Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Pasukan Perdamaian PBB Asal Prancis Tewas dalam Serangan di Lebanon
potret pasukan UNIFIL (flickr.com/Irish Defence Forces via commons.wikimedia.org/Irish Defence Forces)
  • Seorang pasukan perdamaian asal Prancis tewas dan tiga lainnya luka saat patroli UNIFIL diserang kelompok bersenjata di Lebanon selatan, dalam misi pembersihan bahan peledak.
  • Presiden Prancis Emmanuel Macron menuding Hizbullah sebagai pelaku serangan, namun kelompok tersebut membantah tuduhan itu dan meminta investigasi resmi dari militer Lebanon.
  • Pemerintah Lebanon mengecam keras insiden ini, menjanjikan penyelidikan penuh, sementara UNIFIL menegaskan serangan terhadap pasukan PBB melanggar hukum internasional dan bisa dikategorikan kejahatan perang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
awal Maret

Konflik antara Hizbullah dan Israel kembali memanas di Lebanon selatan, meningkatkan risiko bagi pasukan penjaga perdamaian PBB.

16 April

Gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku, menandai upaya meredakan ketegangan di wilayah tersebut.

19 April 2026

Presiden Prancis Emmanuel Macron menuding Hizbullah berada di balik serangan terhadap patroli UNIFIL yang menewaskan satu prajurit Prancis. Hizbullah segera membantah tuduhan itu dan meminta investigasi resmi militer Lebanon.

kini

Situasi keamanan di Lebanon selatan masih rawan. Pemerintah Lebanon dan UNIFIL melakukan koordinasi serta penyelidikan atas serangan yang disebut sebagai pelanggaran serius hukum humaniter internasional.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Seorang pasukan penjaga perdamaian asal Prancis tewas dan tiga lainnya terluka setelah patroli UNIFIL diserang di Lebanon selatan menggunakan senjata ringan.
  • Who?
    Korban merupakan anggota pasukan penjaga perdamaian PBB asal Prancis yang tergabung dalam UNIFIL; Presiden Emmanuel Macron menuding Hizbullah, namun kelompok tersebut membantah keterlibatannya.
  • Where?
    Insiden terjadi di desa Ghanduriyah, Lebanon selatan, saat tim UNIFIL menjalankan misi pembersihan sisa bahan peledak di jalur yang sebelumnya terisolasi akibat pertempuran.
  • When?
    Kejadian berlangsung pada Minggu, 19 April 2026, beberapa hari setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada 16 April.
  • Why?
    Serangan terjadi saat patroli UNIFIL melaksanakan misi membuka kembali akses ke posisi yang terputus; motif pelaku masih belum diketahui dan investigasi resmi sedang berlangsung.
  • How?
    Patroli UNIFIL disergap dari jarak dekat oleh kelompok bersenjata non-negara; korban terkena tembakan langsung meski rekan-rekannya sempat berusaha memberikan pertolongan di lokasi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Ada tentara dari Prancis yang kerja buat PBB di Lebanon. Mereka lagi bersih-bersih jalan dari benda berbahaya, tapi tiba-tiba diserang orang bersenjata. Satu tentara meninggal dan tiga luka, dua parah. Presiden Prancis bilang kelompok Hizbullah yang nyerang, tapi Hizbullah bilang bukan mereka. Sekarang banyak orang masih takut karena tempat itu belum aman.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Di tengah tragedi yang menimpa pasukan penjaga perdamaian, artikel ini memperlihatkan komitmen kuat berbagai pihak untuk menegakkan keadilan dan menjaga stabilitas. Pemerintah Lebanon segera mengecam serangan, menjanjikan proses hukum, sementara UNIFIL menegaskan pentingnya perlindungan terhadap pasukan PBB. Respons cepat ini menunjukkan adanya tekad bersama mempertahankan prinsip kemanusiaan di wilayah rawan konflik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Seorang pasukan penjaga perdamaian asal Prancis tewas dan tiga lainnya terluka setelah patroli Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) diserang di Lebanon selatan. Insiden ini disebut sebagai serangan yang disengaja dan terjadi di tengah situasi keamanan yang masih rapuh.

