Setahun Gencatan Senjata Gaza, Koalisi HAM Kecam Pelanggaran Israel

- Koalisi lebih dari 100 organisasi HAM mengecam gencatan senjata Gaza yang dinilai semu; serangan Israel selama setahun dilaporkan menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina dan melukai lebih dari 5.000 orang.
- Wilayah Gaza yang dikuasai militer Israel dilaporkan naik dari 53 persen menjadi 63 persen, memaksa 2,1 juta warga mengungsi di area sempit di tengah kerusakan bangunan masif.
- Seluruh 36 rumah sakit Gaza tidak beroperasi penuh akibat kekurangan pasokan; lebih dari 18.500 pasien membutuhkan evakuasi, sementara 1,4 juta warga diperkirakan menghadapi kelaparan akut.
Jakarta, IDN Times - Koalisi lebih dari 100 organisasi hak asasi manusia (HAM) dan lembaga kemanusiaan internasional mengecam status gencatan senjata di Jalur Gaza yang dinilai hanya berlaku di atas kertas. Pasukan Israel dilaporkan masih terus melancarkan serangan mematikan, memperluas pendudukan militer, dan menghalangi bantuan rekonstruksi selama setahun terakhir.
Pernyataan bersama tersebut dirilis bertepatan dengan peringatan satu tahun berlakunya perjanjian penghentian permusuhan pada 10 Oktober 2025. Lembaga-lembaga itu menegaskan bahwa pertumpahan darah dan pembatasan hak hidup warga sipil tidak boleh dinormalisasi di balik kesepakatan damai semu.
1. Ribuan warga Gaza tewas dan terluka selama setahun gencatan senjata

pengeboman Kota Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim) Serangan udara, penembakan artileri, dan operasi militer Israel telah menewaskan lebih dari 1.400 warga Palestina selama setahun masa gencatan senjata. Sedikitnya 327 anak-anak tercatat menjadi korban tewas dalam berbagai insiden penyerangan tersebut. Selain korban meninggal, lebih dari 5 ribu warga dilaporkan menderita luka-luka.
Proses pencarian para korban berlangsung di tengah keterbatasan fasilitas penunjang evakuasi. Warga sipil dan tim penyelamat terpaksa menggali puing bangunan dengan tangan kosong demi mengevakuasi lebih dari 630 jenazah. Otoritas Israel melarang masuknya alat berat, sementara sekitar 10 ribu korban lainnya diperkirakan masih tertimbun reruntuhan.
Kematian selama setahun gencatan senjata menambah panjang deretan korban sejak perang meletus pada Oktober 2023. Kementerian Kesehatan Palestina mencatat total korban jiwa kini melampaui 74 ribu orang, termasuk lebih dari 21 ribu anak-anak. Jumlah korban luka-luka kini menembus 175 ribu orang, dengan sekitar 24 persen di antaranya diperkirakan membutuhkan perawatan jangka panjang.
"Gencatan senjata tidak memiliki arti jika anak-anak terus terbunuh dan keluarga belum bisa membangun kembali kehidupan mereka," kata Inger Ashing, Kepala Eksekutif Save the Children, dilansir Al Jazeera pada Jumat (9/10/2026).
2. Militer Israel kuasai mayoritas wilayah Gaza

pemandangan Jalur Gaza (unsplash.com/Mohammed Ibrahim) Militer Israel terus menggeser batas wilayah pembatas atau Garis Kuning ke arah barat melampaui kesepakatan awal. Luas wilayah Gaza yang dikuasai tentara Israel melonjak dari 53 persen menjadi 63 persen. Pergeseran tersebut memaksa 2,1 juta warga berdesakan di titik pengungsian yang kian menyempit.
Kehancuran permukiman di seluruh penjuru Gaza bertambah parah meski status penghentian perang telah dideklarasikan. Analisis citra satelit memperlihatkan bahwa sekitar 82 persen bangunan di wilayah tersebut mengalami kerusakan fisik berat. Jumlah bangunan yang hancur total bahkan naik sembilan persen sejak perjanjian damai diteken.
Tumpukan puing di wilayah tersebut saat ini diperkirakan mencapai 61 juta ton. Volume tersebut setara dengan 20 kali lipat reruntuhan gabungan seluruh perang di dunia dalam 18 tahun terakhir. Biaya pemulihan serta rekonstruksi menyeluruh fasilitas sipil diproyeksikan membutuhkan dana hingga 71,4 miliar dolar AS (sekitar Rp1.277 triliun).
"Sangat memalukan bahwa setelah satu tahun penuh kesepakatan ditandatangani, perbaikan bagi warga Palestina di Gaza sangat minim," tutur Jan Egeland, Sekretaris Jenderal Norwegian Refugee Council, dilansir Arab News.
3. Fasilitas medis lumpuh di tengah ancaman kelaparan

ilustrasi perbatasan Gaza. (unsplash.com/Emad El Byed) Sektor kesehatan Gaza berada dalam kondisi kritis dengan seluruh fasilitas medis kehilangan kapasitas pelayanan optimal. Tidak ada satu pun dari 36 rumah sakit yang mampu beroperasi penuh akibat kelangkaan bahan bakar, obat-obatan, dan suku cadang. Pemadaman listrik berkala terpaksa diterapkan pada ruang perawatan intensif dan inkubator bayi.
Ketiadaan fasilitas memadai memperburuk kondisi ribuan pasien darurat yang membutuhkan penanganan medis ke luar daerah. Lebih dari 18.500 pasien, termasuk sedikitnya 4 ribu anak-anak, mendesak untuk dievakuasi keluar dari Gaza. Otoritas mencatat lebih dari 1.000 orang meninggal dunia saat menunggu izin evakuasi medis tersebut.
Krisis pangan dan sanitasi turut mempercepat penularan wabah penyakit menular di permukiman pengungsian. Sekitar 1,4 juta warga diprediksi menghadapi kelaparan akut hingga akhir tahun akibat keterbatasan pasokan bantuan pokok. Krisis ini kian parah karena pendanaan respons kemanusiaan tahun 2026 baru terpenuhi di bawah 40 persen.
Koalisi organisasi sipil menuntut komunitas internasional untuk segera menekan Israel agar mencabut blokade bantuan dan alat rekonstruksi. Mereka meminta seluruh negara donor memastikan hukum internasional kembali ditegakkan.

























