afrika

Pengiriman pertama dari Belanda ke Malawi

Jakarta, IDN Times - Pengiriman pertama dari 260 Ribu ton pupuk Rusia yang disumbangkan ke Afrika mulai dilakukan dari pelabuhan Belanda, pada Selasa (29/11/2022). Pengiriman itu disampaikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan bea cukai Belanda.

Pupuk itu merupakan produksi dari perusahaan Rusia Uralchem-Uralkali yang disimpan di pelabuhan dan gudang di Eropa. Pengiriman itu merupakan bagian dari kesepakatan untuk mengatasi krisis pangan.

1. Sekitar 20 Ribu ton pupuk mulai dikirim ke Malawi

Melansir Africa News, pengiriman pertama mencapai 20 ton pupuk dan dikirim ke Malawi. Kapal kargo yang berisi pupuk itu akan dibongkar di pelabuhan Beira di Mozambik, sebelum diangkut melalui darat ke Malawi karena negara itu terkurung daratan.

Pupuk itu dikirim menggunakan kapal MV Greenwich, disewa oleh badan keamanan pangan PBB dan Program Pangan Dunia (WFP). Kapal itu meninggalkan pelabuhan Terneuzen di Belanda pada sekitar jam dua sore waktu setempat.

Pengiriman merupakan bagian dari implementasi dari dua perjanjian yang ditandatangani pada 22 Juli di Turkiye untuk menjamin akses tanpa hambatan dalam ekspor produk pangan dan pupuk dari Ukraina dan Rusia. Perjanjian itu dikenal sebagai Inisiatif Biji-bijian Laut Hitam, dan diperbarui pada 17 November untuk tambahan empat bulan.

Juru bicara Sekjen PBB Antonio Guterres, Stephane Dujarric, mengatakan bahwa pengiriman telah diusahakan tanpa hambatan.

"PBB telah melakukan upaya diplomatik yang intens dengan semua pihak untuk memastikan ekspor makanan dan pupuk esensial tanpa hambatan dari Ukraina dan Federasi Rusia, yang dibebaskan dari rezim ke pasar dunia," kata dia.

WFP pada pada pertengahan November telah mengumumkan akan memfasilitasi donasi 260 ribu ton Rusia. PBB pada 18 November juga telah menyampaikan bahwa pengiriman kedua pupuk Rusia akan ditujukan ke Afrika Barat.

Baca Juga: Pamer Kemesraan, Pesawat Bom Rusia-China Patroli Bareng di Pasifik

2. Krisis pupuk telah memengaruhi pangan

Melansir VOA News, Rusia merupakan salah satu negara utama pengekspor pupuk global. Namun, sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari, harga pupuk dunia, yang sudah melambung karena COVID-19, semakin meningkat. 

Menurut PBB, sebelumnya COVID-19 harga pupuk secara mengejutkan telah melonjak sebesar 250 persen. Kenaikan harga dan kelangkaan telah membuat pupuk tidak terjangkau bagi beberapa petani kecil, yang dapat menyebabkan penurunan hasil panen sehingga memicu krisis pangan. 

Kepala ekonom WFP, Arif Husain, mengatakan bahwa setengah dari produksi pangan negara maju dan berkembang bergantung dengan pupuk.

“Saat ini, dengan semua yang terjadi, pada dasarnya kami melihat kekurangan sekitar 66 juta ton bahan makanan pokok karena kekurangan atau keterjangkauan pupuk. Saya berbicara tentang tanaman seperti gandum, jagung, beras. Sekarang, 66 juta ton makanan itu cukup untuk memberi makan 3,6 miliar orang selama satu bulan," jelas dia. 

Dujarric menyamapaikan bahwa pengiriman pupuk Rusia akan membantu masalah pangan di Afrika.

“Ini akan berfungsi untuk meringankan kebutuhan kemanusiaan dan mencegah bencana hilangnya panen di Afrika, di mana saat ini sedang musim tanam," katanya.

3. Rusia menyalahkan sanksi atas penurunan ekspor pupuk

Di Tengah Perang Ukraina, 20 Ribu Ton Pupuk Rusia Meluncur ke AfrikaBendera Rusia. (PIxabay.com/IGORN)

Rusia menyampaikan bahwa penurunan ekspor pupuknya karena sanksi dari negara-negara Barat, tapi produk pertanian dan pupuk tidak termasuk dalam sanksi.

Ekspor terganggu karena beberapa perusahaan yang terlibat dalam ekspor produk pertanian dan pupuk Rusia, seperti kapal, bank, dan perusahaan asuransi, enggan berbisnis dengan Moskow karena khawatir akan melanggar sanksi.

Kementerian Luar Negeri Belanda menyampaikan, pengiriman sebelumnya terhenti karena individu yang terkena sanksi terlibat dengan perusahaan Rusia.

Pengiriman pupuk dilakukan setelah PBB menjamin bahwa ekspedisi itu akan diantarkan ke lokasi yang disepakati dan tidak melibatkan perusahaan atau individu Rusia yang terjerat sanksi. 

Baca Juga: NATO: Rusia Gunakan Musim Dingin sebagai Senjata Melawan Ukraina 

Ifan Wijaya Photo Verified Writer Ifan Wijaya

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Vanny El Rahman

Berita Terkini Lainnya