Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Netanyahu Minta Peningkatan Serangan untuk Hancurkan Hizbullah
PM Israel Benjamin Netanyahu (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
  • PM Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan peningkatan serangan di Lebanon untuk menghancurkan Hizbullah, menegaskan negara dalam status perang dan tidak akan mengendurkan tekanan militer.
  • Militer Israel menggempur lebih dari 70 target infrastruktur Hizbullah di Tyre dan Lembah Bekaa, menyebabkan korban sipil tewas serta ribuan warga Lebanon dievakuasi dari wilayah selatan.
  • Hizbullah mengubah taktik dengan drone berteknologi kabel serat optik yang sulit dijamming, membuat pasukan Israel kewalahan dan memaksa pengurangan personel di garis depan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk meningkatkan intensitas serangan di Lebanon demi menghancurkan kelompok Hizbullah. Perintah ini diumumkan melalui sebuah pernyataan video di aplikasi Telegram pada Senin (25/5/2026).

Netanyahu mengklaim pasukan Israel telah berhasil membunuh lebih dari 600 anggota Hizbullah dalam serangkaian pertempuran beberapa pekan terakhir. Dia menegaskan negaranya saat ini sedang berada dalam status perang dengan Hizbullah dan tidak berniat untuk mengendurkan serangan.

1. Netanyahu minta militer tingkatkan serangan di Lebanon

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu (Ron Przysucha / U.S. Department of State from United States, Public domain, via Wikimedia Commons)

Dalam pernyataannya, Netanyahu mengakui adanya ancaman serius dari pesawat nirawak (drone) tipe baru Hizbullah. Namun, ia memastikan sudah ada tim khusus yang sedang bekerja mencari solusi guna melawan senjata tersebut.

"Kami tidak akan mengangkat kaki kami dari pedal gas. Sebaliknya, saya telah menginstruksikan pasukan untuk menekan pedal lebih keras," ujar Netanyahu, dilansir The Times of Israel.

Instruksi ini muncul tak lama setelah adanya desakan dari dua menteri sayap kanan Israel. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menuntut serangan balasan hingga ke pusat ibu kota Lebanon, Beirut.

Smotrich menyatakan militer harus meruntuhkan 10 bangunan di Beirut sebagai hukuman atas setiap satu drone peledak yang dikirimkan Hizbullah ke Israel. Sementara itu, Ben-Gvir mendesak pemerintah untuk segera memutus aliran listrik di seluruh Lebanon dan mengirim tentara untuk menaklukkan wilayah Dahiyeh.

2. Militer Israel gempur 70 target infrastruktur di Lebanon

tentara Israel di Lebanon selatan. (wikimedia/IDF Spokesperson's Unit)

Pasukan Pertahanan Israel (IDF) merespons instruksi Netanyahu dengan mengerahkan armada udara untuk meluncurkan gelombang serangan besar-besaran. Mereka dilaporkan membombardir lebih dari 70 lokasi infrastruktur militer milik Hizbullah di kawasan Tyre dan Lembah Bekaa dalam waktu 24 jam terakhir.

Selain serangan presisi, pesawat tempur Israel juga menjatuhkan fosfor pembakar di area hutan sekitar kota Qlailah. Sementara itu, ketakutan akan eskalasi serangan Israel membuat penduduk meninggalkan pinggiran selatan Beirut.

Rangkaian pengeboman Israel kembali merenggut korban jiwa dari pihak sipil di area pemukiman padat penduduk Lebanon. Tim medis setempat melaporkan bahwa sedikitnya 12 orang tewas akibat serangan mematikan yang menghancurkan rumah-rumah di desa Mashghara, Lembah Bekaa.

Pihak militer Israel kembali mengeluarkan rentetan perintah evakuasi paksa untuk seluruh penduduk di 10 desa selatan Lebanon. Hingga kini, Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat total korban jiwa telah mencapai angka 3.185 orang sejak perang meletus di awal Maret.

3. Evolusi taktik drone Hizbullah bikin militer Israel kewalahan

tentara Hizbullah saat latihan militer (Tasnim News Agency, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons)

Hizbullah dilaporkan telah mengubah taktik serangan jarak jauh mereka. Kelompok tersebut kini fokus menggunakan drone dengan sudut pandang pertama (first-person view) yang terhubung dan dikendalikan melalui jaringan kabel serat optik.

Penggunaan kabel menjadikan drone Hizbullah hampir tidak terpengaruh oleh sistem pengacak sinyal (jamming) Israel. Hal ini membuat posisi pasukan darat Israel di perbatasan Lebanon semakin rentan terhadap serangan dari udara.

"Saat ini, kami tidak berdaya menghadapi ancaman yang mematikan ini. Sebenarnya, tangan pasukan seperti kami terikat dan situasi tersebut harus segera berubah," ungkap seorang pejabat anonim IDF, dilansir The Times of Israel.

Sebagai langkah antisipasi, komandan militer Israel memutuskan untuk mengurangi jumlah pasukan mereka dari garis terdepan Lebanon. Di sisi lain, Hizbullah membombardir wilayah utara Israel dengan 22 peluncuran roket dan drone bersenjata yang menyasar pangkalan militer.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article