Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kasus Penipuan Wisatawan Asing di Korsel Melonjak Hampir 4 Kali Lipat
ilustrasi memfoto tempat wisata (pexels.com/Haley Black)
  • Kasus penipuan terhadap wisatawan asing di Korea Selatan melonjak hampir empat kali lipat dari 5.307 kasus pada 2023 menjadi 19.907 kasus pada 2025, banyak terkait transaksi K-pop dan tiket konser.
  • Lima negara Asia Tenggara mengeluarkan peringatan perjalanan agar warganya waspada terhadap penipuan tiket konser dan akomodasi palsu yang marak melalui media sosial serta aplikasi pesan singkat.
  • Otoritas Korsel memperketat pengawasan di acara besar setelah muncul penipuan tiket pesawat dan situs palsu, sementara agen perjalanan memperkuat verifikasi pembayaran demi melindungi wisatawan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times – Kasus penipuan yang menyasar wisatawan mancanegara di Korea Selatan (Korsel) meningkat tajam di tengah popularitas gelombang budaya (K-Wave). Data Badan Kepolisian Nasional Korea Selatan yang dirilis pada Minggu (21/6/2026) menunjukkan laporan penipuan yang melibatkan korban warga negara asing melonjak dari 5.307 kasus pada 2023 menjadi 19.907 kasus pada 2025.

Sejumlah kasus berkaitan dengan transaksi barang dagangan K-pop dan tiket konser. Penggemar dari luar negeri biasanya mengirim dana kepada perantara lokal untuk melakukan pembelian karena mereka kurang memahami bahasa dan sistem belanja daring di Korsel. Namun, pelaku kerap menghilang setelah pembayaran diterima.

1. Polisi Busan menemukan penipuan saat konser BTS

Bangtan Boys tampil di KCON Prancis di Paris pada 2 Juni 2016. (Korea.net / Korean Culture and Information Service, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons)

Kasus serupa juga muncul ketika konser BTS digelar di Busan pada 12 dan 13 Juni 2026. Kepolisian setempat mencatat lima dari tujuh laporan kejahatan yang diajukan warga negara asing di lokasi tersebut merupakan penipuan. Sementara itu, Sistem Pengetahuan dan Informasi Pariwisata Korea mencatat jumlah wisatawan internasional ke Korsel mencapai rekor 18,94 juta pada 2025, naik 71,7 persen dibandingkan 11,03 juta pada 2023.

Anggota parlemen dari Partai Demokrat yang berkuasa, Kim Jun-hwan, menyampaikan perlunya perlindungan yang lebih kuat bagi pengunjung internasional.

“Seiring semakin banyak warga negara asing mengunjungi Korea Selatan untuk merasakan budaya Korea, langkah-langkah yang lebih kuat diperlukan untuk mencegah mereka menjadi korban kejahatan,” ujar Kim Jun-hwan, dikutip The Straits Times.

Jun-hwan juga menyoroti pentingnya kerja sama yang lebih erat di antara lembaga pemerintah untuk melindungi wisatawan asing.

2. Negara Asia Tenggara mengeluarkan peringatan perjalanan

ilustrasi beberapa bendera negara di Asia (pexels.com/Thể Phạm)

Media Traveler melaporkan Thailand, Filipina, Vietnam, Indonesia, dan Malaysia telah menerbitkan peringatan perjalanan. Otoritas di lima negara tersebut meminta masyarakat mewaspadai penipuan tiket K-pop dan pemesanan akomodasi yang membidik penggemar yang hendak menuju Seoul.

Pelaku umumnya memanfaatkan media sosial dan aplikasi pesan singkat untuk menjalankan aksinya. Mereka menggunakan foto dari sumber resmi untuk menawarkan tiket maupun paket wisata, kemudian mendesak korban agar segera mengirim uang melalui transfer bank atau dompet digital.

Akibat praktik tersebut, sebagian korban menerima kode QR palsu, menghadapi kegagalan konfirmasi saat tiba di lokasi konser, atau mendapati layanan dalam paket perjalanan seperti penerbangan dan hotel tak tersedia sesuai pesanan.

3. Otoritas Korsel memperketat pengawasan acara besar

ilustrasi pesawat (pexels.com/Pixabay)

Traveler juga menghimpun laporan mengenai penipuan pemesanan tiket pesawat pada rute populer dari Asia Tenggara menuju Seoul. Kasus tersebut melibatkan penerbangan yang dioperasikan Thai Airways, Cebu Pacific, Vietnam Airlines, AirAsia, dan Garuda Indonesia. Pelaku membuat situs palsu atau berpura-pura menjadi agen perjalanan untuk menerbitkan reservasi fiktif maupun memakai data kartu curian dalam transaksi.

Masalah itu sering baru diketahui penumpang ketika menjalani proses check-in di bandara. Menanggapi situasi tersebut, otoritas Korsel meningkatkan penyelidikan di sekitar lokasi acara berskala besar, sedangkan agen perjalanan dan perusahaan asuransi di Asia Tenggara memperkuat pemeriksaan pembayaran serta kejelasan polis.

Spesialis perjalanan menyarankan penggemar menggunakan saluran penjualan resmi, memilih pembayaran dengan kartu kredit agar proses sengketa transaksi lebih mudah, menyimpan bukti komunikasi, serta memeriksa langsung kode reservasi kepada maskapai.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article