Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Starbucks Korsel Tutup Sementara 2.000 Gerai Usai Blunder Promosi

Starbucks Korsel Tutup Sementara 2.000 Gerai Usai Blunder Promosi
logo Starbucks (pexels.com/Kate Trysh)
Intinya Sih
  • Starbucks Korea menutup lebih dari 2.000 gerai setelah promosi tumbler bertema “Tank Day” memicu kontroversi karena bertepatan dengan peringatan tragedi Gwangju dan dianggap tidak sensitif secara historis.
  • Perusahaan menghadapi boikot besar, pemecatan direktur utama, serta penyelidikan pidana terhadap pimpinan Shinsegae Group akibat lemahnya pengawasan kampanye yang melibatkan kecerdasan buatan dalam pembuatan slogan.
  • Sebagai tanggung jawab, seluruh pegawai mengikuti pelatihan sejarah dan sensitivitas sosial, sementara petinggi perusahaan menyampaikan permintaan maaf publik atas insiden yang menyebabkan kerugian penjualan jutaan dolar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN TimesStarbucks Korea memutuskan menghentikan operasional lebih dari 2 ribu gerainya di Korea Selatan (Korsel) pada Senin (22/6/2026) mulai pukul 15.00 waktu setempat. Penutupan nasional pertama sejak perusahaan beroperasi pada 1999 itu dilakukan agar seluruh pegawai mengikuti pelatihan wajib mengenai sejarah modern dan sensitivitas sosial.

Dilansir The Guardian, kontroversi bermula setelah afiliasi E-Mart milik Shinsegae Group selaku pemegang lisensi Starbucks di Korsel meluncurkan promosi tumbler seri “Tank Day” pada 18 Mei 2026. Tanggal tersebut bertepatan dengan peringatan Pemberontakan Gwangju 1980, ketika militer Chun Doo-hwan mengerahkan pasukan payung dan tank untuk membubarkan demonstrasi pro-demokrasi yang menewaskan ratusan orang.

Sorotan publik bertambah setelah promosi itu memakai slogan “thwack on the desk” atau “gebrak meja”. Bagi masyarakat Korsel, ungkapan tersebut mengingatkan pada klaim palsu otoritas bentukan militer terkait kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chul yang meninggal akibat penyiksaan pada 1987.

1. Starbucks Korea menghadapi boikot besar

logo Starbucks (pexels.com/Hendry and Co.)
logo Starbucks (pexels.com/Hendry and Co.)

Dampak kesalahan pemasaran itu langsung dirasakan perusahaan. Starbucks Korea menghadapi boikot pelanggan, perusakan produk merchandise, serta penghentian kerja sama dari sejumlah kementerian di Korsel. Sebagai respons, seluruh materi promosi ditarik dalam hitungan jam dan direktur utama perusahaan diberhentikan pada hari yang sama.

Hasil penyelidikan internal menunjukkan tim pemasaran memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memperoleh usulan slogan. Pengawasan dinilai bermasalah karena beberapa manajer yang menyetujui kampanye tersebut diketahui tak membuka lampiran surat elektronik yang memuat materi promosi secara lengkap.

Perusahaan menyatakan tak menemukan unsur kesengajaan dalam kasus tersebut. Namun, Kepolisian Seoul tetap menetapkan Ketua Shinsegae Group, Chung Yong-jin, serta mantan direktur utama Starbucks Korea sebagai tersangka pidana. Proses penyelidikan oleh kepolisian masih berlangsung.

2. Starbucks Korea mewajibkan edukasi sejarah

ilustrasi interior modern Starbucks Coffee
ilustrasi interior modern Starbucks Coffee (pexels.com/Andy Lee)

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, seluruh unsur perusahaan diwajibkan mengikuti program edukasi ulang. Staf kantor pusat Starbucks Korea bersama para eksekutif divisi E-Mart dijadwalkan menjalani pelatihan sejarah di pusat pelatihan internal grup. Ketua Shinsegae Chung beserta para CEO afiliasi lainnya mengikuti sesi terpisah.

Dilansir NBC News, program tersebut melibatkan akademisi dari Universitas Sungkyunkwan. Seorang profesor sejarah akan memimpin kuliah mengenai berbagai peristiwa penting di Korsel sejak era 1950-an. Selain itu, profesor sosiologi dari universitas yang sama memberikan materi mengenai pentingnya perusahaan mempertimbangkan isu sejarah, hak asasi manusia, gender, serta tenaga kerja dalam strategi bisnis.

Untuk mencegah kejadian serupa, manajemen memperkenalkan daftar periksa sensitivitas sosial baru dalam proses persetujuan pemasaran. Sistem tersebut mencakup pengawasan terhadap isu politik, gender, militer, bencana, tanggal peringatan bersejarah, kekerasan, hingga ekspresi kebencian. Selama pelatihan berlangsung, hanya sebagian kecil gerai di bandara yang tetap beroperasi.

3. Petinggi Starbucks menyampaikan permintaan maaf

ilustrasi barista Starbucks
ilustrasi barista Starbucks (pexels.com/Ludovic Delot)

Gelombang kritik direspons dengan permintaan maaf terbuka dari jajaran petinggi perusahaan. Dalam konferensi pers yang disiarkan televisi nasional, Chung menyampaikan permohonan maaf tertulis dan membungkuk tiga kali sebagai bentuk penyesalan.

Starbucks menyatakan sangat menyesal atas insiden pemasaran yang dinilai tidak dapat diterima tersebut dan menegaskan bahwa kejadian itu seharusnya tidak pernah terjadi.

Markas besar Starbucks di Seattle, Amerika Serikat (AS), juga mengirim surat permintaan maaf tertulis kepada May 18 Foundation yang mewakili kelompok korban Gwangju. Penutupan gerai selama setengah hari diperkirakan menyebabkan hilangnya penjualan sebesar 1,4 juta dolar AS (setara Rp25 miliar).

Data dari WISEAPP menunjukkan volume pembayaran Starbucks Korea sempat merosot 26 persen pada pekan pertama setelah kontroversi. Angka tersebut kemudian naik 12,8 persen pada pekan pertama Juni, tetapi aktivitas transaksi masih berada 25 persen di bawah kondisi normal sebelum skandal. Manajemen menyatakan kerugian akibat penutupan gerai menjadi bukti keseriusan perusahaan dalam memperbaiki sensitivitas sosial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More