Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenya Laporkan Kematian Pertama akibat Virus Ebola
ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)
  • Kenya melaporkan kematian Ebola pertama: seorang pria yang tinggal di DRC, sempat bepergian melalui Uganda sebelum tiba di Nairobi, meninggal pada 5 Oktober 2026.
  • Sebanyak 28 kontak dekat pasien telah dikarantina, sementara otoritas melacak 23 penumpang dan empat awak pesawat. Pemerintah meminta tenaga medis memperketat pencegahan infeksi.
  • Wabah Ebola di DRC telah menyebabkan lebih dari 4.000 kematian dari 8.400 kasus sejak Mei; lonjakan di Kivu Utara terkendala fasilitas terbatas dan konflik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kenya mengumumkan kematian pertama akibat Ebola di negara tersebut pada Selasa (6/10/2026). Korban merupakan pria asal Kenya yang telah tinggal selama 7 tahun di Republik Demokratik Kongo (DRC), yang menjadi pusat penyebaran wabah Ebola saat ini.

Dilansir DW, Menteri Kesehatan Kenya, Aden Duale, mengatakan bahwa pria tersebut jatuh sakit sekitar sebulan yang lalu dan sempat menjalani perawatan di DRC. Ia kemudian melakukan perjalanan darat ke ibu kota Uganda, Kampala, sebelum terbang ke Nairobi pada Sabtu (3/10/2026).

"Pasien tersebut mengalami demam, menggigil, kelelahan hebat, lemas, nyeri otot, nyeri saat menelan, sakit tenggorokan, dan pendarahan di bawah kulit pada bekas suntikan," kata Duale.

Pria tersebut akhirnya dinyatakan positif Ebola dan meninggal dunia pada Senin (5/10/2026) malam. Ia dijadwalkan dimakamkan pada Selasa sesuai dengan protokol keselamatan kesehatan masyarakat.

1. 28 orang yang melakukan kontak dengan pasien jalani karantina

ilustrasi penanganan pasien dengan virus berbahaya (unsplash.com/Mufid Majnun)

Duale mengatakan bahwa 28 orang yang pernah melakukan kontak dengan pasien tersebut, termasuk anggota keluarga dan tenaga medis, telah diidentifikasi dan dikarantina. Pihak berwenang saat ini juga tengah melacak 23 penumpang dan empat awak pesawat yang berada dalam penerbangan yang sama dengan pasien tersebut.

“Saya ingin meyakinkan masyarakat agar tidak panik karena seluruh sistem telah disiapkan untuk mencegah penyebaran penyakit ini,” kata Duale. Ia juga meminta para tenaga medis untuk lebih waspada dan menerapkan langkah-langkah pencegahan serta pengendalian infeksi secara ketat.

2. Lebih dari 4 ribu orang tewas akibat virus Ebola

bendera Kenya (unsplash.com/engin akyurt)

Otoritas DRC secara resmi mengumumkan wabah Ebola pada 15 Mei 2026, tapi para ahli meyakini bahwa virus tersebut kemungkinan telah menyebar beberapa bulan sebelumnya. Wabah kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo, strain yang relatif langka dan belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang disetujui..

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mencatat lebih dari 4 ribu kematian dari 8.400 kasus Ebola sejak Mei, menjadikannya sebagai wabah Ebola dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah.

Kenya sendiri belum pernah melaporkan kasus Ebola sebelumnya. Sementara itu, negara tetangganya, Uganda, telah mencatat 20 kasus dan dua kematian, sebelum akhirnya dinyatakan bebas Ebola pada Agustus.

3. Kasus Ebola di wilayah timur DRC melonjak tajam

ilustrasi virus Ebola (NIAID, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons)

Pada Senin, Dokter Lintas Batas (MSF) memperingatkan bahwa kasus Ebola di provinsi Kivu Utara, wilayah timur DRC yang berbatasan dengan Uganda, mengalami lonjakan yang mengkhawatirkan. Organisasi bantuan medis itu mengatakan bahwa provinsi tersebut kini menyumbang 40 persen dari seluruh kasus baru Ebola, meningkat dari 24 persen pada akhir Agustus.

“Ini seperti melawan kebakaran besar. Beberapa wabah berkembang secara bersamaan, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda dan di lokasi yang berbeda," kata Stephanie Hoffmann, koordinator di pusat perawatan Ebola milik MSF di kota Butembo, dikutip The Guardian.

Butembo, yang dihuni sekitar 2 juta orang, hanya memiliki empat pusat perawatan Ebola, dengan dua di antaranya baru dibuka. Akibat keterbatasan tempat, tenaga medis terkadang terpaksa merujuk pasien yang positif Ebola ke fasilitas lain, meskipun hal tersebut dapat menimbulkan risiko besar bagi masyarakat secara luas.

Wilayah timur DRC sendiri telah dilanda konflik selama beberapa dekade, dengan berbagai kelompok pemberontak beroperasi di kawasan tersebut. Kondisi ini turut menghambat upaya pihak berwenang untuk membendung wabah Ebola.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article