Kamerun Minati Sawit RI, Indonesia Bidik Peluang Dagang Baru

Kamerun menyampaikan ketertarikan mengimpor sawit Indonesia, tetapi pembahasannya masih menunggu informasi mengenai kebijakan ekspor sawit.
Indonesia menargetkan transaksi perdagangan tahun ini minimal menyamai capaian tahun lalu sebesar 19,5 juta dolar AS.
Peluang kerja sama juga mencakup perkeretaapian, pupuk, suku cadang kendaraan, transportasi sungai, dan industri perkapalan.
Jakarta, IDN Times - Indonesia menjajaki peluang memperluas perdagangan dengan Kamerun dan negara-negara Afrika Tengah, mulai dari kelapa sawit, pupuk, suku cadang kendaraan, hingga teknologi perkeretaapian. Peluang tersebut muncul seiring meningkatnya minat pelaku usaha di kawasan itu untuk menjalin kemitraan dengan perusahaan Indonesia.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamerun dan kawasan Afrika Tengah, Agung Cahaya Sumirat, mengungkapkan sejumlah pihak di Kamerun telah menyampaikan ketertarikan untuk mengimpor kelapa sawit dari Indonesia. Namun, rencana tersebut masih memerlukan tindak lanjut karena pemerintah Indonesia sedang membenahi tata kelola ekspor sawit.
“Terus terang, saya juga mendapat berbagai pertanyaan dan ketertarikan untuk mengimpor kelapa sawit dari Indonesia. Tetapi, saya juga tahu bahwa sedang ada upaya tata kelola ekspor sawit dari Indonesia. Saya mohon mereka bersabar,” kata Agung dalam konferensi pers mengenai rencana partisipasi delegasi Kamerun dan Afrika Tengah di Trade Expo Indonesia (TEI) di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Selain sawit, peluang kerja sama juga terbuka di sektor transportasi. Agung mengatakan Menteri Transportasi Kamerun menunjukkan minat terhadap pengembangan perkeretaapian, sementara sejumlah perusahaan di Kamerun turut mengajukan pertanyaan bisnis mengenai pupuk, suku cadang sepeda motor dan mobil, serta transportasi sungai.
Indonesia berharap rangkaian pertemuan bisnis tahun ini dapat menghasilkan transaksi yang setidaknya menyamai capaian tahun lalu, yakni 19,5 juta dolar AS. Target tersebut masih berupa harapan, sementara pembicaraan dan penjajakan dengan calon mitra usaha masih berlangsung.
1. Kamerun tertarik impor sawit, tetapi menunggu kepastian ekspor

kebun sawit (unsplash.com/Kawê Rodrigues) Agung menjelaskan, minat Kamerun terhadap kelapa sawit menjadi salah satu peluang perdagangan yang tengah ditindaklanjuti oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yaounde. Meski demikian, ia menegaskan bahwa ketertarikan tersebut belum berarti kesepakatan impor sudah tercapai.
Ia berencana kembali berkomunikasi dengan calon mitra setelah memperoleh informasi lebih lanjut mengenai kebijakan ekspor Indonesia. Agung juga ingin mengumpulkan pihak-pihak yang berminat agar pembahasan dapat dilakukan secara lebih terarah.
“Saya ke Jakarta dulu, saya mencari amunisi dulu. Nanti saya bisa jawab mereka, saya akan kumpulkan mereka,” ujarnya.
Menurut Agung, KBRI Yaounde selama ini berupaya mempertemukan perusahaan Kamerun dengan calon mitra di Indonesia. Ketika menerima permintaan informasi bisnis atau business inquiry, pihaknya mencoba mengidentifikasi perusahaan yang memiliki minat serupa dan mempertemukan mereka melalui pertemuan daring.
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut dilakukan dengan mengelompokkan calon mitra berdasarkan sektor usaha, seperti pertanian dan peternakan, konstruksi, serta ekonomi kreatif. Dengan begitu, perusahaan yang memiliki kebutuhan dan kepentingan serupa dapat membahas peluang kerja sama secara langsung.
“Setiap ada permintaan business inquiry dari Kamerun, kami coba bergerak untuk mencari mitranya di Indonesia dan langsung kami tawarkan Zoom meeting,” kata Agung.
Ia menilai, kesediaan pelaku usaha Kamerun datang ke Indonesia dengan biaya sendiri menjadi salah satu indikator mereka serius menjajaki peluang kemitraan. Menurutnya, harga tiket perjalanan yang tidak murah tidak menyurutkan minat mereka untuk mengikuti kegiatan perdagangan di Indonesia.
Agung juga mengungkapkan adanya ketertarikan dari pihak Kamerun untuk mempelajari teknologi pengembangan kelapa sawit Indonesia. Bahkan, sejumlah perusahaan Indonesia telah memiliki nota kesepahaman dengan pemerintah Kamerun untuk kerja sama penelitian di sektor tersebut.
Menurut Agung, hubungan kedua negara di bidang sawit memiliki keunikan karena tanaman tersebut berasal dari kawasan Afrika Barat. Ia juga menyebut perusahaan Indonesia secara berkala mendatangkan kumbang penyerbuk kelapa sawit dari Afrika Barat untuk mendukung proses penyerbukan di perkebunan.
2. RI bidik transaksi perdagangan minimal 19,5 juta dolar AS

