ilustrasi kapsul obat (pexels.com/Anna Shvets)
Direktur Rumah Sakit Al-Tahrir di Kompleks Medis Nasser, Ahmad al-Farra, menyebutkan hanya 22 dari 38 rumah sakit yang beroperasi sebelum perang yang saat ini masih berfungsi. Daya tampung tempat tidur rumah sakit menyusut dari sekitar 3.950 menjadi 2.637 unit, sementara 62 persen peralatan pencitraan diagnostik tidak dapat digunakan. Jumlah tenaga dokter di wilayah tersebut juga mengalami penurunan sebesar 34,6 persen menjadi sekitar 1.363 orang.
Laporan kantor berita WAFA mencatat sekitar 44 persen persediaan obat-obatan penyelamat nyawa telah habis sepenuhnya dari penyimpanan. Kelangkaan persediaan ini berdampak pada pasokan anestesi, insulin, cairan intravena, hingga obat kemoterapi kanker. Dampak krisis persediaan medis tersebut memaksa penghentian sejumlah layanan kritis, termasuk prosedur radioterapi dan operasi jantung terbuka.
Layanan perawatan bayi baru lahir turut terpengaruh dengan penurunan jumlah inkubator dari 162 menjadi 122 unit. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan tidak ada satu pun rumah sakit di Gaza yang beroperasi dengan kapasitas penuh, sementara sekitar 12.400 pasien telah dievakuasi ke luar negeri sejak Oktober 2023. Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina menegaskan bahwa kerusakan fasilitas, kelangkaan obat-obatan dan pasokan medis, serta melonjaknya kebutuhan kemanusiaan terus menekan sektor kesehatan secara berat.