ilustrasi serangan (unsplash.com/Mohammed Ibrahim)
Namun, Iran kini memutuskan untuk kembali menutup Selat Hormuz secara penuh. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes karena AS masih memblokade semua pelabuhan milik mereka. Imbas blokade ini, kapal-kapal jadi tidak bisa masuk dan keluar dari pelabuhan Iran.
Sebagai informasi, Iran mulai menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Sejak saat itu, Iran mulai meningkatkan pengamanan dan melarang kapal-kapal dagang, termasuk kapal minyak, untuk berlayar di sana.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran ini lantas membuat pasokan minyak dari Timur Tengah ke pasar global terhambat. Ini terjadi karena banyak kapal yang tertahan di selat tersebut sehingga tidak bisa mengekspor minyak dari Timur Tengah ke pasar global. Hambatan ini praktis membuat harga minyak global sempat melambung tinggi. Pada Maret lalu, misalnya, harga minyak global naik hingga mencapai 120 dolar AS atau sekitar Rp2 juta per barel. Itu merupakan kenaikan harga minyak tertinggi yang pernah terjadi dalam sejarah.