Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Krisis Air Bersih Landa 41 Provinsi di Thailand akibat El Nino
Ilustrasi air (unsplash.com/engin akyurt)
  • Thailand menghadapi krisis air bersih di 41 provinsi akibat El Nino dan perubahan iklim yang menurunkan curah hujan serta meningkatkan suhu di kawasan Asia Tenggara.
  • Sektor pertanian dan industri terdampak parah, dengan 12 provinsi berisiko kekurangan air irigasi dan pabrik mengalami hambatan produksi karena pasokan air baku menipis.
  • Pemerintah Thailand mengirim ribuan mesin pompa dan truk tangki air ke puluhan provinsi sambil mempercepat Rencana Adaptasi Nasional untuk pengelolaan sumber daya air jangka panjang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Thailand saat ini menghadapi masalah kekurangan air bersih yang cukup luas. Menipisnya cadangan air baku pada musim kemarau membuat 41 provinsi berisiko kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari di rumah.

Kondisi ini terjadi karena adanya perubahan iklim dan fenomena El Nino yang membuat curah hujan turun dan suhu udara menjadi lebih panas di Asia Tenggara. Berbagai lembaga pengelola air di Thailand mencatat bahwa berkurangnya pasokan air ini berdampak langsung pada keseharian jutaan warga di berbagai daerah.

1. Pasokan air bersih berkurang untuk warga di 41 provinsi

Ilustrasi Thailand (unsplash.com/@sonuba)

Kantor Sumber Daya Air Nasional (ONWR) memperkirakan pada musim kemarau 2025/2026, sebanyak 41 provinsi berisiko kekurangan air untuk rumah tangga. Selain itu, 12 provinsi bisa kekurangan air untuk sawah, dan 22 aliran sungai besar berpotensi menjadi payau karena masuknya air laut.

"Beberapa provinsi di wilayah utara, tengah, dan timur laut seperti Phichit, Kamphaeng Phet, dan Surin berisiko kehabisan air ledeng dalam waktu dekat karena curah hujan yang rendah membuat air di waduk cepat habis," kata Direktur Jenderal ONWR, Somkiat Prajumwong, dilansir The Star.

Di tingkat dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengingatkan bahwa dunia sedang menuju kekurangan air yang parah karena pemakaian air sudah melebihi batas kemampuan alam untuk memulihkannya. Data PBB menunjukkan 70 persen sumber air tanah utama di dunia terus berkurang, dan hal ini memengaruhi kehidupan hampir dua miliar orang.

2. Sawah dan pabrik kesulitan mendapat pasokan air

Chiang Mai, Thailand (pexels.com/KE PHUAH)

Sektor pertanian menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Laporan ONWR menyebutkan 12 provinsi kemungkinan akan kekurangan air irigasi, sehingga bisa menurunkan hasil panen padi dan tanaman jual lainnya seperti tebu. Para petani yang mengandalkan air hujan terpaksa menunda waktu tanam karena tanah yang semakin kering.

"Jumlah curah hujan saat ini sekitar 40 persen lebih rendah dari biasanya, sehingga kita sangat berisiko kekurangan air dan mulai sekarang harus mengutamakan pembagian air untuk kebutuhan rumah tangga," kata Sekretaris Jenderal ONWR, Surasri Kidtimonton.

Pabrik yang membutuhkan banyak air, seperti pabrik makanan dan barang jadi, juga diperkirakan akan kesulitan mendapat pasokan. Thailand Environment Institute (TEI) menyatakan bahwa kurangnya pasokan air baku yang bersih bisa menghambat jalannya usaha, terutama di kawasan industri.

3. Pemerintah segera mengirim bantuan mesin pompa dan tangki air

ilustrasi bendera Thailand (unsplash.com/Markus Winkler)

TEI meminta pemerintah untuk mempercepat Rencana Adaptasi Nasional (NAP) yang berisi aturan pengelolaan sumber daya air, keamanan tempat tinggal, penyesuaian pertanian, dan kesehatan masyarakat. Untuk jangka pendek, TEI menyarankan perbaikan pipa saluran yang bocor, pencarian cadangan air baru, dan pemilihan bibit tanaman yang tidak butuh banyak air.

Di sisi lain, pemerintah sudah mengambil tindakan cepat. Departemen Irigasi Kerajaan melaporkan telah mengirimkan lebih dari 6.700 unit mesin pompa, truk tangki air, dan alat pembagi air ke 46 provinsi. Sebanyak 597 unit di antaranya sudah dipakai untuk menyalurkan air bersih bagi warga yang membutuhkan.

"Kita harus mengubah kebiasaan memakai air dan mengatur sumber daya alam dengan lebih hemat agar masalah kekurangan air seperti ini bisa dikurangi pada masa depan," kata perwakilan resmi TEI, dilansir Nation Thailand.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team