Ilustrasi peluncuran rudal. (unsplash.com/Forest Katsch)
Dilansir NHK News, sebagai respons, rapat pleno tersebut secara bulat sepakat untuk terus memperluas dan memperkuat kekuatan nuklir Pyongyang. Pemerintah Korut menyatakan bahwa penguatan status negara sebagai pemilik senjata nuklir merupakan cara paling efektif untuk menghadapi situasi politik dan militer internasional yang dinilai semakin tidak menentu.
Kim memerintahkan percepatan pembangunan aset pertahanan strategis, termasuk kapal penjelajah rudal seberat 10 ribu ton, pembangunan pangkalan angkatan laut baru, dan pengetatan perbatasan dengan Korsel yang kini didefinisikan sebagai 'negara paling bermusuhan'.
Yang Moo-jin, profesor di Universitas Studi Korea Utara di Seoul, mengatakan bahwa komentar tersebut menggarisbawahi penolakan berkelanjutan Pyongyang terhadap denuklirisasi dan dorongan untuk diakui sebagai negara nuklir.
"Korut sekali lagi menegaskan bahwa pembicaraan denuklirisasi tidak akan dilakukan. Mereka hanya akan terlibat dalam negosiasi sebagai negara pemilik senjata nuklir dengan kedudukan yang setara dan berpotensi fokus pada pengurangan senjata daripada pembongkaran," ungkapnya, dikutip dari The Japan Times.