Pasukan tersebut merupakan bagian dari United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) yang mengonfirmasi satu personel meninggal dunia dan tiga lainnya mengalami luka. Dua di antaranya bahkan dalam kondisi serius, setelah patroli mereka ditembaki menggunakan senjata ringan.

Serangan ini menambah daftar panjang risiko yang dihadapi pasukan penjaga perdamaian di wilayah tersebut, terutama sejak kembali memanasnya konflik antara Hizbullah dan Israel pada awal Maret.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, secara langsung menuding kelompok Hizbullah berada di balik serangan tersebut, meskipun tuduhan itu langsung dibantah oleh kelompok yang didukung Iran tersebut.

Di sisi lain, insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah gencatan senjata 10 hari antara Israel dan Lebanon mulai berlaku pada 16 April.

1. Serangan mendadak di tengah misi pembersihan

Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL (dok. UNIFIL)

UNIFIL menjelaskan, patroli tersebut tengah menjalankan misi untuk membersihkan sisa bahan peledak di sebuah jalan di desa Ghanduriyah. Misi ini bertujuan membuka kembali akses ke sejumlah posisi yang terisolasi akibat pertempuran sebelumnya.

Namun, di tengah operasi tersebut, tim tiba-tiba diserang oleh kelompok bersenjata. UNIFIL menyebut pelaku sebagai aktor non-negara dan mengecam keras insiden tersebut.

Serangan itu disebut sebagai tindakan yang disengaja. UNIFIL menegaskan serangan tersebut bersifat disengaja.

Menteri Angkatan Bersenjata Prancis, Catherine Vautrin, mengatakan, pasukan yang tewas merupakan bagian dari misi untuk membuka kembali akses ke posisi UNIFIL yang terputus.

Dia menjelaskan, pasukan tersebut disergap oleh kelompok bersenjata dari jarak sangat dekat dan korban langsung terkena tembakan dari senjata ringan.

Menurut dia, rekan-rekan korban sempat berusaha menyelamatkan, namun nyawanya tidak tertolong.

2. Tuduhan ke Hizbullah yang langsung dibantah

potret Presiden Prancis, Emmanuel Macron (commons.wikimedia.org/European Union)

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengatakan, indikasi kuat mengarah pada keterlibatan Hizbullah dalam serangan tersebut.

“Semua menunjukkan bahwa tanggung jawab atas serangan ini berada pada Hizbullah,” kata Macron, dikutip dari BBC, Minggu (19/4/2026).

Dia juga mendesak pemerintah Lebanon untuk segera bertindak tegas.

“Prancis menuntut agar otoritas Lebanon segera menangkap pelaku dan mengambil tanggung jawab bersama UNIFIL,” ujar dia.

Namun, Hizbullah dengan cepat membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataannya, mereka mengatakan tudingan itu tidak berdasar dan terburu-buru serta meminta agar semua pihak menunggu hasil investigasi resmi dari militer Lebanon.

3. Situasi lapangan masih rawan

Pasukan Perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon. (www.esercito.difesa.it, CC BY 2.5 , via Wikimedia Commons)

Militer Lebanon menyatakan, insiden terjadi setelah adanya baku tembak dengan kelompok bersenjata di wilayah tersebut. Mereka juga menyebut tengah berkoordinasi erat dengan UNIFIL dalam situasi yang disebut sensitif.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam keras serangan tersebut dan berjanji pelaku akan diadili. Dalam komunikasi dengan Macron, dia memastikan proses hukum akan berjalan.

Perdana Menteri, Nawaf Salam, juga telah memerintahkan penyelidikan atas insiden ini.

Di tengah itu, UNIFIL kembali mengingatkan bahwa seluruh pihak memiliki kewajiban untuk melindungi pasukan penjaga perdamaian sesuai hukum internasional. Mereka menegaskan serangan yang disengaja terhadap pasukan PBB merupakan pelanggaran serius hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.

Sejak didirikan pada 1978, lebih dari 330 pasukan penjaga perdamaian telah tewas dalam misi UNIFIL, mencerminkan tingginya risiko operasi di wilayah konflik tersebut.

Editorial Team