“Kemungkinan akan ditemukan lebih banyak jenazah dari tempat-tempat di mana rumah sakit kewalahan menangani jenazah dan kekurangan lemari pendingin untuk menyimpannya,” kata Khanal dalam pernyataannya kepada awak media pada Sabtu (29/8/2026), seperti dilansir CNA.
Korban Banjir Terus Bertambah, RS Setempat di Nepal Kewalahan

- Rumah sakit di Nepal kewalahan menangani jenazah korban banjir karena kekurangan lemari pendingin, sementara korban baru terus berdatangan.
- Proses identifikasi terhambat oleh jenazah yang membusuk dan minimnya ahli forensik, sehingga autopsi serta penyerahan korban kepada keluarga melambat.
- Banjir bandang dan longsor telah menewaskan 750 orang, dengan lebih dari 3.000 orang masih hilang saat pencarian di lumpur dan reruntuhan berlangsung.
Jakarta, IDN Times - Rumah sakit (RS) setempat di Nepal dikabarkan kewalahan karena menangani korban banjir yang terus bertambah setiap harinya. Menteri Luar Negeri (Menlu) Nepal, Shisir Khanal mengatakan, saat ini, sejumlah RS di Nepal yang ada di sekitar lokasi bencana mengalami kekurangan lemari pendingin untuk mengawetkan jenazah para korban.
1. Jenazah korban banjir harus disimpan di lemari pendingin untuk diautopsi

ilustrasi kamar mayat (pexels.com/RDNE Stock project) Khanal menjelaskan, semua jenazah korban banjir di Nepal yang sudah ditemukan harus disimpan terlebih dahulu untuk diautopsi. Langkah ini dilakukan agar jenazah tersebut bisa diidentifikasi identitasnya agar bisa dikembalikan lagi ke keluarganya. Sebab, mereka kini sedang harap-harap cemas menunggu kepulangan sanak keluarganya yang menjadi korban banjir.
Sayangnya, proses identifikasi jenazah para korban saat ini terhambat. Sebab, banyak jenazah yang sudah membusuk sehingga DNA-nya jadi sulit diketahui. Inilah yang lantas membuat jenazah korban banjir menumpuk di rumah sakit setempat dan membuat para petugas kesehatan yang bertugas dan berjaga di sana kewalahan. Padahal, jenazah terus berdatangan karena korban tewas terus bertambah seiring waktu.
2. Ahli forensik yang terbatas turut memperburuk keadaan

ilustrasi dokter ahli forensik (unsplash.com/National Cancer Institute) Masalah tadi juga diperburuk oleh kurangnya dokter ahli forensik di Nepal. Sebab, jumlah dokter forensik di negara tersebut rupanya terlalu sedikit untuk mengautopsi jenazah korban banjir yang jumlahnya mencapai ratusan. Hal ini lantas ikut menghambat proses autopsi sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi identitas korban jadi lebih banyak.
“Kami tidak pernah mengantisipasi bencana sebesar ini. Prioritas kami adalah menyerahkan jenazah yang telah diidentifikasi kepada keluarga secepat mungkin sekaligus mempercepat proses autopsi dan pengambilan sampel untuk sisanya,” jelas Jagadishwor Upadhya, Kepala Petugas Distrik di Nawalparasi Timur, salah satu wilayah yang terdampak bencana, seperti dilansir Kathmandu Post.
3. Korban tewas dan hilang akibat banjir di Nepal sudah tembus 750 orang

ilustrasi korban tewas (pexels.com/Mario Wallner) Saat ini, korban tewas imbas banjir bandang dan longsor di Nepal sudah mencapai 750 orang. Sementara itu, lebih dari 3.000 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Petugas penyelamat kini masih berupaya untuk mencari mereka.
Berdasarkan keterangan otoritas keamanan Nepal, jumlah korban tewas diprediksi masih akan terus bertambah dalam beberapa hari ke depan. Sebab, hingga saat ini, petugas penyelamat masih berjibaku di lapangan untuk menemukan korban yang masih hilang. Mereka diduga masih tertimbun lumpur dan reruntuhan bangunan yang diterjang banjir pada Rabu (26/8/2026) pagi lalu.


















