Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

PM Jepang Ungkap Jadi Pemimpin Perempuan Lebih Sibuk Dibanding Pria

4 min read
PM Jepang Ungkap Jadi Pemimpin Perempuan Lebih Sibuk Dibanding Pria
Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, berpidato di hadapan Dewan Perwakilan Rakyat pada hari pertama sidang luar biasa Parlemen di Tokyo, pada 5 Oktober 2026. (x.com/takaichi_sanae)
  • Sanae Takaichi mengaku menghabiskan tiga hingga empat jam lebih banyak untuk pekerjaan rumah tangga dibandingkan perdana menteri laki-laki.

  • Jadwal pemerintahan yang padat membuat Takaichi kesulitan menyediakan waktu untuk memikirkan arah masa depan Jepang secara mendalam.

  • Pengakuannya menyoroti tanggung jawab domestik dan masih terbatasnya keterwakilan perempuan dalam politik Jepang.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengaku menghabiskan waktu tiga hingga empat jam lebih banyak dibandingkan pendahulunya yang laki-laki untuk mengurus pekerjaan rumah tangga di tengah padatnya jadwal pemerintahan. Ia menyampaikan hal tersebut dalam sidang parlemen Jepang pada Rabu (14/10/2026).

“Pada pagi hari, saya mandi, menyiapkan sarapan, lalu mencuci piring, belum lagi merias wajah,” kata Takaichi kepada anggota parlemen, dikutip dari AFP.

“Saya merasa menghabiskan waktu tiga atau empat jam lebih banyak dibandingkan perdana menteri laki-laki untuk melakukan hal-hal tersebut,” lanjutnya.

Takaichi, yang menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai perdana menteri Jepang, dikenal sebagai sosok yang sangat mengutamakan pekerjaan. Ia sebelumnya mengungkapkan, dirinya hanya tidur dua hingga empat jam setiap malam dan terkadang menjadwalkan rapat dengan staf pada pukul 03.00.

Pengakuan tersebut menyoroti tantangan membagi waktu antara tanggung jawab domestik dan pekerjaan politik di Jepang, negara yang masih memiliki pembagian peran gender relatif kaku serta keterwakilan perempuan yang rendah dalam politik.

  1. 1. Takaichi ungkap rutinitasnya pagi hingga malam

    PM Jepang Sanae Takaichi
    PM Jepang Sanae Takaichi (内閣広報室|Cabinet Public Affairs Office, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)

    Takaichi menyampaikan pengakuan itu ketika seorang anggota koalisi pemerintah menanyakan jam kerja panjang yang lazim dijalani perdana menteri Jepang, termasuk menghadiri berbagai sidang parlemen.

    Di tengah jadwal tersebut, Takaichi mengatakan masih harus mengurus sejumlah pekerjaan rumah tangga, mulai dari menyiapkan sarapan hingga mencuci piring. Ia juga menyebut kegiatan merias wajah sebagai bagian dari rutinitas pagi yang perlu diselesaikannya sebelum menjalankan tugas pemerintahan.

    Pernyataan Takaichi menggambarkan bagaimana tanggung jawab domestik dapat menambah beban waktu bagi seorang pemimpin perempuan yang sudah memiliki jadwal kerja padat. Namun, ia tidak merinci bagaimana pembagian pekerjaan rumah tangga tersebut dilakukan ataupun apakah ada perubahan dalam rutinitasnya sejak menjabat sebagai perdana menteri.

    Takaichi sebelumnya juga pernah mengungkapkan kesibukannya melalui media sosial X pada Juli. Saat itu, ia mengatakan kerap menghabiskan waktu hingga dini hari untuk membaca dokumen yang dibawa pulang dari kantor serta bahan terkait pertanyaan dalam sidang parlemen.

    Unggahan tersebut memperlihatkan bahwa pekerjaan pemerintahan tidak berhenti ketika ia meninggalkan kantor. Dokumen dan persiapan sidang tetap menjadi bagian dari rutinitasnya di rumah, di tengah tanggung jawab domestik yang ia ceritakan kepada parlemen.

  2. 2. Akui sulit punya waktu berpikir jernih

    Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (x.com/takaichi_sanae)
    Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (x.com/takaichi_sanae)

    Meski mengaku menikmati pekerjaannya, Takaichi mengatakan padatnya rutinitas membuatnya kesulitan menyediakan waktu untuk memikirkan arah masa depan Jepang secara mendalam.

    “ Saya memang menikmati membaca tumpukan dokumen yang saya bawa pulang dari kantor pada tengah malam,” ujar Takaichi dalam sidang parlemen.

    “ Tetapi, sulit bagi saya menyisihkan waktu untuk benar-benar duduk dan berpikir dengan pikiran jernih mengenai arah masa depan negara ini atau visi besar saya untuknya,” lanjutnya.

    Pernyataan itu menunjukkan persoalan yang dihadapinya bukan hanya panjangnya jam kerja, tetapi juga terbatasnya waktu untuk menyusun pemikiran strategis di tengah berbagai tuntutan harian. Membaca dokumen hingga larut malam menjadi bagian dari rutinitasnya, sementara waktu untuk memikirkan agenda jangka panjang negara justru sulit didapatkan.

    Takaichi dikenal sebagai sosok yang mengabdikan banyak waktu untuk pekerjaan. Ia sebelumnya mengatakan hanya tidur dua hingga empat jam setiap malam. Dalam sejumlah kesempatan, ia bahkan menjadwalkan pertemuan dengan staf pada pukul 03.00.

    Meski demikian, belum ada keterangan mengenai apakah Takaichi berencana mengubah pola kerjanya. Pernyataannya di parlemen lebih berfokus pada tantangan mengatur waktu di tengah kewajiban domestik dan tanggung jawab sebagai kepala pemerintahan.

  3. 3. Keterwakilan perempuan di politik Jepang masih rendah

    Potret Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bersama parlemen Jepang. (x.com/takaichi_sanae)
    Potret Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi bersama parlemen Jepang. (x.com/takaichi_sanae)

    Pengakuan Takaichi turut menyoroti konteks kesetaraan gender di Jepang. Meski kini dipimpin seorang perempuan, keterwakilan perempuan di lembaga politik negara tersebut masih terbatas.

    Dalam pemilihan majelis rendah parlemen Jepang pada Februari, hanya 68 perempuan yang terpilih dari total 465 kursi yang diperebutkan. Angka tersebut menggambarkan masih rendahnya keterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif Jepang.

    Perempuan di Jepang juga masih menghadapi ekspektasi sosial terkait peran domestik. Dalam konteks tersebut, pernyataan Takaichi mengenai waktu yang dibutuhkan untuk mengurus rumah tangga menjadi sorotan karena ia menyampaikannya sebagai kepala pemerintahan dengan jadwal kerja yang sangat padat.

    Takaichi terpilih sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang pada tahun sebelumnya. Posisi tersebut menempatkannya sebagai figur penting dalam politik Jepang, meskipun keterwakilan perempuan secara lebih luas masih menjadi tantangan.

    Pernyataannya tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh hambatan yang dihadapi perempuan Jepang di dunia kerja maupun politik. Namun, pengakuan itu memperlihatkan bagaimana pekerjaan domestik dapat menjadi tambahan tuntutan waktu bahkan bagi seseorang yang menduduki jabatan tertinggi di pemerintahan.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More