Trump Balik Tuntut Iran Bayar Kompensasi Atas Kekejaman 50 Tahun

- Trump menuntut Iran membayar kompensasi atas kematian tentara AS, demonstran, serta korban di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza, setelah Teheran mensyaratkan reparasi perang untuk membuka Selat Hormuz.
- Charles Kupchan menilai tuntutan Trump hanya celoteh, sementara kedua pihak berkepentingan mencapai kesepakatan di tengah blokade minyak Iran, harga bahan bakar AS, dan tekanan amunisi Pentagon.
- Negosiasi Iran-Oman soal rute pelayaran Selat Hormuz berlanjut, tetapi ancaman Trump berisiko menghambatnya; AS mengklaim mengendalikan jalur itu dan blokadenya menghentikan ekspor minyak dari Pulau Kharg.
Jakarta, IDN Times – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, menuntut Iran membayar kompensasi atas tewasnya ribuan tentara AS dan ribuan demonstran yang diklaimnya akibat tindakan Teheran selama 50 tahun terakhir. Tuntutan itu disampaikan usai Iran menjadikan pembayaran reparasi perang dari Washington sebagai salah satu syarat pembukaan kembali Selat Hormuz.
Dikutip Al Jazeera, Trump juga meminta Iran memberikan kompensasi kepada keluarga 17 pelaut AS yang tewas dalam serangan terhadap kapal USS Cole di Yaman pada Oktober 2000. Meski demikian, serangan tersebut diketahui dikaitkan dengan al-Qaeda, dan bukan Teheran.
Pemimpin AS itu berupaya mengakhiri konflik yang meluas di Timur Tengah. Pada Senin (10/8/2026), Trump turut menuntut Iran bertanggung jawab atas kerusakan dan kematian yang dialami masyarakat di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza.
1. Tuntutan kompensasi AS-Iran dinilai hanya sekadar celoteh

ilustrasi konflik AS dan Iran (unsplash.com/Saifee Art) Mantan asisten khusus eks presiden AS Barack Obama, Charles Kupchan, menilai pernyataan Trump mengenai tuntutan kompensasi hanya sekadar celoteh. Kupchan mengatakan bahwa baik Washington maupun Teheran memiliki kepentingan yang kuat untuk mencapai kesepakatan.
Menurutnya, Iran tidak akan mampu bertahan jika tidak dapat mengekspor minyaknya karena blokade AS, sementara Trump juga tidak ingin memasuki pemilu sela AS dengan harga bahan bakar yang tinggi. Selain itu, terdapat tekanan terhadap Pentagon menyusul laporan mengenai menipisnya cadangan amunisi.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan pada akhir pekan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai AS memperbaiki perilakunya. Sekretaris Dewan, Mohammad Bagher Zolghadr, mengatakan Washington harus berhenti mengancam negaranya, mengakhiri perang secara permanen, mencabut blokade laut, dan menarik pasukannya.
2. Ancaman Trump dinilai akan mempersulit pembukaan kembali Selat Hormuz

ilustrasi Selat Hormuz (MODIS Land Rapid Response Team, NASA GSFC, Public domain, via Wikimedia Commons) Pembicaraan antara Iran dan Oman mengenai Selat Hormuz masih berlangsung. Namun, tuntutan terbaru Trump berisiko memperumit upaya untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pada Senin bahwa pembicaraan dengan Oman berjalan lancar dan konstruktif. Menurutnya, Teheran dan Muskat telah mencapai kesepakatan mengenai peta rute pelayaran, meski sejumlah persoalan teknis masih belum disepakati, dilansir CBC News.
Pembicaraan kedua negara juga mencakup layanan yang biasanya membutuhkan pembayaran. Layanan itu meliputi navigasi yang aman, perlindungan lingkungan, layanan maritim, serta upaya pemberantasan kejahatan.
Baghaei mengatakan tindakan bermusuhan AS yang masih berlangsung di Selat Hormuz membuat jalur perairan tersebut tidak aman. Teheran menganggap blokade laut Washington terhadap sejumlah pelabuhan Iran sebagai tindakan agresi.
3. AS klaim kendali atas Selat Hormuz

Kapal AS di Selat Hormuz. (Specialist Noah Martin, Public domain, via Wikimedia Commons) Trump mengklaim satu-satunya pihak yang memegang kendali atas Selat Hormuz saat ini adalah Angkatan Laut AS. Dia mengatakan bahwa jalur perairan tersebut telah terbuka dan militer Washington telah membersihkannya dari ranjau.
Mengutip Al Jazeera, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim pihaknya telah mengalihkan 55 kapal komersial sejak blokade AS terhadap Iran diberlakukan kembali pada Juli. Pihaknya juga menyebut setidaknya telah melumpuhkan dua kapal dalam pelaksanaan blokade tersebut.
Perusahaan intelijen maritim, Windward, mengatakan blokade tersebut telah menyebabkan penghentian total terhadap ekspor minyak Teheran dari Pulau Kharg di kawasan Teluk. Trump pada Senin menggambarkan blokade tersebut sebagai tembok baja.



















