Jakarta, IDN Times - Bagi Gulshan Aliyeva, datang ke sekolah seharusnya menjadi rutinitas biasa seorang guru. Namun, pekan ini, guru bahasa Inggris tersebut justru ditolak masuk ke sekolah tempatnya mengajar di Baku, ibu kota Azerbaijan. Alasannya, ia mengenakan hijab.
Aliyeva, yang telah mengajar selama 23 tahun, mengatakan kepada Al Jazeera larangan tersebut tidak hanya mengancam pekerjaannya, tetapi juga berdampak pada pendidikan putrinya. Sang anak turut dilarang masuk sekolah di tengah penerapan aturan baru mengenai pakaian di lingkungan pendidikan negeri.
“Saya ingin menjalankan tanggung jawab saya, mendidik siswa, dan melanjutkan karier tanpa keyakinan agama saya menjadi penghalang bagi pekerjaan saya,” kata Aliyeva dikutip dari Al Jazeera, Rabu (14/10/2026).
Ia menilai haknya sebagai pekerja telah dilanggar. Aliyeva merujuk Pasal 16 Kode Ketenagakerjaan Azerbaijan yang melarang diskriminasi dalam hubungan kerja. Ia juga menegaskan akan terus datang ke sekolah dan membawa persoalan tersebut ke otoritas terkait jika diperlukan.
Kasus Aliyeva menjadi salah satu wajah dari perdebatan yang semakin panas di Azerbaijan mengenai batas antara sekularisme dan kebebasan beragama. Aturan berpakaian yang baru diterapkan memicu protes di negara dengan lebih dari 90 persen penduduk beragama Islam tersebut, sekaligus membuka pertanyaan tentang bagaimana negara seharusnya memperlakukan ekspresi keyakinan di sekolah negeri.
