Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kehabisan Surat Suara, Ribuan Warga Korsel Tuntut Pilkada Ulang
Ilustrasi Bendera Korea (freepik.com/pranavkr)
  • Ribuan warga Korea Selatan berunjuk rasa di Seoul menuntut pemilihan ulang setelah banyak pemilih gagal mencoblos akibat kekurangan surat suara pada Pilkada 3 Juni 2026.
  • Komisi Pemilihan Nasional mencatat 50 TPS kehabisan surat suara dan 22 lokasi sempat dihentikan sementara karena keterlambatan logistik, menyebabkan antrean panjang dan kekecewaan warga.
  • Ketua Komisi Pemilihan, Roh Tae-ak, mengundurkan diri sebagai tanggung jawab atas insiden ini, sementara Presiden Lee Jae Myung memerintahkan penyelidikan menyeluruh terhadap kelalaian tersebut.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Ribuan warga Korea Selatan menggelar unjuk rasa di sekitar pusat penghitungan suara SK Olympic Handball Stadium, Seoul, pada Jumat (5/6/2026). Mereka mendesak agar pemilihan diulang karena banyak pemilih gagal mencoblos akibat kekurangan surat suara.

Pemilihan kepala daerah (Pilkada) ini sebelumnya berlangsung pada Rabu (3/6/2026) untuk memilih wali kota, gubernur, dan anggota majelis lokal. Namun, penyelenggaraan pemilu ini diwarnai protes keras setelah persediaan logistik di sejumlah lokasi habis sebelum waktunya.

1. Lebih dari 6.000 warga protes menuntut hak suara

Kepolisian setempat memperkirakan ada lebih dari 6.000 pengunjuk rasa yang memadati area luar stadion pada Jumat malam. Massa yang membawa bendera Korea Selatan ini mendesak agar hak suara mereka dikembalikan melalui pemilihan ulang.

"Saya datang langsung ke TPS untuk memilih. Saat mendengar kabar surat suara kurang, saya rasa masalah ini harus ditindaklanjuti. Penjelasan dari pihak penyelenggara juga kurang memuaskan," kata warga Seoul, Lee Ung-yeong, dilansir Asia One.

"Kejadian ini melanggar hak kami sebagai warga negara untuk memberikan suara," tambah pengunjuk rasa lainnya, Park Gui-nam.

2. Puluhan TPS kehabisan persediaan surat suara

Komisi Pemilihan Nasional Korea Selatan mencatat 50 dari total 14.300 Tempat Pemungutan Suara (TPS) kehabisan logistik. Selain itu, proses pencoblosan di 22 lokasi lain sempat dihentikan sementara akibat keterlambatan pengiriman surat suara.

Kepala Kantor Kebijakan Pemilu, Yoon Jae-soo, menjelaskan bahwa surat suara memang tidak dicetak sebanyak jumlah total pemilih terdaftar. Panitia hanya menyiapkan persediaan untuk 73 persen pemilih, dengan asumsi sisa pemilih telah memberikan suaranya pada masa pemungutan suara awal (early voting).

Akibat salah perhitungan tersebut, sejumlah warga di kawasan Songpa, Seoul, terpaksa antre berjam-jam hingga akhirnya gagal memilih.

"Ada ratusan orang yang menunggu dan mereka merasa sangat kecewa," kata warga Songpa, Yoomi Lee.

"Saya diminta menunggu selama 30 menit, tetapi surat suaranya tidak kunjung datang. Akhirnya saya pulang tanpa ikut memilih," ujar warga Songpa lainnya, Han Seo Jeong.

3. Ketua Komisi Pemilihan mundur dari jabatan

Sebagai bentuk tanggung jawab atas insiden ini, Ketua Komisi Pemilihan Nasional, Roh Tae-ak, mengumumkan pengunduran dirinya. Ia berjanji akan melibatkan tim ahli independen untuk menyelidiki akar masalah tersebut secara transparan.

Merespons kendala logistik ini, Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, juga telah menginstruksikan penyelidikan menyeluruh. Ia menilai kejadian ini sebagai sebuah kelalaian yang sangat serius.

Di sisi lain, kepolisian telah membubarkan massa yang sempat memblokade akses masuk ke salah satu TPS di Seoul selama 35 jam. Kotak suara dari lokasi tersebut langsung diamankan dan dibawa ke pusat penghitungan.

"Tanggung jawab utama ada pada Komisi Pemilihan karena mereka telah membuat kesalahan fatal yang seharusnya tidak terjadi," tegas Profesor Ilmu Politik dari Hankuk University of Foreign Studies, Lee Jae-mook.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article