Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva sedang menyampaikan pidatonya di General Assembly Hall, New York, Selasa (23/9/2025). (YouTube IDN Times)
Kemenangan Lula menjadi kabar buruk bagi keluarga Bolsonaro. Jair Bolsonaro yang tengah menjalani tahanan rumah di Brasilia berharap putranya menang agar dirinya dapat dibebaskan dan memperoleh peran dalam pemerintahan. Namun, harapan tersebut kandas setelah Flavio Bolsonaro kalah dalam putaran kedua pemilihan presiden.
Hasil pemilihan juga menjadi pukulan bagi Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump merupakan sekutu internasional terpenting keluarga Bolsonaro dan berharap Flavio menjadi salah satu pemimpin pro-Trump terbaru yang berkuasa di Amerika Latin.
Trump sebelumnya mendukung sejumlah pemimpin pro-Trump di kawasan tersebut, termasuk Abelardo de la Espriella di Kolombia, Daniel Noboa di Ekuador, José Antonio Kast di Chile, dan Javier Milei di Argentina.
Konfirmasi kemenangan Lula disambut kemarahan dan kebingungan di Brasilia, tempat Jair Bolsonaro tinggal dalam tahanan rumah dan putranya mengikuti penghitungan suara. Sementara itu, pendukung Lula kembali memenuhi Sao Paulo pada Minggu malam untuk merayakan hasil pemilihan. Ratusan orang berkumpul di Paulista Avenue, membawa bendera merah dengan wajah Lula.
“ Saya sangat bahagia berada di sini dan berjuang untuk Lula,” kata Camilo Buarque, 35 tahun, saat menyaksikan Lula unggul dalam penghitungan suara.
“Keyakinan saya datang dari energi, kebahagiaan, dan cinta dari orang-orang di sekitar saya. Inilah demokrasi,” imbuhnya.
Ester Almeida, 28 tahun, juga mengungkapkan kegembiraannya saat mengikuti penghitungan suara.
“Jantung saya berdetak seribu kali per detik, tetapi saya yakin,” katanya.
Sebelum pemungutan suara, pendukung Lula menggelar dua aksi besar pada Sabtu. Lebih dari satu juta orang memadati Pantai Copacabana di Rio de Janeiro, sementara jumlah yang lebih besar lagi berbaris di Paulista Avenue, Sao Paulo.
Di Rio, seorang sopir truk bernama Josias Silva mengaku yakin Lula akan kembali menang setelah berminggu-minggu berlangsung demonstrasi mahasiswa yang menentang Bolsonaro.
“Rakyat sudah bangun. Belum pernah ada demonstrasi seperti ini. Ini adalah unjuk rasa terbesar dalam sejarah Brasil. Dan besok kita akan menang dengan lebih dari 60 persen suara,” kata Silva.
Di Sao Paulo, sebagian pendukung Lula juga menyoroti dugaan upaya politisi pro-Bolsonaro untuk menggagalkan pemilihan dengan mengganggu transportasi umum di wilayah-wilayah yang menjadi basis pemilih Lula.
“ Saya pikir ini adalah upaya kudeta lain yang sedang dicoba oleh ekstrem kanan di Brasil. Namun, kita benar-benar harus berjuang agar bisa menang,” kata Lucas Lopes, 32 tahun, pekerja hubungan masyarakat asal Sao Paulo.
Dugaan upaya tersebut gagal menggagalkan kemenangan Lula.
“ Saya akan jujur. Pada putaran pertama, kelompok kiri gagal. Namun, pada putaran kedua mereka bangkit,” kata Caio Marques, 40 tahun, fotografer dari Franca, sebuah kota di pedalaman negara bagian Sao Paulo.
“Dan tidak ada kudeta yang bisa merampas kemenangan ini dari kami,” tambahnya.