Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Korea Selatan Majukan Target Mendarat di Bulan Menjadi Tahun 2030
Bulan (unsplash.com/Mike Petrucci)
  • Korea Selatan mempercepat target pendaratan di Bulan menjadi tahun 2030, dua tahun lebih awal dari rencana semula, dengan fokus pada wahana pendarat kecil buatan industri dalam negeri.
  • Pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp4,98 triliun untuk mendukung perusahaan lokal mengembangkan teknologi pendaratan mandiri dan memperkuat ekosistem antariksa 'New Space'.
  • Misi 2030 akan menggunakan roket Nuri buatan Korea Selatan sebagai peluncur utama, menandai kemandirian penuh negara itu dalam eksplorasi luar angkasa tanpa bergantung pada jasa asing.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Korea Selatan berencana mempercepat ambisi antariksa mereka dengan menargetkan pendaratan wahana di Bulan pada awal 2030. Langkah strategis ini diumumkan pada Minggu (5/4/2026), memajukan pencapaian pendaratan pertama Korsel dua tahun lebih awal dari jadwal misi utama pemerintah pada 2032.

Untuk merealisasikan target ambisius ini, Korsel menggunakan pendekatan baru, yaitu menyerahkan kendali proyek pembuatan wahana pendarat (small lunar lander) sepenuhnya kepada perusahaan swasta dalam negeri. Saat ini, Badan Antariksa Korea (KASA) tengah melakukan studi kelayakan awal untuk memastikan proyek "jalur cepat" tersebut siap dieksekusi.

1. Misi swasta yang berjalan paralel dengan misi pemerintah

Saat peluncuran Roket Nuri KSLV-II pada hari Kamis (21/10/2021) di Goheung, disaksikan oleh Presiden Korsel Moon Jae In dari pusat ruang angkasa. (instagram.com/moonjaein)

Kementerian Sains dan TIK (MSIT) bersama KASA menjadikan proyek pendaratan di Bulan ini sebagai prioritas nasional. Proyek tahun 2030 ini bukan membatalkan misi 2032, melainkan berjalan secara paralel. Misi 2030 akan difokuskan pada wahana pendarat berukuran kecil yang ringan, lincah, dan dikerjakan oleh industri dalam negeri.

Evaluasi kelayakan teknis, anggaran, dan risiko operasional sedang dilakukan secara ketat. Hal ini penting karena Korsel ingin segera membuktikan kemampuannya melakukan pendaratan mulus (soft landing) di Bulan, sebuah tingkat kesulitan yang sejauh ini baru berhasil dipecahkan oleh lima negara: Rusia, Amerika Serikat, China, India, dan Jepang.

"Proyek ini belum difinalisasi. Detail teknis dan anggarannya akan dipastikan melalui studi kelayakan yang sedang dilakukan oleh komite evaluasi nasional," terang perwakilan KASA, dikutip dari The Straits Times.

Langkah ini juga didorong oleh ketatnya kompetisi antariksa global.

"Bersamaan dengan program lunar pemerintah yang sedang berjalan, kami ingin membantu perusahaan dalam negeri bergerak lebih cepat agar punya daya saing tinggi dalam penjelajahan ruang angkasa dalam," kata Kang Kyung-in, pejabat senior di KASA.

2. Suntikan dana Rp4,98 triliun untuk ekosistem "New Space"

ilustrasi bendera Korea Selatan (unsplash.com/Daniel Bernard)

Proyek 2030 ini membawa perubahan paradigma yang masif. Jika sebelumnya pemerintah yang turun tangan penuh, kini perusahaan swasta diberi panggung utama untuk merancang, membangun, hingga menyusun strategi pendaratan wahana antariksa.

Pemerintah Korsel dikabarkan telah menyiapkan rancangan anggaran sekitar 440 miliar won (Rp4,98 triliun) yang akan disalurkan selama empat tahun ke depan. Dana ini ditujukan untuk mendukung perusahaan lokal mengembangkan teknologi pendaratan mandiri yang berisiko tinggi, seperti sistem navigasi dan kontrol pendaratan otomatis.

Strategi ini sejalan dengan tren global New Space, mencontoh ekosistem di Amerika Serikat di mana perusahaan swasta diberikan ruang berinovasi yang luas. KASA berjanji akan membuka akses ke fasilitas pengujian milik negara dan memberikan bantuan teknis agar perusahaan lokal mampu unjuk gigi.

3. Mengandalkan roket Nuri buatan dalam negeri

Saat peluncuran Roket Nuri KSLV-II pada hari Kamis (21/10/2021) di Goheung, disaksikan oleh Presiden Korsel Moon Jae In dari pusat ruang angkasa. (instagram.com/moonjaein)

Keberhasilan misi 2030 ini sangat bergantung pada performa roket Nuri (KSLV-II). Nuri merupakan roket peluncur pertama yang seluruhnya dikembangkan dan diproduksi menggunakan teknologi asli Korsel.

Roket yang sebelumnya sukses mengantar satelit ke orbit bumi ini, kini tengah disiapkan untuk menggendong wahana pendarat kecil swasta tersebut menuju orbit Bulan. Dengan menggunakan roket Nuri, Korsel membuktikan kemandiriannya tanpa harus menyewa jasa peluncuran dari negara lain.

Sebagai perbandingan, misi utama pemerintah di tahun 2032 rencananya akan menggunakan roket generasi baru (KSLV-III) yang lebih bertenaga untuk membawa wahana yang jauh lebih berat.

Jika skenario pendaratan swasta 2030 ini berjalan lancar, Korsel akan resmi menobatkan diri sebagai negara keenam yang sukses mendarat di permukaan Bulan. Berbekal dukungan dana, kemandirian roket peluncur, serta inovasi dari sektor swasta, Korsel bersiap menjadi pemain kunci baru di kancah eksplorasi tata surya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team