Presiden Prabowo Subianto memberikan pidato di Kejaksaan Agung (Kejagung) pada Jumat (10/4/2026). (IDN Times/Irfan Fathurohman)
Adapun kesediaan Prabowo menjadi mediator disampaikan lewat cuitan yang disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri. Publik terkejut membaca cuitan itu lantaran serangan baru terjadi pada Sabtu (28/2/2026). Ketika itu Iran terlihat tidak memiliki niat sama sekali untuk kembali duduk di meja perundingan.
"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif. Dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi,” kata Kemlu RI di akun X @Kemlu_RI, Sabtu (28/2/2026).
Sontak kritik mengalir deras dan dialamatkan ke Istana. Salah satu yang menyampaikan kritik terbuka terkait niat Prabowo menjadi mediator disampaikan oleh mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal.
Dino menilai, ide itu tidak realistis disampaikan ketika serangan militer baru terjadi. Ia pun mengaku heran mengapa Kementerian Luar Negeri tidak memfilter ide tersebut.
"Sebagai political scientist yang independen dan juga sebagai mantan diplomat Indonesia, saya heran kenapa ide ini tidak difilter dulu sebelum diumumkan karena sangat tidak realistis," ucap Dino melalui unggahan video di akun Instagram pribadinya, @dinopattidjalal, pada Ahad, 1 Maret 2026.
Salah satu alasan ide Prabowo menjadi mediator tidak realistis karena Pemerintah Iran belakangan ini tidak dekat dengan pemerintah Indonesia. Dino mencatat, dalam 15 bulan terakhir, Prabowo tidak pernah mengunjungi Iran ataupun bertemu dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
"Walaupun belakangan ini ada undangan dari Iran yang dilayangkan kepada Beliau," katanya.
Dino mengatakan, selama ini tidak pernah ada pertemuan bilateral di antara kedua pemimpin di negara ketiga, misalnya sewaktu Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT BRICS ataupun KTT D-8. Ia juga menyoroti bahwa Menteri Luar Negeri Sugiono juga tidak pernah melakukan kunjungan bilateral ke Teheran.
“Walaupun pernah bertemu sekali dengan Menlu Iran di Jenewa,” tutur dia.
“Dengan kata lain, belum ada suatu kedekatan atau trust dari pemerintah Iran terhadap pemerintah Indonesia sekarang ini,” imbuhnya.