Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Populasi Lansia 100 Tahun di Korsel Melonjak, Didominasi Perempuan
Ilustrasi lansia (Unsplash.com/Age Cymru)
  • Jumlah warga Korea Selatan berusia 100 tahun ke atas naik 32,6 persen, dari 6.563 pada 2021 menjadi 8.701 pada 2025, dengan perempuan mencapai 7.242 orang.
  • Konsentrasi lansia seabad tertinggi berada di wilayah perdesaan seperti Goheung-gun, sedangkan kawasan perkotaan dan industri seperti Distrik Buk di Ulsan mencatat proporsi terendah.
  • Sekitar 40 persen lansia Korea Selatan berpendapatan di bawah rata-rata nasional; parlemen mendesak penguatan jaminan pendapatan, fasilitas kesehatan, dan dukungan perawatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Populasi penduduk lanjut usia berusia 100 tahun ke atas di Korea Selatan meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Laporan demografi resmi tersebut dirilis pada Jumat (2/10/2026) bertepatan dengan peringatan Hari Lansia nasional.

Fenomena penuaan penduduk ini langsung menjadi sorotan Majelis Nasional di Seoul. Pergeseran demografi tersebut menuntut kesiapan pemerintah dalam memperkuat jaminan sosial demi masa tua warga yang layak.

1. Jumlah lansia seabad naik dan didominasi perempuan

Data badan statistik nasional mencatat jumlah warga berusia 100 tahun ke atas naik 32,6 persen. Angkanya bertambah dari 6.563 jiwa pada 2021 menjadi 8.701 jiwa pada 2025. Populasi ini terus meningkat setiap tahun dengan lonjakan tertinggi sebanyak 961 jiwa pada 2025.

Kelompok umur ini didominasi perempuan dengan perbandingan nyaris lima banding satu. Jumlah perempuan mencapai 7.242 orang, sementara laki-laki sebanyak 1.459 orang. Fakta ini mendorong pemerintah mengevaluasi mutu hidup para lansia.

"Pada Hari Lansia, kita perlu merenungkan apakah mereka menikmati hidup sehat dan layak seiring bertambahnya usia," kata Anggota Komite Kesehatan Majelis Nasional, Nam In-soon, dilansir Korea Herald.

2. Ketimpangan sebaran lansia di desa dan kota

Kawasan perdesaan memiliki konsentrasi penduduk berusia seabad tertinggi dari 229 daerah di Korea Selatan. Wilayah Goheung-gun di Provinsi Jeolla Selatan memimpin dengan 86,8 warga per 100.000 penduduk, disusul Yeongyang-gun (84,0) dan Bonghwa-gun (83,1).

Kondisi ini berbanding terbalik dengan wilayah perkotaan dan pusat industri yang proporsi lansianya relatif kecil. Distrik Buk di Ulsan berada di posisi terbawah dengan 4,7 warga seabad per 100.000 jiwa, disusul Distrik Jung di Ulsan (5,5), dan Kota Hwaseong (6,9).

"Meski warga berusia seabad mendekati 9.000 orang, banyak dari mereka miskin dan kesulitan mendapat perawatan fisik," ungkap Nam In-soon.

3. Tingkat kemiskinan lansia Korea Selatan tertinggi di antara negara OECD

Lonjakan harapan hidup menekan sistem jaminan sosial dan anggaran publik Korea Selatan. Sekitar 40 persen lansia di negara tersebut masih hidup dengan pendapatan di bawah rata-rata nasional, yang merupakan salah satu tingkat kemiskinan lansia tertinggi di antara negara anggota OECD.

Kondisi tersebut menuntut kesiapan fasilitas kesehatan dan pendampingan medis yang memadai. Biaya perawatan terus membengkak seiring makin banyaknya lansia yang membutuhkan pengawasan intensif. Oleh karena itu, parlemen mendesak pemerintah segera merombak kebijakan kesejahteraan.

"Kita harus memperkuat jaminan pendapatan serta dukungan perawatan bagi warga di hari tuanya," tegas Nam In-soon.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article