Penembakan Sekolah di Prancis, Pelajar 14 Tahun Lukai Dua Pendidik

- Remaja 14 tahun menembak di Sekolah Menengah Joseph-Lakanal, Aubagne, melukai kepala sekolah, seorang guru, dan seorang korban terserempet; pelaku dilucuti staf lalu ditangkap polisi.
- Pelaku membawa senapan berburu dalam tas gitar dan melepaskan sedikitnya empat tembakan, termasuk ke kelas berisi guru serta murid. Polisi menyelidiki dugaan percobaan pembunuhan dan asal senjata.
- Otoritas menyatakan pelaku tak memiliki riwayat kenakalan atau indikasi radikalisasi. Pemerintah Prancis mengirim menteri ke lokasi, sementara Macron memuji tindakan staf sekolah.
Jakarta, IDN Times - Seorang anak laki-laki berusia 14 tahun melepaskan tembakan dengan senapan berburu di Sekolah Menengah Joseph-Lakanal di kota Aubagne, Prancis bagian selatan, pada Senin (12/10/2026) waktu setempat. Aksi penembakan tersebut melukai kepala sekolah dan seorang guru sebelum pelaku akhirnya dilucuti oleh seorang anggota staf sekolah.
Pihak kepolisian menyatakan bahwa korban ketiga turut terserempet tembakan dalam peristiwa tersebut. Otoritas setempat mengonfirmasi kepala sekolah dan guru yang menjadi korban luka kini tidak berada dalam kondisi kritis.
1. Kronologi penembakan dan kepanikan para siswa

ilustrasi sekolah (pexels.com/cottonbro studio) Wakil Jaksa Penuntut Umum Marseille Audrey Jouaneton menjelaskan bahwa pelaku masuk ke sekolah membawa tas gitar dan mengeluarkan senjata laras panjang dari dalamnya. Jaksa Penuntut Umum Marseille Nicolas Bessone menyampaikan pelaku melepaskan tembakan sekali atau dua kali di lantai satu hingga melukai kepala sekolah serta seorang guru pada bagian kaki. Pelaku kemudian melanjutkan aksinya ke lantai dua gedung sekolah dan kembali melepaskan tembakan sebanyak dua kali.
Pelaku melepaskan sedikitnya empat tembakan menggunakan amunisi senapan gentel kaliber 12, termasuk ke dalam ruang kelas yang terisi oleh para guru dan murid. Salah satu tembakan tersebut meninggalkan bekas tanda pada papan tulis di dalam ruang kelas. Wali Kota Aubagne Jean-Pierre Squillari menyatakan seorang staf sekolah berhasil melucuti senjata pelaku sebelum polisi tiba di tempat kejadian dan menangkapnya.
Seorang siswi menuturkan kepada Reuters bahwa guru matematikanya sempat mengira letusan pertama hanyalah suara bising proyek konstruksi di dekat sekolah. Saat letusan berikutnya terdengar dan alarm kebakaran berbunyi, para murid langsung berhamburan keluar kelas menuju lorong sekolah dalam keadaan panik. Siswi tersebut mengatakan, “Kami panik; kami berlari. Ada dua jalan keluar: satu lorong menuju aula olahraga dan satu lorong keluar. Naluri bertahan hidup mengambil alih, dan aku berlari ke arah luar”.
2. Penyelidikan polisi dan latar belakang terduga pelaku

ilustrasi polisi (pexels.com/Kindel Media) Prefek wilayah Bouches-du-Rhone Jacques Witkowski mengungkapkan bahwa pelaku menembak kepala sekolah berusia 53 tahun pada bagian paha dan punggung bawah dengan alasan yang belum diketahui. Witkowski menambahkan pelaku kemudian menembak guru berusia 37 tahun di bagian paha sebelum akhirnya ditundukkan staf sekolah. Otoritas menegaskan bahwa remaja tersebut tidak memiliki riwayat kenakalan maupun indikasi radikalisasi.
Seorang siswi bernama Sarah menceritakan bahwa dia mendengar alarm kebakaran berbunyi saat pelajaran bahasa Spanyol berlangsung dan berpapasan langsung dengan pelaku di lorong. Kepada AFP, Sarah menceritakan momen saat pelaku menembak di hadapannya. “Dia mulai menembak dan berkata: 'Aku hanya datang untuk para guru, bukan untuk para murid,'” kata Sarah.
Pihak berwenang telah membuka penyelidikan resmi atas dugaan percobaan pembunuhan. Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez yang mengunjungi lokasi menyatakan bahwa orang tua terduga pelaku telah ditahan oleh kepolisian. Nunez menyampaikan kepada para jurnalis bahwa penyelidik sedang berusaha memahami bagaimana remaja tersebut bisa memegang dan membawa senjata api tersebut.
3. Respons pemerintah dan rentetan kekerasan di sekolah

Presiden Prancis Emmanuel Macron (Kremlin.ru, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Otoritas menyatakan bahwa sejauh ini tampaknya tidak ada kaitan antara insiden penembakan ini dan aksi protes siswa sekolah menengah atas yang menuntut fasilitas sekolah lebih baik di Prancis dalam beberapa pekan terakhir. Sekolah Menengah Joseph-Lakanal dipastikan tidak terdampak oleh demonstrasi siswa tersebut. Kantor Perdana Menteri Prancis menyampaikan bahwa menteri dalam negeri dan menteri pendidikan langsung bertolak menuju lokasi penembakan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunggah pernyataan melalui media sosial X untuk memuji ketenangan dan tindakan teladan staf pengajar yang berhasil mencegah hal terburuk terjadi. Dilansir Al Jazeera, Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray menegaskan insiden ini merupakan bukti eskalasi kekerasan tanpa kendali yang membutuhkan respons dari seluruh masyarakat. Geffray menyatakan bahwa sekolah tidak dapat melakukan segalanya dan tidak bisa menangani tindak kekerasan skala besar seorang diri.
Aksi kekerasan senjata api oleh murid tercatat langka di Prancis, dengan insiden serupa pernah terjadi pada 2017 ketika seorang siswa berusia 16 tahun melukai tiga murid dan kepala sekolah di Prancis selatan. Kendati demikian, sejumlah kasus kekerasan di sekolah memicu pemeriksaan tas di gerbang masuk beberapa lembaga pendidikan dalam beberapa bulan terakhir. Kasus tersebut meliputi penikaman guru seni hingga kritis oleh siswa 14 tahun pada Februari, penikaman fatal terhadap asisten pengajar pada Juni tahun lalu, serta aksi penusukan yang melukai empat murid pada April tahun lalu.





















