PM Israel Benjamin Netanyahu (U.S. Department of State from United States, Public domain, via Wikimedia Commons)
Kantor PM Israel membantah laporan bahwa Netanyahu berupaya memulai perang melawan Iran sebelum pemilu digelar. Mereka menyatakan sang PM hanya menjaga dialog rutin dengan Trump tanpa membahas isi percakapan mereka kepada publik. Gedung Putih juga memilih tidak memberikan komentar terkait laporan televisi tersebut.
Dalam wawancara bersama Army Radio pada Rabu (14/10/2026), Netanyahu menyatakan tidak mendukung serangan pendahuluan terhadap Teheran sebelum pemungutan suara. Para pengkritik sebelumnya menilai langkah militer menjelang pemilu hanya didasari oleh motif politik domestik. Pejabat AS menyebut pemerintahan Trump menyadari kekhawatiran politik Netanyahu yang meyakini kekuatannya bergantung pada citra sebagai perdana menteri masa perang.
"Waktu saat ini tidak tepat bagi kami, itu tidak baik. Bahkan jika Iran menembakkan rudal ke arah kami, mereka tetap akan menyalahkan saya," ujar Netanyahu, dilansir The Straits Times.
Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, turut memperingatkan pejabat AS bahwa eskalasi militer melawan Iran saat ini dapat memaksa penundaan pemilu Israel. Selain itu, seorang pejabat keamanan Israel menilai serangan baru tanpa operasi darat AS tidak akan membuahkan hasil berbeda dan justru menjadi bencana politik bagi Trump.