Proses penggantian kiswah atau kain penutup Ka’bah di Masjidilharam, Makkah, Arab Saudi yang dimulai sejak Senin (15/6/2026) sore. Penggantian kiswah akan berlangsung pada 1 Muharam atau saat tahun baru Islam. Dok. MCH 2026.
Tradisi menutup Baitullah dengan kain mulia sesungguhnya telah ada sejak sebelum agama Islam disyiarkan. Merujuk pada catatan sejarah Islam (sumber: Saudipedia & Ensiklopedia Islam Online), berikut adalah rekam jejak evolusi Kiswah dari masa ke masa:
Era Pra-Islam
Sebagian besar sejarawan sepakat bahwa orang pertama yang menutup Ka'bah secara penuh adalah Raja Tubba' (Abu Karib As'ad) dari Kerajaan Himyar, Yaman. Usai berkunjung ke Makkah, ia tidak hanya memasang penutup dari kain tenun lokal (seperti kain Yaman), tetapi juga membuatkan pintu dan kunci untuk Ka'bah. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh Quraisy, di mana tokoh kaya raya seperti Abu Rabiah ibn Amr al-Makhzumi pernah menanggung biaya pembuatan kiswah bergantian dengan suku Quraisy.
Era Rasulullah SAW & Khulafaur Rasyidin
Setelah peristiwa penaklukan kota Makkah (Fathu Makkah), Rasulullah SAW menyempurnakan tradisi ini dengan niat murni untuk ibadah, mengganti kain lama yang bernilai syirik dengan kain bergaris merah-putih dari Yaman. Tradisi penggantian secara tahunan kemudian dikukuhkan oleh Khalifah Umar bin Khattab dan diteruskan oleh Utsman bin Affan.
Era Dinasti Abbasiyah
Pada masa Khalifah Al-Mahdi, diputuskan bahwa kiswah hanya boleh dipasang satu lapis saja. Sebelumnya, kiswah baru kerap ditumpuk di atas kiswah lama, yang dikhawatirkan akan merusak struktur bangunan Ka'bah akibat bebannya. Di era Abbasiyah ini pula, penggunaan sutra berwarna hitam yang dihiasi kaligrafi mulai menjadi standar yang bertahan hingga kini.
Era Modern (Arab Saudi)
Selama berabad-abad, kiswah diproduksi di Mesir oleh para penenun terbaik sebelum akhirnya dikirim ke Makkah. Namun, pada tahun 1927, Raja Abdulaziz Al Saud, pendiri Kerajaan Arab Saudi, mendirikan pabrik khusus pembuatan kiswah (Majma' Malik Abdul Aziz li Kiswatil Ka'bah) di Makkah. Sejak saat itu, produksi dan perawatan kiswah dikelola sepenuhnya oleh Kerajaan Arab Saudi.