Gelombang air yang dihasilkan kemudian menerjang ke arah selatan melalui distrik Rasuwa, Nuwakot dan Dhading di Nepal. Di satu titik, ketinggian air Sungai Trishuli bahkan mencapai hingga 9 meter dalam waktu 30 menit. Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) awalnya menyebut gempa bumi sebagai pemicu bencana tersebut. Namun, badan itu kemudian merevisi temuan awalnya dan menyimpulkan bahwa sinyal seismik tersebut justru berasal dari tanah longsor itu sendiri.
Hujan Hambat Operasi Bantuan Banjir Bandang di Nepal-Tibet

- Hujan diperkirakan berlanjut hingga 31 Agustus 2026, menghambat akses bantuan banjir bandang Nepal-Tibet; pemerintah mengandalkan helikopter, sementara penyaluran via drone masih dibahas.
- Banjir menewaskan 734 orang di Nepal dan 16 di Tibet, dengan sekitar 3.000 orang hilang. Hampir 20.000 personel dikerahkan dan sekitar 8.000 warga telah diselamatkan.
- Pencarian hampir 900 pekerja PLTA terus berlangsung, termasuk di terowongan Trishuli-3 A. Bencana dipicu runtuhnya gletser Himalaya yang memicu gelombang besar ke sejumlah distrik Nepal.
Jakarta, IDN Times - Hujan menjadi tantangan besar dalam operasi pencarian dan penyelamatan korban akibat banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet. Prakiraan cuaca menunjukkan hujan akan terus turun setidaknya hingga Senin (31/8/2026).
Dilansir BBC, Lila Pieters Yahia, Koordinator Residen PBB untuk Nepal, mengatakan bahwa meski bantuan asing terus berdatangan, akses untuk menjangkau warga yang terdampak masih sangat sulit. Pemerintah telah mulai mengangkut segala kebutuhan menggunakan helikopter, sementara penggunaan drone untuk menyalurkan bantuan masih dalam pembahasan.
"Cuaca tidak mendukung kami," tambah Yahia.
1. Sekitar 8 ribu orang telah berhasil diselamatkan

ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie) Hingga kini, korban tewas akibat banjir bandang pada Rabu (26/8/2026) telah bertambah menjadi 734 orang di Nepal dan 16 orang di Tibet. Sementara itu, sekitar 3 ribu lainnya masih dinyatakan hilang di kedua wilayah tersebut, termasuk ratusan warga negara asing. Hampir 20 ribu personel keamanan dikerahkan dalam upaya penyelamatan, dengan sekitar 8 ribu orang telah berhasil diselamatkan.
Pada Minggu (30/8/2026) pagi, petugas pencarian dan penyelamatan di dekat zona banjir di Nepal diminta untuk tetap waspada seiring meningkatnya debit air di Sungai Bhote Koshi.
"Ada laporan bahwa aliran Sungai Bhote Koshi di Rasuwa sedikit meningkat akibat banjir. Petugas pencarian dan penyelamatan di wilayah terdampak seperti Rasuwa, Nuwakot, Dhading, dan Chitwan, serta warga yang tinggal di bantaran sungai dan masyarakat umum lainnya, diminta untuk tetap waspada," tulis Otoritas Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana di platform X.
2. Ratusan pekerja yang terjebak dalam terowongan PLTA masih dalam pencarian

ilustrasi banjir (pexels.com/Pok Rie) Sementara itu, operasi pencarian terhadap hampir 900 pekerja yang hilang di berbagai proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal terus dilakukan. Tim tanggap darurat telah memompa udara ke dalam salah satu terowongan, tapi masih belum berhasil menjalin komunikasi dengan siapa pun di dalamnya.
Menurut Asosiasi Produsen Listrik Independen Nepal, diperkirakan terdapat 898 pekerja di berbagai proyek PLTA yang belum diketahui nasibnya. Data asosiasi tersebut menunjukkan bahwa sekitar 361 pekerja sejauh ini telah berhasil diselamatkan.
“Upaya penyelamatan yang sedang berlangsung di terowongan Proyek PLTA Trishuli–3 ‘A’ yang tertimbun lumpur dan material sedimen setelah banjir telah menunjukkan sejumlah kemajuan,” kata Menteri Energi, Sumber Daya Air, dan Irigasi Nepal, Biraj Bhakta Shrestha, dalam pernyataan pada Sabtu (29/8/2026) malam.
Ia menambahkan bahwa tim penyelamat telah menyingkirkan lumpur dan material sedimen dengan ekskavator serta membuat lubang berdiameter 6 inci melalui bagian atas terowongan. Pemeriksaan awal menunjukkan tidak ada material di dalam terowongan, dilansir CNN.
3. Banjir bandang dipicu oleh runtuhnya gletser di pegunungan Himalaya

gunung Himalaya (unsplash.com/Ben Lowe) Dilansir Al Jazeera, banjir bandang yang melanda wilayah perbatasan Nepal-Tibet dipicu oleh runtuhnya gletser dari ketinggian sekitar 5.200 meter (m) di pegunungan Himalaya. Bongkahan besar es tersebut meluncur sekitar 1.200 meter dengan membawa bebatuan dan puing-puing sebelum akhirnya menghantam sungai Lende.


















