Depresi bukanlah persoalan sepele. Bila kamu merasakan tendensi untuk melakukan bunuh diri, atau melihat teman atau kerabat yang memperlihatkan tendensi tersebut, amat disarankan untuk menghubungi dan berdiskusi dengan pihak terkait, seperti psikolog, psikiater, maupun klinik kesehatan jiwa.
Saat ini, tidak ada layanan hotline atau sambungan telepon khusus untuk pencegahan bunuh diri di Indonesia. Kementerian Kesehatan Indonesia pernah meluncurkan hotline pencegahan bunuh diri pada 2010. Namun, hotline itu ditutup pada 2014 karena rendahnya jumlah penelepon dari tahun ke tahun, serta minimnya penelepon yang benar-benar melakukan konsultasi kesehatan jiwa.Walau begitu, Kemenkes menyarankan warga yang membutuhkan bantuan terkait masalah kejiwaan untuk langsung menghubungi profesional kesehatan jiwa di Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.Kementerian Kesehatan RI juga telah menyiagakan lima RS Jiwa rujukan yang telah dilengkapi dengan layanan telepon konseling kesehatan jiwa:
RSJ Amino Gondohutomo Semarang (024) 6722565
RSJ Marzoeki Mahdi Bogor (0251) 8324024, 8324025
RSJ Soeharto Heerdjan Jakarta (021) 5682841
RSJ Prof Dr Soerojo Magelang (0293) 363601
RSJ Radjiman Wediodiningrat Malang (0341) 423444.
Selain itu, terdapat pula beberapa komunitas di Indonesia yang secara swadaya menyediakan layanan konseling sebaya dan support group online yang dapat menjadi alternatif bantuan pencegahan bunuh diri dan memperoleh jejaring komunitas yang dapat membantu untuk gangguan kejiwaan tertentu.Kamu juga bisa menghubungi LSM Jangan Bunuh Diri, lembaga swadaya masyarakat yang didirikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesehatan jiwa.
Tujuan dibentuknya komunitas ini adalah untuk mengubah perspektif masyarakat terhadap mental illness dan meluruskan mitos serta agar masyarakat paham bunuh diri sangat terkait dengan gangguan atau penyakit jiwa. Kalian dapat menghubungi komunitas ini melalui nomor telepon 021-06969293 atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.
Bunuh Diri Jadi Penyebab Kematian Utama Warga Korsel hingga Usia 40-an

- Pada 2025, bunuh diri menjadi penyebab kematian utama warga Korea Selatan usia 10–40 tahun, sedangkan kanker memimpin mulai usia 50-an.
- Kematian akibat bunuh diri turun 4,9 persen menjadi 14.144 kasus, tetapi tingkat pada remaja 10–19 tahun naik 7,5 persen menjadi 8,6 per 100 ribu penduduk.
- Tingkat bunuh diri Korea Selatan mencapai 24,9 per 100 ribu penduduk, tertinggi di OECD; secara keseluruhan kanker menyebabkan 90.203 kematian pada 2025.
Jakarta, IDN Times - Bunuh diri menjadi penyebab utama kematian warga Korea Selatan (Korsel) rentang usia remaja hingga 40-an pada 2025. Sementara itu, kanker menjadi penyebab kematian utama mulai kelompok usia 50-an, berdasarkan data dari Kementerian Data dan Statistik Korsel (KOSTAT) yang dirilis pada Selasa (22/9/2026).
Secara keseluruhan, jumlah kematian di Korsel mencapai 362.968 kasus pada 2025, naik 4.399 kasus atau 1,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
1. Bunuh diri jadi penyebab utama kematian hingga usia 40-an

ilustrasi kelompok usia remaja (unsplash.com/Bo Peng) Dilansir The Korea Times, bunuh diri menyumbang 51,2 persen dari seluruh kematian pada kelompok usia 10 hingga 19 tahun di Korsel pada 2025. Porsinya meningkat menjadi 53,5 persen pada kelompok usia 20-an; turun menjadi 42,3 persen pada usia 30-an; dan 25,4 persen pada rentang usia 40-an.
Tingkat kematian akibat bunuh diri juga meningkat seiring kelompok usia tersebut. Angkanya mulai dari 8,6 per 100 ribu penduduk pada kelompok remaja menjadi 20,8 pada usia 20-an; 28,2 pada usia 30-an; dan 34,3 pada usia 40-an.
Pola tersebut berubah pada kelompok usia 50-an. Kanker menjadi penyebab kematian utama dengan porsi 33,7 persen dan tingkat kematian 97,2 per 100 ribu penduduk. Bunuh diri berada di posisi kedua dengan porsi 12,3 persen atau 35,6 kematian per 100 ribu penduduk.
Kanker juga menjadi penyebab kematian utama pada kelompok usia 60-an dan 70-an. Pada kelompok usia 80 tahun ke atas, kanker tetap berada di posisi pertama dengan porsi 16,2 persen, disusul pneumonia 11,9 persen dan penyakit jantung 10,3 persen.
2. Jumlah kematian akibat bunuh diri turun pada 2025

ilustrasi konseling masalah kejiwaan (pexels.com/MART PRODUCTION) Dilansir Seoul Economic Daily, jumlah kematian akibat bunuh diri di Korsel turun 4,9 persen menjadi 14.144 kasus pada 2025 dari 14.872 kasus pada 2024. Tingkat kematiannya juga turun sebanyak 4,7 persen menjadi 27,8 per 100 ribu penduduk dari 29,1.
Penurunan tersebut terjadi setelah jumlah kematian dan tingkat kematian akibat bunuh diri meningkat selama dua tahun berturut-turut pada 2023 dan 2024.
Namun, remaja menjadi satu-satunya kelompok usia yang mengalami kenaikan. Tingkat kematian akibat bunuh diri pada kelompok usia 10 hingga 19 tahun naik 7,5 persen menjadi 8,6 per 100 ribu penduduk dari 8,0 tahun sebelumnya.
Park Hyun Jung, Kepala Divisi Tren Populasi KOSTAT, mengatakan laporan statistik bunuh diri tahunan 2024 menunjukkan bahwa masalah kejiwaan dan keluarga termasuk faktor utama dalam kasus bunuh diri remaja.
"Analisis yang lebih detail harus menunggu laporan tahun ini keluar. Penyebab yang mendasarinya perlu ditinjau secara mendalam," ujar Park, dikutip Seoul Economic Daily.
3. Tingkat bunuh diri Korea Selatan masih tertinggi di OECD

ilustrasi perempuan dengan pita pink sebagai simbol kesadaran kanker payudara internasional (unsplash.com/Sasun Bughdaryan) Tingkat bunuh diri Korsel yang telah distandardisasi berdasarkan usia mencapai 24,9 per 100 ribu penduduk pada 2025. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara negara anggota Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) dan lebih dari dua kali lipat rata-rata OECD sebesar 10,9.
Di sisi lain, kanker tetap menjadi penyebab kematian terbanyak apabila seluruh kelompok usia digabungkan. Jumlah kematian akibat kanker mencapai 90.203 kasus pada 2025.
Penyakit jantung berada di posisi kedua dengan 33.784 kematian, sedangkan pneumonia menyusul dengan 30.965 kasus. Ketiga penyebab tersebut menyumbang 42,7 persen dari seluruh kasus kematian di Korsel pada 2025.


![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















