Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kasus Ebola di Kongo Bertambah, 1.077 Orang Diduga Terinfeksi
ilustrasi wabah Ebola (pexels.com/CDC)
  • Kementerian Kesehatan DRC melaporkan 1.077 kasus dugaan infeksi Ebola dengan 121 kasus terkonfirmasi dan 220 kematian, disertai pengawasan ketat untuk menekan penyebaran.
  • Wabah Ebola telah menjangkiti 13 wilayah di tiga provinsi DRC, dengan lebih dari 3.600 orang berisiko tinggi setelah kontak langsung dengan pasien terinfeksi.
  • WHO menetapkan wabah Ebola di DRC sebagai darurat kesehatan internasional karena potensi penyebaran lintas negara, sementara Uganda menutup perbatasan untuk mencegah penularan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Kasus infeksi virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) makin bertambah. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) DRC, saat ini, ada sekitar 1.077 orang yang diduga terinfeksi Ebola. Dari jumlah tersebut, 121 di antaranya telah dikonfirmasi terinfeksi virus mematikan tersebut. 

Kemenkes DRC menegaskan akan terus melakukan pengawasan ketat terhadap seluruh warga yang terinfeksi Ebola. Ini dilakukan agar penyebaran tidak makin masif. Terlebih, korban tewas imbas wabah ini sudah mencapai 220 orang.  

“Operasi pengawasan, penyaringan, dan penyadaran masyarakat tetap diintensifkan meskipun terdapat tantangan operasional yang dilaporkan di lapangan,” bunyi pernyataan resmi Kemenkes DRC pada Rabu (27/5/2026) dilansir Anadolu Agency.

1. Wabah Ebola sudah menyebar ke 13 wilayah di DRC

potret virus Ebola (unsplash.com/National Institute of Allergy and Infectious Diseases)

Saat ini, wabah Ebola sudah menyebar ke 13 wilayah di 3 provinsi yang ada di DRC, yakni Provinsi Ituri, Kifu Selatan, dan Kifu Utara. Menurut Menteri Kesehatan DRC, Roger Kamba, penyebaran Ebola terjadi cukup cepat karena ada banyak warga yang melakukan kontak dengan orang yang sudah terinfeksi.

Saat ini, ada 3.600 warga DRC yang telah melakukan kontak dengan suspek Ebola. Mereka berisiko tinggi terinfeksi virus tersebut jika tidak segera ditangani pihak medis. Jika tidak ditangani, mereka juga bisa meninggal dunia. 

Oleh karena itu, Menkes Kamba mewanti-wanti seluruh warga DRC untuk tetap waspada dan jangan melakukan kontak sembarangan dengan orang lain. Ini bertujuan agar kasus infeksi tidak makin bertambah. 

2. WHO sudah menetapkan wabah Ebola di DRC sebagai darurat internasional

logo WHO (pixabay.com/padrinan)

Pada 17 Mei lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menetapkan wabah Ebola di DRC sebagai darurat kesehatan internasional. Menurut WHO, status ini ditetapkan karena wabah Ebola di DRC berpotensi menyebar ke negara lain, terutama ke negara-negara di Afrika. 

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), ada sepuluh negara yang berisiko tinggi terpapar wabah Ebola dari DRC. Mereka adalah Rwanda, Kenya, Tanzania, Angola, Burundi, Republik Afrika Tengah, Republik Kongo, Ethiopia, Sudan Selatan, dan Zambia. 

Sebetulnya, wabah Ebola kini sudah menyebar ke Uganda. Namun, kasus wabah di negara itu tidak separah di DRC. Untuk mengatasi penyebaran Ebola, Uganda akhirnya menutup perbatasannya dengan DRC dan negara-negara tetangga lainnya. Ini bertujuan agar wabah Ebola tidak semakin menyebar ke Uganda lewat orang-orang yang berdatangan dari wilayah perbatasan.

3. Wabah Ebola sudah sering terjadi di DRC

potret pedesaan di Republik Demokratik Kongo (DRC) (pexels.com/Hervé Kashama)

Wabah Ebola sendiri sudah sering terjadi di DRC. Sebab, wilayah DRC yang dipenuhi hutan hujan tropis sangat cocok untuk perkembangan virus Bundibugyo yang menyebabkan Ebola. Selain itu, sistem layanan kesehatan yang masih rapuh juga membuat Ebola dengan mudah menyebar di DRC.

Kali ini, wabah Ebola di DRC pertama kali terjadi di daerah Mongbwalu, salah satu wilayah yang ada di Provinsi Ituri. Setelah itu, wabah kemudian menyebar ke wilayah lainnya, seperti Bunia dan Rwampara. Kemudian, wabah menyebar ke negara tetangga DRC, yakni Uganda.

Sebetulnya, DRC sudah terbiasa menghadapi wabah Ebola. Namun, mereka kerap kali mengalami kesulitan logistik dan kekurangan pasokan alat-alat medis untuk para pasien wabah tersebut. Inilah yang membuat korban wabah Ebola di DRC jadi cukup banyak. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article