Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pelapor PBB: Rakyat Palestina Tak Pernah Merasa Damai sejak Israel Dibentuk

3 min read
Pelapor PBB: Rakyat Palestina Tak Pernah Merasa Damai sejak Israel Dibentuk
Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese saat jumpa pers di Jakarta (21/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)
  • Francesca Albanese menilai rakyat Palestina tidak pernah merasakan kedamaian sejak Israel berdiri, dan mengaitkan kondisi tersebut dengan kolonialisme selama satu abad.

  • Ia menyebut masyarakat Palestina menanggung dampak kejahatan terhadap masyarakat Yahudi di Eropa setelah Perang Dunia II.

  • Ia menyerukan penghentian genosida, konsekuensi hukum, serta perubahan sistem internasional melalui tindakan multilateral.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese menyoroti panjangnya penderitaan yang dialami rakyat Palestina sejak berdirinya Israel. Menurutnya, masyarakat Palestina tidak pernah merasakan kedamaian selama Israel berdiri.

Francesca menilai kondisi yang terjadi saat ini merupakan konsekuensi dari kolonialisme selama satu abad di Palestina. Ia juga menyinggung sejarah pembentukan Israel setelah Perang Dunia II dan dampaknya terhadap masyarakat Palestina.

"Sejak dibentuknya Israel, masyarakat Palestina tidak pernah merasakan kedamaian satu hari pun," katanya dalam acara diskusi publik yang digelar di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Rabu (21/10/2026) malam.

  1. 1. Palestina disebut membayar kejahatan yang dilakukan Eropa

    IMG_20261021_210816.jpg
    Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese saat jumpa pers di Jakarta (21/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Francesca mengatakan, masyarakat Palestina tidak seharusnya menjadi pihak yang menanggung konsekuensi atas kejahatan yang dilakukan terhadap masyarakat Yahudi di Eropa.

    Ia mengakui jutaan orang Yahudi di Eropa kehilangan tempat tinggal setelah Perang Dunia II. Sebanyak 6 juta masyarakat Yahudi dibantai dalam salah satu pembunuhan yang terindustrialisasi dalam sejarah kemanusiaan. Namun, menurutnya, penderitaan tersebut kemudian berimbas kepada masyarakat Palestina.

    "Tapi masyarakat Palestina yang harus membayar kejahatan yang dilakukan oleh orang Eropa, dan ini kita tidak bisa terima," ujarnya.

    Francesca menyebut situasi yang terjadi saat ini sebagai konsekuensi dari 100 tahun kolonialisme di Palestina. Ia juga menilai sistem internasional yang dibentuk untuk mencegah perang belum mampu melindungi masyarakat Palestina.

    "Dan ini sekarang yang dihadapi oleh masyarakat Palestina: sebuah genosida, penghapusan, penghancuran secara sengaja dari sebuah bangsa, sebuah kelompok manusia. Ini genosida," kata dia.

  2. 2. Genosida di Gaza harus dihentikan

    IMG_20261021_210557_1.jpg
    Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Pendudukan Palestina, Francesca Albanese saat jumpa pers di Jakarta (21/10/2026) (IDN Times/Yosafat Diva Bayu Wisesa)

    Menurut Francesca, genosida tidak hanya terjadi ketika seluruh anggota suatu kelompok dibunuh. Genosida juga dapat dilakukan dengan menciptakan kondisi kehidupan yang membuat suatu kelompok manusia tidak mampu bertahan dan berfungsi.

    "Ini bukan hanya penghancuran—tidak perlu dibunuh semuanya—tetapi dihancurkan dengan menciptakan kondisi kehidupan yang membuat masyarakat ini tidak bisa berfungsi," ujarnya.

    Karena itu, ia menegaskan, genosida harus dihentikan dan harus ada konsekuensi hukum bagi pihak yang bertanggung jawab.

    "Dan genosida ini harus kita sadari, harus dihentikan, harus disetop, dan ada hukuman," kata dia.

    Ia juga mengkritik sistem internasional yang dinilai justru menjadi bagian dari persoalan. Menurutnya, perubahan diperlukan agar sistem tersebut dapat melindungi seluruh masyarakat tanpa terkecuali.

    "Kita harus melakukan gerakan multilateral. Di tahun 2026 ini, kita perlu pendekatan multilateral yang menggambarkan keragaman dunia kita," tuturnya.

  3. 3. Minta sistem yang mempersenjatai Israel diubah

    Bendera Israel sedang berkibar.
    potret bendera Israel (unsplash.com/Levi Meir Clancy)

    Francesca berpandangan, masyarakat internasional perlu mengambil tindakan bersama untuk mengubah sistem yang selama ini dinilai memberikan dukungan kepada Israel. Ia secara khusus menyoroti sistem yang mempersenjatai Israel dan membela tindakan yang disebutnya sebagai genosida.

    "Dan di sini kita perlu melawan, kita perlu memperbaiki sistem. Sistem yang mempersenjatai pihak Israel, yang membela genosida, kita perlu merubahnya," kata Francesca.

    Menurutnya, tekanan terhadap Israel tidak hanya dapat dilakukan melalui jalur politik, tetapi juga melalui aspek finansial dan ekonomi. Ia mengajak masyarakat mengambil tindakan bersama untuk memberikan tekanan terhadap perusahaan yang dinilai mendapatkan keuntungan dari situasi tersebut.

    "Dan di sini kita harus sadar bahwa kita bisa melakukan tekanan finansial. Dan jumlah Anda itu besar sekali! Kita bisa memberikan tekanan tersebut," ujarnya.

    Francesca menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk memimpin gerakan tersebut. Ia mengingat kembali dukungan terhadap Palestina yang pernah dilihatnya di sejumlah wilayah Indonesia.

    "Dan saya ingat mungkin ketika itu tahun 2015, 2016 ke Indonesia, saya lihat banyak bendera Palestina dikibarkan di Aceh, di Lombok, di mana-mana, ketika itu tahun 2015, 2016," kata dia.

    Ia pun meyakini perubahan dapat terjadi jika masyarakat internasional bersatu, tidak hanya bekerja secara terpisah.

    "Tetapi bukan hanya bekerja sama, kita harus berpikir bersama-sama, mengambil tindakan bersama-sama. Jangan sebagian-sebagian saja," ucap Francesca.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More