Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Lindungi Pasokan Lokal, Filipina Tangguhkan Ekspor Ube
Ilustrasi ube (magnific.com/freepik)
  • Pemerintah Filipina menangguhkan ekspor ube segar dan bibit tanpa batas waktu untuk menjaga ketersediaan bahan tanam domestik di tengah permintaan internasional yang meningkat.
  • Larangan mencakup kebutuhan konsumsi, budidaya, dan penelitian; stasiun karantina menghentikan sertifikat ekspor serta berkoordinasi dengan bea cukai untuk mencegah penyelundupan.
  • Filipina menyiapkan anggaran 300 juta peso pada 2027 untuk kultur jaringan bibit unggul dan pemetaan genetika varietas lokal, demi memperkuat kapasitas produksi ube.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times – Pemerintah Filipina resmi menangguhkan ekspor komoditas ube segar beserta bibitnya pada Minggu (13/9/2026). Kebijakan ini diambil sebagai langkah preventif untuk mengamankan ketersediaan bibit di dalam negeri di tengah melonjaknya permintaan internasional.

Otoritas pertanian setempat kini lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan petani lokal ketimbang memasok pasar luar negeri. Penguatan kapasitas produksi domestik ini dinilai krusial agar Filipina mampu meraup keuntungan ekonomi yang lebih maksimal di pasar global.

1. Penghentian ekspor bahan tanam

Biro Industri Tanaman Filipina sebenarnya telah menghentikan ekspor ube mentah tanpa batas waktu sejak pertengahan Agustus lalu. Larangan ini berlaku tegas bagi komoditas segar maupun bibit yang ditujukan untuk konsumsi, budidaya, hingga penelitian.

Seluruh stasiun karantina tumbuhan telah diinstruksikan untuk menyetop penerbitan sertifikat ekspor komoditas tersebut. Otoritas karantina juga memperketat koordinasi dengan pihak bea cukai guna mencegah bocornya penyelundupan bibit melalui pelabuhan dan bandara.

"Tujuan utama larangan ini adalah mencegah krisis bibit di Filipina dan melindungi varietas lokal dari eksploitasi negara asing," kata Menteri Pertanian Filipina, Francisco Tiu Laurel Jr.

2. Lonjakan permintaan global

Permintaan internasional terhadap ube terus meningkat pesat, terutama sebagai bahan baku olahan makanan seperti selai, bubuk, dan pasta. Sayangnya, tingginya permintaan global tersebut belum sebanding dengan kapasitas panen petani lokal yang masih sangat terbatas.

Produk olahan ube Filipina sejatinya telah berhasil menembus pasar Kanada, Timur Tengah, dan Asia. Namun, ambisi ekspansi ke pasar Amerika Serikat dan Eropa terpaksa terhambat oleh minimnya pasokan bahan baku.

Pemerintah khawatir jika ekspor bibit mentah dibiarkan, hal itu justru akan memicu budidaya mandiri oleh negara-negara tujuan ekspor.

"Kami sendiri sedang kekurangan bibit, sehingga kami tidak ingin mengekspornya ke negara-negara yang nantinya berpotensi menjadi kompetitor kami," ujar Francisco, dilansir The Star.

3. Upaya penguatan produksi dan pemetaan genetik varietas

Sebagai solusi jangka panjang, Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menyetujui kucuran anggaran sebesar 300 juta peso (Rp84,65 miliar) untuk program pengembangan ube pada 2027. Dana tersebut akan difokuskan untuk melipatgandakan pasokan bibit unggul melalui metode kultur jaringan.

Selain itu, para peneliti dari University of the Philippines Los Baños turut digandeng untuk memetakan genetika varietas lokal guna mencegah aksi pencurian hayati. Dari sisi pelaku industri, mereka juga berinisiatif membentuk United Ube PH Association Inc. demi memperkuat ekosistem agribisnis ube.

"Penangguhan ekspor ini semata-mata bertujuan untuk mengamankan pasokan bibit domestik, sembari menunggu industri ube kita meningkatkan kapasitas produksinya," tutup Francisco.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article