Terlibat Misi Perdamaian UNIFIL, Mentrans Iftitah Akui Lebih Waspada

- Iftitah Sulaiman mengenang misi perdamaian UNIFIL di Lebanon yang membentuk kewaspadaan dan kepercayaan dirinya sebagai pemimpin, terutama dalam menghadapi situasi internasional dan perbedaan budaya.
- Pada 2006, Iftitah berangkat bersama 853 personel TNI menuju Lebanon menggunakan kapal kargo AS U.S. Wilson selama 12 hari, membawa alutsista dan logistik melalui Terusan Suez.
- Selama perjalanan laut, kapal sempat mendapat ancaman pembajakan di perairan Somalia sehingga Iftitah dan tim berjaga bergantian hingga berhasil tiba di Terusan Suez tanpa insiden.
Jakarta, IDN Times - Pengalaman di medan tugas sering kali menjadi guru terbaik bagi seorang pemimpin. Hal itu yang membentuk gaya kepemimpinan Menteri Transmigrasi Iftitah Sulaiman setelah satu tahun menjalankan misi perdamaian di bawah bendera United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) sekitar dua dekade silam.
Iftitah mengungkapkan, salah satu pelajaran paling penting yang ia peroleh selama bertugas di Lebanon Selatan adalah soal kewaspadaan.
"Salah satu membentuk saya juga masalah kewaspadaan ya. Jadi belum tentu walaupun standarnya itu standar PBB begitu, terus kemudian kita eh mudah percaya begitu saja," kata Iftitah Sulaiman dalam Real Talk with Uni Lubis, dikutip Minggu (12/4/2026).
"Kita bersyukur bahwa kita terus melakukan pengamatan yang terus-menerus kemudian hingga akhirnya mendapat satu kepastian bahwa ternyata kita yang benar begitu," imbuh dia.
1. Inferioritas dan kepercayaan diri

Bertugas dalam misi perdamaian dunia, di mana ia berinteraksi dengan banyak personel dari berbagai negara seperti Italia dan Spanyol, Iftitah mengakui adanya kecenderungan rasa inferior terhadap bangsa asing, khususnya barat.
Namun, pengalaman di lapangan justru membalikkan perspektif tersebut. Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri sebagai anak bangsa.
Pengalaman paling membekas terjadi saat ia bertugas di markas UNIFIL di Lebanon. Kala itu, para perwira Indonesia mengikuti induction training yang diberikan oleh instruktur internasional.
Namun, Iftitah yang saat itu harus menjaga pos tidak mengikuti sesi tersebut secara langsung. Ia kemudian mengamati bagaimana materi pelatihan yang disampaikan dalam bahasa Inggris diterjemahkan ulang oleh para perwira kepada prajurit Indonesia, sebagian besar dalam bentuk teori dan paparan.
"Kita cukup memberikan efek kepercayaan diri. Itu ya, itulah yang mungkin juga bahwa saya selalu mengatakan yang membentuk leadership," kata Ketua Bappilu Partai Demokrat itu.
2. Berangkat ke Lebanon dengan kapal kargo milik AS

Dua dekade silam, tepatnya pada 4 November 2006, Iftitah bertugas sebagai kontingen UNIFIL bersama Ossy Dermawan dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Berdasarkan data yang dia miliki, pada pemberangkatan tahun 2006, ada 853 personel yang dikirim ke UNIFIL. Sementara, total keseluruhan personel UNIFIL dari berbagai negara ketika itu mencapai 12.167 personel. Personel TNI bertugas selama 12 bulan.
Dia mengenang berangkat menuju Lebanon dengan menumpang kapal kargo dari Amerika Serikat (AS) bernama U.S. Wilson. Perjalanan memakan waktu selama 12 hari dan berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok. Iftitah mengaku tak melewati Selat Hormuz yang sekarang sedang jadi sorotan lantaran ditutup angkatan bersenjata Iran.
"Kami menuju ke Beirut melalui Terusan Suez. Total di kapal itu ada 24 awak kapal dan enam prajurit TNI," ujar Iftitah ketika berbincang di webinar Indonesia Strategic and Defence Studies (ISDS) pada Kamis (9/4/2026) malam.
Di dalam kapal kargo berbendera Negeri Paman Sam itu, turut diangkut sejumlah alutsista untuk keperluan bertugas. Mulai dari tank, kendaraan pengangkut lapis baja VAB hingga logistik.
"Tugas kami mengawal dan memastikan agar seluruh pasukan tiba dengan selamat sampai di Pelabuhan Beirut. Ada juga tim advanced yang sudah tiba lebih dulu (di Lebanon) karena menggunakan pesawat udara," kata dia.
3. Kapal sempat dapat ancaman pembajakan

Peraih penghargaan Adhi Makayasa tersebut mengatakan, perjalanan selama 12 hari melalui jalur laut itu diliputi ras waswas akan bertemu para perompak. Apalagi ketika melewati perairan Somalia yang terkenal sebagai perairan tengkorak.
"Kapten kapal ketika itu menyampaikan, ia dapat ancaman pembajakan pada pagi harinya. Sore hari kami laporkan ke Mabes TNI," kata dia.
Iftitah mengenang instruksi dari Mabes TNI ketika itu, yakni logistik UNIFIL harus dijaga hingga titik darah penghabisan.
Dia mengatakan, para perompak di perairan Somalia menggunakan kapal-kapal kecil untuk berburu target. Meski begitu, kecepatan kapal-kapal kecil itu bisa melampaui kapal-kapal kargo.
Alhasil, sebelum mendekati perairan Somalia, Iftitah dan lima prajurit TNI lainnya bergiliran berjaga dan mengelilingi kapal.
"Mulai dari siang, malam hingga pagi. Terus bergantian selama 3 hari dan 2 malam," ujar dia.
Iftitah bersyukur kapal kargo Wilson berhasil melewati perairan Somalia dan tiba di Terusan Suez tanpa insiden apa pun.
"Mungkin karena kami kadang-kadang kan juga menunjukkan senjata kita. Tapi, mereka pasti kan punya teleskop atau teropong," kata dia.

















