Wabah Ebola di Kongo Kian Meluas, Capai 61 Zona Kesehatan

- WHO melaporkan wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menjangkau 61 zona kesehatan di enam provinsi, dengan 6.686 kasus dan 3.226 kematian sejak pertengahan Mei.
- Pola penularan semakin beragam antarwilayah; Ituri menjadi pusat utama, sementara Kivu Utara dan Haut-Uele mengalami penularan substansial serta wilayah baru terus terdampak.
- Kematian komunitas mencapai 75 persen pada 31 Agustus–6 September; pemerintah dan mitra menyiapkan rencana 180 hari senilai 1,3 miliar dolar AS untuk memperkuat respons.
Jakarta, IDN Times - Kantor Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kawasan Afrika mengonfirmasi bahwa sebaran virus Ebola di Republik Demokratik Kongo kian meluas hingga mencakup 61 zona kesehatan di enam provinsi. Kondisi ini terjadi setelah virus menyebar ke Zona Kesehatan Kayna di Provinsi Kivu Utara, sebagaimana disampaikan WHO dalam laporan situasi terbarunya pada Selasa (8/9/2026) malam.
Berdasarkan laporan yang dirilis WHO, sedikitnya 6.686 kasus telah tercatat sejak wabah merebak pada pertengahan Mei. Dari total kasus yang dilaporkan tersebut, sebanyak 3.226 orang dinyatakan meninggal dunia.
1. Penyebaran kian heterogen di enam provinsi

Petugas medis suntikkan vaksin kepada seorang pria di Kongo. (European Union, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Laporan WHO mengungkapkan bahwa pola epidemiologis dari wabah galur virus Bundibugyo di Kongo saat ini semakin heterogen. Tren transmisi memperlihatkan dinamika yang berbeda-beda di setiap provinsi maupun zona kesehatan yang terdampak.
"Tren tersebut mempertegas epidemi yang kian heterogen, dengan penurunan transmisi di beberapa area terjadi bersamaan dengan intensifikasi dan penyebaran geografis yang berlanjut di tempat lain," tulis laporan tersebut. Adapun enam provinsi yang terdampak mencakup Haut-Uele, Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Bas-Uele, dan Tshopo.
Provinsi Ituri tetap menjadi fokus utama penularan wabah ini. Pada saat yang sama, penularan substansial terus berlangsung di Kivu Utara serta Haut-Uele. Selain itu, sejumlah wilayah baru juga dilaporkan terus terdampak oleh persebaran virus.
2. Kematian di tingkat komunitas melonjak tajam

Sekjen PBB António Guterres kunjungi Pusat Perawatan Ebola Mangina, 2019. (MONUSCO Photos, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) WHO turut menyoroti lonjakan proporsi kematian pasien akibat Ebola yang terjadi di lingkungan komunitas. Pada rentang 31 Agustus hingga 6 September, proporsi kematian terkonfirmasi di tingkat komunitas menyentuh angka 75 persen. Persentase tersebut melonjak cukup tajam jika dibandingkan dengan catatan dua pekan sebelumnya yang berada pada angka 56,6 persen.
Tingginya angka kematian di komunitas dinilai mencerminkan berbagai kendala dalam penanganan medis di lapangan. Faktor penghambat tersebut meliputi keterlambatan deteksi serta pelaporan kasus, keterlambatan rujukan ke fasilitas perawatan, dan minimnya pengenalan terhadap gejala penyakit. Kendala kondisi geografis, persoalan transportasi, hingga masalah tingkat kepercayaan masyarakat juga turut memperberat situasi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena mengindikasikan penurunan angka kematian pasien secara keseluruhan tidak dapat dipertahankan. "Perbedaan arah tren ini mengkhawatirkan, karena peningkatan kematian di komunitas yang berjalan beriringan dengan penurunan kematian di fasilitas perawatan menandakan penurunan mortalitas sebelumnya tidak bertahan," jelas laporan WHO tersebut.
3. Anggaran triliunan rupiah disiapkan demi putus rantai virus

Logistik medis tiba di Bandara Beni untuk lawan wabah Ebola, Kongo. (MONUSCO, CC BY-SA 2.0, via Wikimedia Commons) Dilansir Anadolu Agency, Pemerintah Kongo bersama para mitra kesehatan resmi meluncurkan rencana multisektoral yang direvisi untuk jangka waktu 180 hari pada pekan lalu. Inisiatif tanggap darurat ini dirancang guna meningkatkan skala dan koordinasi respons demi memutus rantai transmisi virus Ebola.
Program penanggulangan terpadu ini membutuhkan alokasi dana sebesar 1,3 miliar dolar AS atau setara Rp22,88 triliun (kurs Rp17.606). Anggaran tersebut dialokasikan untuk penguatan masif pengawasan epidemiologis, pelacakan kontak, keterlibatan komunitas, komunikasi risiko, hingga kapasitas logistik. Selain itu, rencana kerja ini juga mencakup penguatan kesiapsiagaan di sejumlah provinsi yang berisiko tinggi terpapar.



















