Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Protes Krisis Ekonomi dan Demokrasi, Ribuan Warga Tunisia Turun ke Jalan
ilustrasi aksi protes (unsplash.com/Clay Banks)
  • Ribuan warga Tunisia berdemonstrasi di Tunis pada 17 Oktober 2026, diprakarsai UGTT dan kelompok sipil, menuntut pemulihan demokrasi, pembebasan pengkritik, serta hak berserikat.
  • Protes dipicu krisis ekonomi berkepanjangan, dengan pengangguran tinggi, pemadaman listrik, gangguan air bersih, serta kelangkaan obat dan kebutuhan pokok yang menekan kehidupan warga.
  • Ketegangan berakar dari langkah Kais Saied sejak 2021 mengambil alih wewenang, membubarkan parlemen, dan memerintah lewat dekret; Saied membantah tuduhan otoriter.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Ribuan warga Tunisia menggelar aksi unjuk rasa berskala besar untuk memprotes kepemimpinan Presiden Kais Saied di ibu kota Tunis pada Sabtu (17/10/2026). Aksi massa ini menjadi gelombang protes terbesar dalam beberapa tahun terakhir akibat keresahan publik atas melemahnya demokrasi serta kesulitan ekonomi yang tak kunjung membaik.

Menanggapi unjuk rasa tersebut, aparat keamanan menyiagakan ratusan personel kepolisian di berbagai sudut kota guna memperketat penjagaan. Kendati demikian, serikat buruh dan koalisi masyarakat sipil tetap melangsungkan aksinya guna menentang pembatasan ruang kebebasan di tengah krisis yang berkepanjangan.

1. Mobilisasi gabungan masyarakat di pusat ibu kota

Sousse, Tunisia (commons.wikimedia.org/BishkekRocks)

Aksi unjuk rasa ini diprakarsai oleh serikat buruh Union Générale Tunisienne du Travail (UGTT) bersama gabungan kelompok masyarakat sipil. Gerakan ini berhasil menyatukan berbagai elemen, mulai dari partai oposisi, asosiasi pengacara, tenaga medis, jurnalis, hingga kalangan pencari kerja. Mereka melakukan aksi jalan bersama di sepanjang Avenue Habib Bourguiba, kawasan bersejarah yang pernah menjadi pusat perubahan politik di Tunisia pada 2011.

Massa menuntut pemerintah segera memulihkan sistem demokrasi, membebaskan tokoh pengkritik yang ditahan, serta menjamin hak warga untuk berserikat. Sepanjang jalannya aksi, para peserta menyuarakan penolakan terhadap pemusatan kekuasaan serta mengecam kondisi penjara yang penuh di saat rakyat tengah kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

"Sikap diam tidak bisa lagi diterima karena negara ini tidak dapat dibangun jika seluruh kekuasaan hanya berpusat di tangan satu orang," ujar Sekretaris Jenderal UGTT, Slah Eddine Salmi, dilansir Al Jazeera.

2. Keluhan warga atas krisis ekonomi dan kelangkaan bahan pokok

potret rakyat Tunisia (commons.wikimedia.org/Touzrimounir)

Kemarahan masyarakat dipicu oleh kemerosotan ekonomi berkepanjangan yang menurunkan taraf hidup warga serta mengganggu layanan fasilitas umum. Penduduk di berbagai wilayah kerap mengalami pemadaman listrik dan gangguan pasokan air bersih secara berulang, di samping tingginya angka pengangguran. Situasi kian menekan karena masyarakat mulai kesulitan mendapatkan obat-obatan serta bahan kebutuhan pokok di pasar.

Beban hidup yang makin berat ini mendorong sejumlah warga dari daerah pelosok rela menempuh perjalanan ratusan kilometer demi menyuarakan aspirasi mereka di ibu kota.

"Keadaan ini sudah keterlaluan dan negara kami sedang terpuruk, sebab kami terus mengalami pemadaman listrik, kesulitan air, serta rentetan masalah yang tiada henti," tutur salah seorang pengunjuk rasa asal Sfax, Yassine Gharseli.

3. Silang pendapat mengenai langkah pemusatan kekuasaan Presiden Saied

Presiden Tunisia, Kais Saied. (x.com/@TnPresidency)

Ketegangan politik ini berakar dari langkah Presiden Saied pada 2021 yang mengambil alih wewenang pemerintahan, membubarkan parlemen, memberhentikan puluhan hakim, serta memimpin melalui penerbitan dekret. Pihak penentang dan pakar hukum menilai tindakan tersebut telah mencederai tatanan demokrasi, sementara lembaga pegiat hak asasi menyoroti maraknya penangkapan terhadap para aktivis serta jurnalis independen.

Di sisi lain, Presiden Saied membantah tuduhan bahwa dirinya bertindak otoriter atau menindas kebebasan masyarakat. Ia menegaskan bahwa pihak lawan politik sengaja memanfaatkan masalah ekonomi dan kelangkaan barang untuk memicu keresahan sosial demi menggoyahkan pemerintahannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article