Para pengunjuk rasa berkumpul dengan bendera nasional Iran selama demonstrasi untuk mendukung pemerintah dan menentang serangan AS dan Israel di luar sebuah masjid di Teheran pada 28 Februari 2026. (ATTA KENARE/AFP)
Ribuan orang berkumpul di pusat ibu kota Iran untuk berkabung, setelah kematian Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei pada Minggu (1/3/2026). Khamenei dipastikan dalam serangan besar-besaran pertama oleh Amerika Serikat dan Israel sejak Sabtu.
Para pelayat, yang berkumpul pada Minggu di Lapangan Enghelab (Revolusi), sebagian besar mengenakan pakaian hitam dan beberapa di antara mereka menangis, dilansir Al Jazeera. Sejumlah orang tampak mengibarkan bendera Iran dan memegang foto Khamenei, saat serangan AS-Israel berlanjut hingga hari kedua.
Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sejak 1989, tewas ketika kedua kekuatan tersebut berupaya menggulingkan pemerintah Iran. Televisi pemerintah Iran mengkonfirmasi kematian Khamenei pada Minggu pagi, beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pembunuhan ulama berusia 86 tahun itu yang ia gambarkan sebagai "salah satu orang paling jahat dalam sejarah".
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) berjanji akan memberikan hukuman "berat dan tegas" kepada "para pembunuh" Khamenei dalam sebuah pernyataan. IRGC menambahkan bahwa mereka akan melancarkan operasi "paling ganas" dalam sejarah terhadap Israel dan pangkalan-pangkalan AS, yang terletak di negara-negara Teluk yang sudah menanggung akibat dari serangkaian serangan mematikan Iran yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sementara itu, Irak mengumumkan masa berkabung selama tiga hari setelah kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Ia mengatakan pemerintah telah mengumumkan tiga hari masa berkabung.
"Dengan kesedihan mendalam, kami menyampaikan belasungkawa kepada rakyat Iran yang mulia dan seluruh dunia Muslim" ujar juru bicara pemerintah Irak, Bassem al-Awadi.