Saat peluncuran Roket Nuri KSLV-II pada hari Kamis (21/10/2021) di Goheung, disaksikan oleh Presiden Korsel Moon Jae In dari pusat ruang angkasa. (instagram.com/moonjaein)
Kementerian Sains dan TIK (MSIT) bersama KASA menjadikan proyek pendaratan di Bulan ini sebagai prioritas nasional. Proyek tahun 2030 ini bukan membatalkan misi 2032, melainkan berjalan secara paralel. Misi 2030 akan difokuskan pada wahana pendarat berukuran kecil yang ringan, lincah, dan dikerjakan oleh industri dalam negeri.
Evaluasi kelayakan teknis, anggaran, dan risiko operasional sedang dilakukan secara ketat. Hal ini penting karena Korsel ingin segera membuktikan kemampuannya melakukan pendaratan mulus (soft landing) di Bulan, sebuah tingkat kesulitan yang sejauh ini baru berhasil dipecahkan oleh lima negara: Rusia, Amerika Serikat, China, India, dan Jepang.
"Proyek ini belum difinalisasi. Detail teknis dan anggarannya akan dipastikan melalui studi kelayakan yang sedang dilakukan oleh komite evaluasi nasional," terang perwakilan KASA, dikutip dari The Straits Times.
Langkah ini juga didorong oleh ketatnya kompetisi antariksa global.
"Bersamaan dengan program lunar pemerintah yang sedang berjalan, kami ingin membantu perusahaan dalam negeri bergerak lebih cepat agar punya daya saing tinggi dalam penjelajahan ruang angkasa dalam," kata Kang Kyung-in, pejabat senior di KASA.