WHO Menyatakan Wabah Ebola di Uganda Resmi Berakhir

- WHO menyatakan wabah Ebola Bundibugyo di Uganda berakhir pada 26 Agustus 2026 setelah pemantauan intensif memastikan rantai penularan terputus.
- Uganda mencatat 20 kasus terkonfirmasi dan dua kematian, lalu mencabut status darurat setelah tidak ada penularan baru sejak akhir Juli.
- Di Republik Demokratik Kongo, kasus melampaui 5.600 dengan lebih dari 2.700 kematian; kekurangan dana menghambat distribusi logistik medis dan alat pelindung diri.
Jakarta, IDN Times - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan secara resmi bahwa wabah virus Ebola jenis Bundibugyo di Uganda telah berakhir pada Rabu (26/8/2026). Keputusan ini diambil usai serangkaian pemantauan intensif di kawasan tersebut.
Meski ancaman di Uganda mulai mereda, negara tetangganya, Republik Demokratik Kongo, justru masih menghadapi lonjakan kasus infeksi parah. Otoritas internasional mendesak penguatan upaya penanggulangan lintas batas agar epidemi tidak semakin meluas.
1. Uganda resmi berstatus bebas dari penularan virus Ebola

Relawan pekerja medis Ebola. (Photo by Maj. Francis Obuseh, Public domain, via Wikimedia Commons) Pemerintah Uganda secara resmi telah mencabut status darurat kesehatan setelah tidak ditemukannya kasus penularan baru sejak akhir Juli lalu. Selama masa epidemi mematikan ini berlangsung, negara tersebut mencatatkan total 20 kasus terkonfirmasi dengan dua angka kematian.
Penurunan jumlah pasien yang konsisten menjadi landasan utama otoritas setempat untuk menyatakan wilayahnya kembali aman. Kepastian status bebas wabah ini baru dirilis setelah pengawasan ketat di lapangan membuktikan bahwa seluruh potensi rantai penularan telah terputus sepenuhnya.
"Uganda telah mengumumkan akhir epidemi pada 28 Juli lalu, tetapi WHO tetap memantau situasi hingga pekan ini demi memastikan tidak ada satupun rantai penularan yang terlewat," kata Direktur Kesiapsiagaan Darurat WHO Wilayah Afrika, Dr. Marie Roseline Belizaire, dilansir SABC News.
2. Wabah di Republik Demokratik Kongo meluas dan makin mematikan

ilustrasi bendera Kongo (Aerra Carnicom, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons) Berbeda dengan Uganda, Republik Demokratik Kongo justru tengah berjuang keras menghadapi angka penyebaran virus yang sangat cepat. Data pemerintah mencatat akumulasi pasien terjangkit saat ini telah melampaui 5.600 orang dengan korban tewas menembus 2.700 jiwa.
Tingginya angka fatalitas ini membuat krisis di Kongo tercatat sebagai wabah paling mematikan kedua dalam sejarah penanggulangan Ebola secara global. Laju penularan virus tersebut terus bergerak pesat melampaui kapasitas fasilitas medis serta upaya pencegahan yang dilakukan relawan di lapangan.
"Tingkat penularan di Kongo masih sangat aktif. Kami memang telah berupaya memperlambat akselerasinya, tetapi kurva infeksi ini belum berhasil diturunkan secara maksimal," ujar Dr. Marie Roseline Belizaire.
3. Defisit dana operasional hambat distribusi logistik medis

ilustrasi WHO (https://www.nursetogether.com/, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Dari segi medis, hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa sampel virus yang menjangkiti warga Kongo tidak mengalami mutasi genetik berbahaya. Namun, kelancaran penanganan medis di kawasan terparah kini terkendala akibat kekurangan dana operasional.
Defisit anggaran dalam jumlah besar ini secara langsung mengganggu jadwal pengiriman peralatan medis penting serta alat pelindung diri bagi tenaga kesehatan yang bertugas. Pihak WHO pun mendesak komunitas global untuk segera memenuhi kebutuhan pasokan logistik demi menjaga stabilitas sistem kesehatan di kawasan tersebut.
"Tanpa adanya bantuan pendanaan yang mendesak, kita berisiko besar kehilangan momentum penanganan kesehatan yang telah dibangun selama ini," tegas Dr. Marie Roseline Belizaire.



















