Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jepang Bantah Tuduhan Jurnalisnya Jadi Mata-mata di Rusia
Sanae Takaichi mengisi acara di Prefektur Fukuoka (x.com/@takaichi_sanae)
  • Jepang membantah tuduhan Rusia bahwa jurnalis Hokkaido Shimbun, Yuki Imai, melakukan spionase setelah ia ditangkap FSB di Pulau Sakhalin dan ditahan dua bulan.
  • Tokyo memprotes penahanan Imai dengan memanggil Duta Besar Rusia, meminta akses konsuler segera, sementara pemerintah Jepang mengaku belum dapat menghubungi jurnalis tersebut.
  • Kasus ini terjadi di tengah hubungan Jepang-Rusia yang tegang akibat sengketa Kepulauan Kuril, sanksi Jepang terkait Ukraina, serta penguatan militer Rusia di wilayah sengketa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Jepang menolak tuduhan spionase yang dialamatkan kepada warganya di Rusia menyusul penangkapan seorang jurnalis di wilayah Timur Jauh. Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Rusia mengidentifikasi jurnalis surat kabar Hokkaido Shimbun tersebut sebagai Yuki Imai.

“Tidak ada fakta seperti itu,” kata Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi di hadapan awak media, dikutip CNA.

Pihak Hokkaido Shimbun mengaku telah menerima informasi mengenai pengumuman resmi Moskow dan sedang memeriksa detail kejadian. Media tersebut juga menyatakan keselamatan jurnalisnya menjadi prioritas utama serta akan mengambil langkah sesuai prosedur internal.

1. Rusia menangkap jurnalis Jepang di Pulau Sakhalin

ilustrasi pelaku kejahatan tertangkap polisi (pexels.com/Kindel Media)

Dinas Keamanan Federal (FSB) Rusia menangkap Imai di Pulau Sakhalin, wilayah yang terletak dekat Kepulauan Kuril. Menurut laporan Deutsche Welle (DW), Imai memiliki visa resmi dan telah dijadwalkan meninggalkan Rusia sebelum penangkapan terjadi.

Rekaman televisi pemerintah Rusia memperlihatkan Imai diborgol oleh tiga petugas bertopeng sebelum dibawa ke pesawat oleh agen FSB. Pengadilan di Moskow kemudian memutuskan penahanannya selama dua bulan.

Penangkapan tersebut menambah daftar warga asing yang ditahan Moskow dalam beberapa tahun terakhir. Juru Bicara Kemlu Rusia Maria Zakharova menuduh Jepang menggunakan jurnalis terakreditasi untuk mengumpulkan informasi sensitif terkait pertahanan.

Zakharova juga menyatakan Rusia mengambil tindakan tegas terhadap warga negara yang berasal dari negara-negara yang dianggap tidak bersahabat.

2. Jepang memprotes penahanan kepada Duta Besar Rusia

ilustrasi penjara (pexels.com/RDNE Stock project)

Pemerintah Jepang melayangkan protes diplomatik dengan memanggil Duta Besar (Dubes) Rusia Nikolay Nozdrev. Kemlu Jepang menyampaikan keberatan atas penahanan Imai sekaligus tindakan Moskow yang mengeluarkan pernyataan sepihak sebelum memberikan penjelasan resmi kepada Tokyo.

Kepala Sekretaris Kabinet Minoru Kihara mengungkapkan bahwa pemerintah Jepang belum dapat menghubungi Imai dan baru mengetahui kasus tersebut melalui pengumuman resmi Moskow. Kepala Biro Urusan Eropa Kemlu Jepang Kimitake Nakamura juga meminta Nozdrev segera memfasilitasi akses untuk pertemuan konsuler.

Takaichi menyebut perbedaan sistem hukum domestik kedua negara membuat rincian tuduhan terhadap Imai belum diketahui secara jelas. Ia menekankan pentingnya perlindungan warga negara Jepang dan menyatakan pemerintahnya akan menyampaikan sikap secara tegas.

3. Sengketa Kepulauan Kuril memperburuk hubungan Jepang-Rusia

peta Kepulauan Kuril (NormanEinstein, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Penangkapan Imai berlangsung di tengah ketegangan hubungan Jepang dan Rusia akibat sengketa Kepulauan Kuril. Jepang menyebut wilayah tersebut sebagai Wilayah Utara, sedangkan Rusia telah menguasainya sejak akhir Perang Dunia II sehingga kedua negara belum pernah menandatangani perjanjian damai.

Hubungan kedua negara semakin memburuk setelah Jepang bergabung dengan negara-negara Barat dalam menjatuhkan sanksi terhadap Rusia menyusul konflik di Ukraina. Sebagai respons, Moskow memperkuat kehadiran militernya di Kepulauan Kuril melalui pengerahan sistem rudal, perluasan landas pacu, dan latihan tembak rutin.

Ketegangan kembali meningkat ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi salah satu pulau yang disengketakan pada Agustus. Kunjungan tersebut menjadikan Putin sebagai pemimpin Rusia kedua yang pernah menginjakkan kaki di wilayah itu dan menuai kecaman dari Tokyo.

Takaichi menolak kunjungan tersebut dengan menyampaikan kecaman keras.

“Sama sekali tak dapat diterima,” tegasnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article