Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Mulai Membusuk, Ratusan Jenazah Korban Banjir Nepal Dikubur Massal
ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie)
  • Otoritas Chitwan menyiapkan penguburan massal bagi jenazah korban banjir yang membusuk dan belum teridentifikasi, setelah kamar mayat penuh; sampel DNA serta penanda lokasi akan disiapkan.
  • Banjir bandang di Nepal dan Tibet menewaskan lebih dari 600 orang di Nepal serta 7 orang di Tibet, dengan sedikitnya 3.000 orang dan 517 warga asing masih hilang.
  • Pencarian di wilayah terisolasi mengandalkan helikopter dan bantuan internasional; operasi sempat dihentikan karena risiko banjir susulan dari danau baru, lalu dilanjutkan setelah risiko dinilai terkendali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pihak berwenang di distrik Chitwan, Nepal tengah, berencana melakukan penguburan massal terhadap ratusan jenazah tak dikenal yang tewas akibat banjir bandang pada Rabu (26/8/2026). Pasalnya, banyak jenazah yang ditemukan mulai membusuk, sementara kamar mayat sudah penuh.

Ganesh Aryal, pejabat tinggi distrik Chitwan, mengatakan bahwa dari 233 jenazah yang ditemukan di daerah tersebut, hanya empat yang berhasil diidentifikasi. Jenazah-jenazah yang belum teridentifikasi rencananya akan dimakamkan di tepi sungai di kota Devghat, yang terkenal sebagai destinasi ziarah umat Hindu, mulai hari ini.

Aryal menerangkan bahwa sebelum dimakamkan, jenazah-jenazah tersebut akan diambil sample DNA-nya agar mereka dapat diidentifikasi di kemudian hari. Lokasi pemakaman juga akan diberi tanda supaya pihak keluarga bisa menemukan kembali jenazah orang-orang yang mereka cintai.

1. Pemerintah Nepal minta bantuan asing untuk identifikasi dan simpan jenazah

ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie)

Dilansir CNN, seorang anggota parlemen Nepal sebelumnya mengatakan bahwa proses identifikasi jenazah menjadi tantangan besar karena kondisi jenazah yang rusak parah dan berlumuran lumpur. Sejauh ini, korban tewas akibat banjir bandang telah mencapai lebih dari 600 orang di Nepal dan 7 orang di Tibet, China.

Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, mengatakan bahwa pemerintah telah meminta bantuan asing untuk mengidentifikasi dan menyimpan jenazah. Ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi tim pencarian dan penyelamatan, mengingat sedikitnya 3 ribu orang masih hilang di kedua negara.

Ia mengungkapkan bahwa hanya helikopter yang dapat menjangkau beberapa wilayah yang paling parah terdampak banjir. Dalam beberapa kasus, helikopter-helikopter tersebut harus bermanuver melewati celah-celah ngarai yang sempit.

“Helikopter-helikopter Nepal harus mengantre hanya untuk bisa melewati ngarai-ngarai sempit tersebut,” ujarnya.

2. 517 WNA dilaporkan hilang di Nepal

ilustrasi hujan lebat (Mavision PC, CC BY 3.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/3.0>, via Wikimedia Commons)

Dilansir BBC, sedikitnya 517 warga negara asing dilaporkan hilang di Nepal. Beberapa di antaranya merupakan peziarah dan pendaki.

"Kami hanya berharap dan berdoa agar semuanya baik-baik saja," kata seorang pria di London, Inggris, yang hingga kini belum menerima kabar dari orang tuanya.

Saat ini, bantuan internasional telah tiba dari India, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Federasi Palang Merah, Australia, Korea Selatan, dan Amerika Serikat (AS). Para pejabat memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan akan terus bertambah mengingat tim penyelamat masih berusaha menjangkau wilayah-wilayah yang terisolasi akibat lumpur dan jalan yang terputus.

3. Operasi pencarian sempat dihentikan karena khawatir banjir susulan

gunung Himalaya (unsplash.com/Ben Lowe)

Dilansir Al Jazeera, banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Nepal-Tibet terjadi pada Rabu pagi, ketika sebagian gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter di pegunungan Himalaya. Bongkahan besar es tersebut meluncur sekitar 1.200 meter dengan membawa bebatuan dan puing-puing sebelum akhirnya menghantam sungai Lende.

Gelombang air yang dihasilkan kemudian menerjang ke arah selatan melalui distrik Rasuwa, Nuwakot dan Dhading di Nepal. Di satu titik, ketinggian air Sungai Trishuli bahkan mencapai hingga 9 meter dalam waktu 30 menit. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) awalnya menyebut gempa bumi sebagai pemicu bencana tersebut. Namun, badan itu kemudian merevisi temuan awalnya dan menyimpulkan bahwa sinyal seismik tersebut justru berasal dari tanah longsor itu sendiri.

Sementara itu, sebuah danau baru terbentuk akibat genangan air banjir dan permukaan airnya terus meningkat. Misi pencarian sempat dihentikan sementara karena dikhawatirkan terjadi banjir susulan. Namun, operasi tersebut kini telah dilanjutkan setelah risiko yang ditimbulkan oleh danau itu dinilai dapat dikendalikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article