ilustrasi penelitian tentang virus (pexels.com/Martin Lopez)
Periode inkubasi penyakit Nipah berkisar antara 4-21 hari dengan durasi paling umum 5-14 hari. Gejala sering muncul secara tiba-tiba dan dapat berkembang menjadi berat karena virus menyerang sistem pernapasan dan saraf pusat yang kerap memicu peradangan otak akut.
Tanda-tanda yang umum ditemukan meliputi demam tinggi, nyeri kepala hebat, gangguan napas, kejang, gerakan tubuh tidak terkontrol, kelemahan atau kelumpuhan anggota gerak, kebingungan, perubahan perilaku, hingga penurunan kesadaran yang dapat berujung koma dalam waktu singkat 24-48 jam. Infeksi paru-paru juga sering menyertai kondisi tersebut.
Angka kematian akibat infeksi Nipah diperkirakan berada pada kisaran 40-75 persen dan jauh lebih tinggi dibandingkan banyak penyakit virus lain. Sebagian kecil pasien yang berhasil sembuh dilaporkan dapat mengalami radang otak kambuhan bertahun-tahun kemudian, bahkan lebih dari sepuluh tahun setelah terinfeksi pertama kali.
Catatan wabah pertama kali terjadi di Malaysia dan Singapura pada 1998 dengan lebih dari 250 orang terinfeksi, mayoritas pekerja peternakan babi dan rumah potong hewan, serta menelan korban jiwa lebih dari 100 orang. Sejak 2001, kasus kembali bermunculan di Bangladesh dan India, termasuk di Siliguri pada 2001, Bengal Barat pada 2007, serta berulang kali di Kerala mulai 2018 yang kini dinilai sebagai kawasan berisiko tinggi, dilansir dari NBC News.
Hingga saat ini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus yang telah disetujui untuk mengobati penyakit tersebut. Terapi yang diberikan masih sebatas penanganan suportif. Obat ribavirin pernah digunakan pada wabah 1999 di Malaysia, namun manfaatnya belum dapat dipastikan. Remdesivir memperlihatkan hasil menjanjikan sebagai langkah pencegahan pada primata dan membantu menekan angka kematian dalam wabah di Kerala 2023.
Sejumlah riset lain juga terus berjalan, termasuk pengembangan antibodi monoklonal m102.4 dari Australia yang telah lulus uji fase pertama pada 2020 dan menunjukkan keamanan pada sukarelawan sehat. Uji klinis fase kedua vaksin Nipah buatan Universitas Oxford telah dimulai di Bangladesh sejak Desember 2025.
Walaupun penyakit ini tergolong serius dan belum memiliki vaksin maupun terapi khusus yang tersedia luas, keterbatasan penularan dari manusia ke manusia membuat ancaman bagi masyarakat di luar wilayah terdampak tetap rendah. Negara-negara terkait terus melaksanakan pemantauan ketat dan menerapkan langkah pengendalian sesuai kebutuhan.