ilustrasi neraca perdagangan (pexels.com/RDNE Stock project) Selain peluang sawit, Indonesia menargetkan peningkatan perdagangan melalui penyelenggaraan forum bisnis dan pertemuan langsung antara pelaku usaha kedua negara. Agung mengatakan target yang dipasang untuk tahun ini setidaknya menyamai transaksi pada tahun sebelumnya.
“Kalau bicara angka pasti, terus terang saya belum mampu. Tapi saya bisa bilang minimal targetnya seperti tahun lalu, 19,5 juta dolar AS,” ujarnya.
Pada penyelenggaraan forum bisnis tahun lalu, Indonesia dan mitra dari kawasan Afrika Tengah menyepakati sekitar enam nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU), dengan nilai kerja sama mencapai 19,5 juta dolar AS. Kerja sama tersebut terutama mencakup sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Untuk tahun ini, Agung menyebut terdapat empat potensi MoU yang menurut perkiraan sementara memiliki peluang sekitar 80 persen untuk ditandatangani. Bidang yang dibahas terutama pertanian dan pupuk, termasuk pupuk organik.
Kamerun membutuhkan pupuk untuk meningkatkan kapasitas produksi pertaniannya. Agung mengatakan kebutuhan tersebut menjadi salah satu peluang bagi perusahaan Indonesia yang ingin memperluas pasar di Afrika Tengah.
“Tadi saya bilang, potensi MoU yang ada sementara ini ada empat yang 80 persen kemungkinan akan ditandatangani. Ini nanti masih berlanjut dengan proses matchmaking yang ada di Tangerang Selatan maupun di Business Forum Indonesia,” kata Agung.
Ia juga menuturkan, setelah delegasi Kamerun mengikuti TEI tahun lalu, sejumlah asosiasi bisnis dari negara tersebut berinisiatif mengadakan kunjungan dagang sendiri ke Indonesia. KBRI kemudian membantu mempertemukan mereka dengan kementerian dan perusahaan yang relevan.
Menurut Agung, pemerintah berperan mendorong, memfasilitasi, dan menjembatani kebutuhan pelaku usaha. Ia juga berhati-hati untuk tidak menjanjikan angka transaksi yang belum pasti karena realisasi bisnis tetap bergantung pada hasil pembicaraan dan keputusan perusahaan.
3. Kereta api, suku cadang, dan transportasi sungai ikut dibidik

PT Industri Kereta Api (INKA) melakukan pemeliharaan 31 rangkain kereta (trainset) LRT Jabodebek. (dok. LRT Jabodebek) Di luar sektor pertanian dan perkebunan, Indonesia juga menjajaki peluang kerja sama transportasi. Agung mengatakan dirinya telah bertemu dengan Menteri Transportasi Kamerun sekitar tiga minggu sebelum konferensi pers tersebut.
“Dia sangat berminat untuk masalah railway. Di Kamerun juga sedang berusaha terus mengembangkan railway. Sistemnya sudah ada, tetapi ingin terus dikembangkan,” kata Agung.
Dalam pertemuan tersebut, Agung menjelaskan kemampuan Indonesia dalam pengembangan sistem perkeretaapian. Menurutnya, peluang kerja sama tidak terbatas pada pengadaan lokomotif, tetapi juga mencakup sistem perkeretaapian secara keseluruhan.
Setelah TEI, ia berencana kembali berkomunikasi dengan pihak Kamerun dan berupaya menghubungkan peluang tersebut dengan Kementerian Perhubungan Indonesia. Namun, pembahasan itu masih berada dalam tahap penjajakan dan belum menjadi kesepakatan proyek.
Selain kereta api, KBRI Yaounde juga memetakan permintaan bisnis mengenai suku cadang sepeda motor dan mobil. Agung menilai Indonesia memiliki kemampuan untuk memasok berbagai produk tersebut kepada mitra di Kamerun.
Peluang lain yang ingin dijajaki adalah transportasi sungai dan industri perkapalan. Agung menyebut sungai-sungai di Kamerun berukuran besar dan membutuhkan dukungan transportasi yang memadai.
“Saya juga akan mencoba nantinya menghubungi PT PAL dan bukan hanya PT PAL, tetapi juga industri kapal swasta yang saya tahu berkembang di Indonesia,” ujarnya.
Untuk memperkuat hubungan dagang dalam jangka panjang, Indonesia juga membuka peluang pembahasan perjanjian perdagangan, termasuk Preferential Trade Agreement (PTA) atau Comprehensive Economic Partnership Agreement(CEPA). Namun, Agung mengatakan pemerintah memilih pendekatan bertahap dengan memperbanyak kunjungan bisnis dan membangun konsultasi reguler antarpemerintah sebelum melangkah lebih jauh.






















