Terjadi Ledakan di Zona Demiliterisasi Korea, Tentara Korsel Terluka

- Ledakan saat operasi militer dekat Garis Demarkasi Militer di DMZ melukai tiga personel Korea Selatan; penyebabnya belum diketahui dan mereka dirawat di rumah sakit militer dekat Seoul.
- Militer Korea Selatan memantau dugaan penanaman ranjau oleh Korea Utara, tetapi pejabat JCS mengingatkan ledakan 21 September tidak boleh langsung dikaitkan dengan aktivitas tersebut.
- Ketegangan meningkat seiring penguatan pertahanan dan aktivitas militer Korea Utara; DMZ sepanjang 248 kilometer diperkirakan memiliki sekitar 2 juta ranjau di dalam maupun dekat perbatasan.
Jakarta, IDN Times - Sebuah ledakan melukai 3 personel militer Korea Selatan (Korsel) di Zona Demiliterisasi (DMZ), yang memisahkan Korsel dan Korea Utara (Korut), pada Senin (21/9/2026). Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Korsel mengatakan insiden terjadi saat operasi militer di dekat Garis Demarkasi Militer (MDL) di bagian barat DMZ, dan penyebab ledakan belum diketahui.
Kemenhan Korsel tidak menjelaskan jenis operasi yang sedang dilakukan. Akibat insiden ledakan itu, dua personel militer dievakuasi menggunakan helikopter, sementara satu lainnya dibawa melalui jalur darat sebelum kemudian dievakuasi dengan helikopter. Ketiganya menjalani perawatan di rumah sakit militer dekat Seoul.
Militer Korsel juga berkoordinasi dengan Komando Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNC) terkait masuknya helikopter ke DMZ.
1. Ledakan diperkirakan berasal dari ranjau darat yang ditanam Korut di perbatasan

Potret tentara Korea Selatan. (x.com/ROK_MND) Insiden ini menarik perhatian khusus di tengah kecurigaan bahwa pasukan Korut mungkin telah melintasi selatan MDL dan menanam ranjau darat di beberapa bagian DMZ.
Pada pengarahan rutin Kemenhan pada 14 September lalu, Kepala Staf Gabungan (JCS) mengatakan bahwa militer Korsel telah memantau secara cermat aktivitas Pyongyang, termasuk pelanggaran melintasi MDL. JCS juga mengambil tindakan sesuai dengan prosedur operasional yang telah ditetapkan.
"Kami telah mengidentifikasi perubahan medan di beberapa daerah dan sedang berkoordinasi erat dengan UNC mengenai kemungkinan adanya ranjau darat yang ditanam," kata JCS saat itu, dilansir Korea Herald.
Meski begitu, seorang pejabat JCS yang menolak disebutkan namanya, memperingatkan agar tidak menghubungkan ledakan yang terjadi pada 21 September dengan daerah-daerah tempat dugaan aktivitas pemasangan ranjau Korut mungkin terjadi.
2. Kekhawatiran Korsel atas meningkatnya aktivitas militer Korut

Ilustrasi peluncuran rudal. (unsplash.com/Forest Katsch) Insiden tersebut terjadi ketika ketegangan di Semenanjung Korea meningkat. Dalam beberapa bulan terakhir, Pyongyang memperkuat pertahanannya di sepanjang perbatasan dengan menambah ranjau, penghalang antitank, dan benteng garis depan. Korut juga meningkatkan aktivitas militernya, termasuk peluncuran rudal balistik jarak pendek pada Minggu (20/9/2026), latihan rudal dan artileri dengan tembakan langsung, serta pengoperasian kapal perang baru.
Aktivitas militer di sekitar garis demarkasi juga menjadi perhatian Seoul. Pada 20 November 2025, seorang sersan staf Angkatan Darat terluka dalam ledakan yang tidak diketahui penyebabnya saat melakukan misi pendeteksian ranjau darat di bagian barat DMZ. Ketika ledakan terjadi, ia sedang menjalankan misi di selatan MDL di Paju, Provinsi Gyeonggi. Ia diduga mengalami patah pergelangan kaki dan dibawa ke rumah sakit untuk perawatan.
Pada April 2025, militer Korsel melepaskan tembakan peringatan setelah sekitar 10 tentara Korut melintasi garis demarkasi di bagian timur DMZ. Insiden serupa terjadi pada Juni 2024, di mana pasukan Korut juga melintasi perbatasan sebanyak tiga kali, yang masing-masing direspons dengan tembakan peringatan dari Korsel.
3. Terdapat sekitar 2 juta ranjau yang tersebar di perbatasan Korsel-Korut

Ilustrasi bendera Korea Utara (kiri) dan bendera Korea Selatan (kanan). (pixabay.com/www_slon_pics) DMZ memiliki panjang sekitar 248 kilometer dengan lebar 4 kilometer yang membentang di Semenanjung Korea. Zona penyangga ini menjadi salah satu kawasan perbatasan paling termiliterisasi di dunia.
Diperkirakan, 2 juta ranjau tersebar di dalam dan di dekat perbatasan, yang juga dilengkapi pagar kawat berduri, jebakan tank, dan pasukan tempur di kedua sisinya. Ranjau darat juga pernah menimbulkan korban di masa lalu. Pada Agustus 2015, dua tentara Korsel terluka akibat ledakan ranjau yang memicu meningkatnya ketegangan antara kedua negara.
DMZ merupakan warisan Perang Korea (1950-1953), yang berakhir dengan gencatan senjata sehingga secara teknis Korsel-Korut masih berada dalam keadaan perang.
Hubungan kedua Korea memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Pemimpin Korut Kim Jong Un telah menghentikan hampir seluruh kerja sama dan diplomasi dengan Seoul. Pyongyang juga menyebut Korsel sebagai musuh utama di tengah kebuntuan dalam negosiasi nuklir yang lebih besar dengan Amerika Serikat, Asahi Shimbun melaporkan.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)





















