Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Paus Leo Serukan Perdamaian untuk Ukraina: Tidak Bisa Ditunda!
Paus Leo XIV (commons.wikimedia.org/Edgar Beltran)
  • Paus Leo XIV menyerukan perdamaian segera untuk Ukraina, menegaskan bahwa perang yang berlangsung empat tahun telah menimbulkan penderitaan besar bagi warga sipil dan tidak boleh terus dibiarkan.
  • Ukraina telah berulang kali mencoba jalur diplomasi dengan Rusia melalui pertemuan di Abu Dhabi, namun seluruh negosiasi gencatan senjata sejauh ini gagal mencapai kesepakatan konkret.
  • Rusia masih melancarkan serangan ke Ukraina, termasuk serangan drone terbaru yang menargetkan infrastruktur energi di Kyiv dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan luas pada fasilitas publik.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pemimpin tertinggi Vatikan, Paus Leo XIV, menyerukan perdamaian untuk Ukraina. Pernyataan ini disampaikan merespons empat tahun perang antara Rusia dan Ukraina yang hingga kini belum ada tanda-tanda usai.

Dalam pidatonya di St. Peter’s Square pada Minggu (22/2/2026), Leo menyampaikan kesedihannya untuk para korban perang yang ada di Ukraina. Ia mengajak seluruh umat manusia untuk bersatu dan mendoakan korban perang yang berjatuhan di sana.

“Hatiku kembali terenyuh melihat situasi dramatis yang dapat disaksikan semua orang,” kata Paus Leo, seperti dilansir The Strait Times.

1. Leo menyebut perdamaian di Ukraina tidak bisa ditunda lagi

Orang-orang sedang berdemo untuk meminta Rusia berhenti menyerang Ukraina (pexels.com/Sima Ghaffarzadeh)

Lebih lanjut, dalam pidatonya, Leo menegaskan perdamaian di Ukraina tidak bisa ditunda lagi dengan alasan apa pun. Sebab, jika serangan Rusia terus berlanjut, akan ada lebih banyak kesengsaraan dan korban jiwa di Ukraina.

“Begitu banyak korban, begitu banyak kehidupan dan keluarga yang hancur, begitu banyak kehancuran, serta begitu banyak penderitaan yang tidak terungkapkan. Perdamaian (di Ukraina) tidak bisa ditunda,” kata Leo.

“Ini adalah kebutuhan mendesak yang harus mendapat tempat di hati dan diterjemahkan ke dalam keputusan yang bertanggung jawab. Perang adalah luka yang ditimbulkan ke seluruh umat manusia yang meninggalkan kematian, kehancuran, dan jejak penderitaan yang membekas dari generasi ke generasi,” lanjutnya.

2. Ukraina sudah menempuh jalur diplomasi untuk berdamai dengan Rusia

ilustrasi upaya diplomasi (unsplash.com/Markus Winkler)

Ukraina sendiri sebetulnya sudah menempuh jalur diplomasi untuk berdamai dengan Rusia. Upaya pertama dilakukan pada akhir Januari 2026 lalu. Saat itu, Ukraina melakukan pertemuan trilateral dengan Rusia dan Amerika Serikat sebagai mediator di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pertemuan itu bertujuan untuk mendiskusikan kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. Namun, pertemuan tersebut berakhir nihil.

Proses negosiasi kemudian berlanjut ke tahap ke-2 di tempat yang sama pada 4 Februari lalu. Namun, lagi-lagi, negosiasi tersebut berakhir nihil tanpa kesepakatan gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina. 

Upaya diplomasi terakhir yang dilakukan Ukraina terjadi pada Selasa (17/2/2026) dan Rabu (18/2/2026) lalu. Saat itu, Ukraina kembali melakukan pertemuan dengan Rusia untuk berbicara soal gencatan senjata. Sayangnya, negosiasi itu juga berakhir buntu tanpa kesepakatan berarti. Usai pertemuan tersebut, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyebut Rusia sengaja mengulur-ngulur proses negosiasi untuk mencegah gencatan senjata.

3. Rusia masih menggempur Ukraina hingga saat ini

ilustrasi serangan Rusia ke Ukraina (pexels.com/asim alnamat)

Hingga saat ini, Rusia masih terus menggempur Ukraina. Serangan terakhir yang dilancarkan Rusia ke negara tersebut terjadi pada Minggu malam. Saat itu, pasukan Rusia kembali menyerang infrastruktur energi dan bangunan-bangunan yang ada di Kyiv menggunakan drone.

Berdasarkan laporan pihak kepolisian setempat, serangan tersebut menewaskan satu orang. Sementara itu, belasan orang lainnya, termasuk anak-anak, mengalami luka-luka.

“Moskow terus berinvestasi dalam serangan lebih banyak daripada diplomasi. Sasaran utama serangan itu adalah sektor energi. Bangunan tempat tinggal biasa juga mengalami kerusakan dan ada kerusakan pada jalur kereta api,” ujar Zelenskyy di media sosial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team