Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Menteri Israel Gunakan Denda Masjid untuk Bahan Kampanye Pemilu
ilustrasi bendera Israel (pexels.com/Thắng-Nhật Trần)
  • Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir mempromosikan denda terhadap Masjid Al-Rahma di Tel Sheva terkait dugaan kebisingan pengeras suara sebagai bagian kampanye pemilu.
  • Menjelang pemilu 27 Oktober, Ben-Gvir juga menonjolkan pembongkaran rumah warga Arab, termasuk melalui video pembongkaran gedung permukiman di At-Tur, Yerusalem Timur.
  • Joint Arab List mengajukan petisi untuk menghentikan penggunaan pembongkaran dan penggusuran komunitas Arab dalam kampanye, yang dinilai bertujuan mengintimidasi serta menekan partisipasi pemilih.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, menggunakan sanksi denda terhadap masjid untuk mempromosikan kampanye pemilunya pada Senin (19/10/2026). Menteri berhaluan ekstremis tersebut membanggakan denda yang dijatuhkan aparat kepolisian kepada sebuah masjid di kota Tel Sheva, wilayah selatan Israel.

Langkah tersebut berlangsung di tengah persaingan antarpartai politik yang kian ketat menjelang pemilu Israel pada 27 Oktober mendatang. Partai-partai Arab menuduh Ben-Gvir mengeksploitasi langkah-langkah penindakan terhadap komunitas Arab di Israel demi kepentingan elektoral dan mengintimidasi para pemilih.

1. Denda pengeras suara Masjid Al-Rahma di Tel Sheva

ilustrasi masjid (pexels.com/Fuzail Ahmad)

Kepolisian Israel yang berada di bawah kewenangan Ben-Gvir menggerebek Masjid Al-Rahma di lingkungan Abu Anza, Tel Sheva, pada Minggu (18/10/2026). Aparat kepolisian menjatuhkan denda atas dugaan volume pengeras suara yang berlebihan di tempat ibadah tersebut. Dilansir Anadolu Agency, Ben-Gvir kemudian mengunggah foto masjid itu melalui saluran Telegram miliknya pada Senin (19/10/2026).

Dalam unggahan tersebut, dia menyatakan bahwa personel kepolisian telah tiba di lokasi, mengukur tingkat kebisingan, dan menjatuhkan denda akibat menimbulkan kebisingan yang tidak dapat diterima. Dia menegaskan penegakan aturan pelanggaran kebisingan masjid ini dijalankan aparat di seluruh negeri berdasarkan kebijakan yang dia perkenalkan. "Hal ini tidak terbatas di Tel Sheva," kata Ben-Gvir mengenai penindakan tersebut.

Ben-Gvir mengklaim isu pengeras suara masjid telah diabaikan selama beberapa dekade dan menyatakan telah mengubah kebijakan itu sejak mulai menjabat. Dia juga menilai langkah aparat penegak hukum sudah berjalan ke arah yang semestinya. "Meskipun situasinya belum sempurna dan masih ada ruang untuk perbaikan, kita tidak diragukan lagi bergerak ke arah yang benar," tambahnya.

2. Sorotan pembongkaran rumah warga dalam kampanye

Itamar Ben-Gvir (דוד דנברג, CC BY-SA 3.0, via Wikimedia Commons)

Dalam beberapa pekan terakhir, Ben-Gvir turut menyoroti pembongkaran rumah-rumah warga Arab di Israel sebagai bagian dari kampanye pemilunya. Penonjolan isu pembongkaran bangunan ini menjadi materi kampanye yang dipromosikannya menjelang pemungutan suara.

Menurut dokumen petisi yang diajukan ke Komite Pemilihan Pusat, Ben-Gvir memublikasikan rekaman video dari pembongkaran sebuah gedung permukiman di lingkungan At-Tur, Yerusalem Timur yang diduduki. Dalam video tersebut, dia tampak berdiri di samping buldoser serta aparat kepolisian sambil membanggakan bahwa buldoser pemerintah tidak pernah berhenti bekerja.

3. Petisi mendesak koalisi partai Arab ke komite pemilu

ilustrasi pemilu (unsplash.com/Element5 Digital)

Joint Arab List yang merupakan aliansi tiga partai politik mengumumkan telah mengajukan petisi mendesak kepada Ketua Komite Pemilihan Pusat Israel pada Minggu (18/10/2026). Petisi tersebut ditujukan terhadap Ben-Gvir, partainya Jewish Power, kepolisian, dan otoritas penegakan tanah Israel. Aliansi berupaya mencegah penggunaan pembongkaran serta penggusuran yang bermotif politik di lingkungan komunitas Arab untuk keperluan kampanye pemilu.

Aliansi juga menuduh otoritas menghidupkan kembali kasus-kasus penggusuran yang tidak dieksekusi selama lebih dari dua dekade dengan tanggal penegakan yang bertepatan pada hari pemilihan. Aliansi menuntut dikeluarkannya perintah untuk mencegah Ben-Gvir dan partainya memanfaatkan pembongkaran serta penggusuran demi kepentingan kampanye, sekaligus melarang kepolisian dan badan penegakan hukum menyediakan personel maupun peralatan untuk kegiatan tersebut. "Ben-Gvir harus dicegah mengubah pembongkaran rumah keluarga-keluarga Arab menjadi materi kampanye pemilu," tegas aliansi tersebut.

Joint Arab List menuding Ben-Gvir bersama pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berupaya melancarkan pembongkaran dan penggusuran menjelang serta saat pemilu untuk menyebarkan ketakutan, mematahkan partisipasi, dan menekan penggunaan hak suara warga di komunitas Arab. Aliansi tetap menyerukan warga Arab Israel untuk menggunakan hak pilih pada pemilu 27 Oktober mendatang. Warga Arab mencakup sekitar 20 persen dari populasi Israel yang berjumlah lebih dari 10 juta jiwa dan tercatat telah lama mengeluhkan berbagai kebijakan diskriminatif, khususnya di bawah pemerintahan Netanyahu saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article