Aktivitas penerbangan di Teluk Persia dan Timur Tengah pada 26 Februari 2026, sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran. (Sumber: Flightradar24)
Yang membuat gangguan ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya bukan hanya skalanya, tapi jangkauannya. Berbeda dari konflik Timur Tengah sebelumnya yang biasanya terlokalisasi, serangan balasan Iran menyasar bukan hanya Israel, tapi juga UEA, Qatar, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, Oman, Yordania, dan Lebanon sekaligus. Akibatnya, bukan sekadar rute tertentu yang terdampak, tapi sebagian besar ruang udara kawasan ditutup total, memukul industri perjalanan global yang nilainya mencapai $12 triliun atau sekitar Rp197 ribu triliun.
Kawasan Teluk memang sangat bergantung pada lalu lintas udara. Pariwisata menyumbang sekitar 12 persen dari perekonomian UEA, sementara Bandara Internasional Dubai, tersibuk di dunia, mencatat rekor 95,2 juta penumpang sepanjang 2025. Jutaan pekerja migran asal India juga rutin melintasi koridor ini dengan penerbangan kurang dari tiga jam. Ketika serangan meledak akhir pekan lalu, Harteveldt menyebut ratusan pesawat terpaksa dihentikan dan dipindahkan ke luar jalur, beserta seluruh pilot dan awak kabinnya yang ikut terlantar jauh dari posisi seharusnya.