Menlu Sugiono saat memberikan national statement di General Debate UNGA81, di New York, Amerika Serikat. (Dok. Kemlu RI)
Selain reformasi institusi multilateral, Sugiono menilai arsitektur keuangan internasional juga perlu berkembang agar lebih mampu merespons kebutuhan negara berkembang.
Menurut dia, negara-negara berkembang membutuhkan ruang yang lebih besar untuk menentukan prioritas pembangunan masing-masing sekaligus membangun ketahanan nasional.
“Arsitektur keuangan internasional juga harus berkembang agar dapat merespons kebutuhan negara-negara berkembang dengan lebih baik dan memberikan mereka ruang yang lebih besar untuk mengejar prioritas pembangunan sendiri serta membangun ketahanan mereka,” kata Sugiono.
Namun, Sugiono kembali menekankan penguatan institusi saja tidak cukup. Prinsip-prinsip yang menjadi fondasi sistem internasional juga harus dipertahankan.
Dia menyebut hukum internasional harus ditegakkan secara konsisten, kedaulatan harus dihormati, dan kolonialisme harus diakhiri.
Dalam konteks tersebut, Sugiono membawa isu Palestina sebagai salah satu contoh penting. Menurutnya, Palestina menjadi ujian apakah sistem multilateral mampu mempertahankan prinsip-prinsip yang selama ini menjadi dasar keberadaannya.
Bagi Indonesia, penguatan multilateralisme pada akhirnya harus menghasilkan kemampuan nyata untuk menghadapi krisis, menjaga perdamaian, mendorong pembangunan, dan memperkuat kerja sama internasional.