Comscore Tracker

Polisi Israel Bentrok dengan Kelompok Yahudi Ultra-Ortodoks

Bentrokan terkait penutupan sekolah

Tel Aviv, IDN Times – Pemerintah Israel telah digadang-gadang sebagai salah satu negara yang akan dengan cepat melakukan vaksinasi COVID-19 dan memiliki perkiraan kemungkinan akan terbebas dari wabah tersebut. Namun sejauh ini, meski vaksinasi dengan agresif dilakukan, infeksi di Israel masih tercatat dalam angka yang tinggi.

Pada awal Januari 2021, ada 5.248 kasus infeksi harian dan angka tersebut naik terus hingga mencapai 10.213 kasus infeksi pada 20 Januari. Menurut data Johns Hopkins University, kasus infeksi kemudian turun menjadi 4.933 kasus pada 23 Januari dalam sehari. Namun rata-rata infeksi per pekan masih diangka 7.000 kasus infeksi.

Banyak penduduk Israel yang menuduh bahwa kelompok Yahudi ultra-Ortodoks adalah salah satu sebab biang kerok tingginya infeksi. Banyak sekolah kelompok ultra-Ortodoks yang menolak penutupan sekolah, masih berkumpul berdoa di sinagog dan bahkan masih melakukan perayaan pernikahan meski itu dilarang otoritas.

1. Protes di tiga kota

https://www.youtube.com/embed/WUY9LzaPXdo

Penegak hukum Israel telah mencoba untuk menegakkan aturan pembatasan untuk mencegah tersebarnya virus corona. Mereka mencoba melakukan penutupan sekolah milik kelompok Yahudi ultra-Ortodoks. Namun upaya polisi itu mendapatkan tantangan keras.

Protes terjadi di tiga kota Israel pada hari Minggu (24/1) terkait upaya polisi yang akan melakukan penutupan sekolah. Protes tersebut terjadi di Yerusalem dan Ashdod. Melansir dari laman Times of Israel, polisi Israel bertindak karena menganggap pembukaan sekolah-sekolah tersebut melanggar aturan penguncian nasional.

Ratusan demonstran yang menolak penutupan sekolah terlibat bentrok dengan petugas polisi. Akhirnya polisi berusaha membubarkan massa demonstran dengan menggunakan gas air mata dan air yang berbau busuk. 

Kelompok Yahudi ultra-Ortodoks sebenarnya tak lebih dari 12 % populasi di Israel. Namun kelompok ini berkontribusi pada infeksi secara signifikan, dan menyumbang lebih dari sepertiga infeksi virus corona di Israel. Selama wabah menyerang, mereka masih tetap berdoa di sinagog, membuka sekolah, melakukan perayaan meskipun hal itu dilarang.

2. Demonstran ditangkap, polisi terluka

https://www.youtube.com/embed/1Kv0TY0gZ2g

Banyak penduduk di Yerusalem barat marah terhadap kelompok ultra-Ortodoks. Mereka menganggap dampak infeksi pada kelompok tersebut telah merongrong sistem layanan kesehatan nasional. Mereka juga menganggap penyebaran infeksi di lingkungan ultra-Ortodoks berdampak pada buruknya ekonomi nasional.

Ratusan demonstran berbaris di Yerusalem, di luar sekolah kelompok ultra-Ortodoks, untuk menghalangi petugas polisi melakukan upaya penutupan dan terlibat bentrokan. Melansir dari laman VOA, para demonstran berteriak menghina polisi dan menyebut mereka “Nazi” dan”kapos”, sebutan bagi para Yahudi kolaborator yang bekerja untuk Reich Ketiga. Mereka juga melempari sampah ke arah petugas polisi.

Sedangkan di kota Ashdod, bentrok antara demonstran dan petugas polisi telah menyebabkan empat petugas terluka. Lima demonstran berhasil ditangkap petugas kepolisian. Seorang demonstran juga terlihat melepaskan maskernya sebelum akhirnya batuk-batuk ke arah polisi.

Di kota Bnei Brak yang didominasi oleh kelompok ultra-Ortodoks, sekitar tujuh kilometer sebelah timur Tel Aviv, seorang petugas polisi dikepung kelompok ultra-Ortodoks dan dilempari batu. Dia akhirnya melepaskan tembakan ke udara karena merasa nyawanya terancam.

Baca Juga: Mike Pompeo Pertama Kali Kunjungi Pemukiman Yahudi di Tepi Barat

3. Dukungan politik ultra-Ortodoks kepada pemerintah

Polisi Israel Bentrok dengan Kelompok Yahudi Ultra-OrtodoksBenjamin Netanyahu (kiri) Perdana Menteri Israel. (instagram.com/b.netanyahu)

Wabah virus corona yang telah menghantam di banyak negara, termasuk Israel, telah menyebabkan kegawatan terhadap sistem perekonomian dan sistem pelayanan kesehatan. Namun di Israel, kelompok ultra-Ortodoks menganggap diri mereka adalah korban ketidak adilan.

Banyak diantara keluarga ultra-Ortodoks tersebut memiliki anak 10 sampai 12 dan terkurung di sebuah apartemen yang kecil. Mereka juga tidak dapat melakukan sekolah daring dan kebanyakan tidak memiliki koneksi internet karena banyak yang miskin.

Melansir dari VOA, seorang rabbi kelompok tersebut yang bernama Eliezer Simcha Weisz mengatakan “banyak dari mereka tidak tahu apa itu semua (virus corona)”. Menurutnya, kelompok ultra-Ortodoks memang banyak yang tidak membaca koran, tidak memiliki koneksi internet dan tidak memiliki koneksi dunia luar sehingga mereka berpikir bahwa kebijakan pemerintah adalah upaya menyerang kelompok tersebut.

Di sisi lain, partai ultra-Ortodoks memberikan dukungan kuat terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Jurnalis Al Jazeera, Harry Fawcett yang melaporkan dari Yerusalem barat, menjelaskan bahwa “Benjamin Netanyahu memiliki ketergantungan pada kelompok ultra-Ortodok dalam koalisi pemerintahannya. Jadi, selain di jalanan, ini juga masalah serius bagi perdana menteri Israel”.

Baca Juga: Kontroversi Kremasi Jenazah COVID-19 bagi Islam, Yahudi, dan Katolik

Pri Saja Photo Verified Writer Pri Saja

Petani

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Novaya

Berita Terkini Lainnya