Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Puluhan Pemukim Israel Rusak Panen Zaitun dan Lukai Wartawan AS di Tepi Barat, Palestina
Kebun zaitun (Unsplash.com/Lothar Boris Piltz)
  • Sekitar 80 pemukim Israel menyerang petani Palestina di perkebunan zaitun Abu Falah dengan batu, tongkat, gas, dan senjata api; sedikitnya dua orang terluka.
  • Jurnalis foto Amerika Serikat Heidi Levine dipukuli dan dirampok saat meliput, meski mengenakan identitas pers; pemerintah Israel menyatakan pemeriksaan fakta sedang berlangsung.
  • Kekerasan selama musim panen meningkat: Yesh Din mencatat 170 serangan sejak akhir September, dengan empat warga tewas, lebih dari 100 terluka, dan ribuan pohon zaitun rusak.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Puluhan warga pemukim Israel dilaporkan menyerang warga Palestina yang sedang memanen buah zaitun di desa Abu Falah, wilayah Tepi Barat, pada Jumat (16/10/2026). Aksi penyerbuan yang disertai pelemparan batu dan perusakan tanaman tersebut melukai sedikitnya dua orang, termasuk seorang jurnalis foto internasional.

Insiden kekerasan ini memicu kecaman luas dari berbagai pihak terkait penanganan aparat keamanan di lokasi kejadian. Sementara itu, penyelidikan resmi mulai dilakukan di tengah kekhawatiran para petani setempat yang berupaya menyelamatkan hasil panen kebun mereka.

1. Kronologi penyerangan warga di perkebunan zaitun Abu Falah

Aksi kekerasan bermula ketika sekitar 80 orang pemukim bertopeng dan berpakaian serbahitam turun dari perbukitan menuju perkebunan zaitun milik warga. Para pelaku membawa batu, tongkat pemukul, tabung gas, hingga senjata api, lalu melontarkan batu menggunakan katapel ke arah warga yang tengah memetik hasil kebun.

Warga desa sempat berusaha menjauh ke lereng bukit sebelum membalas lemparan batu untuk membela diri. Situasi kian tegang saat dua mobil militer tiba di lokasi dan melepaskan gas air mata ke arah para petani, sementara seorang pemukim melepaskan tembakan menggunakan peluru tajam.

"Para pemukim berniat menyerang serta mengusir kami dari tanah tempat tinggal kami sendiri," ujar seorang petani setempat, Moutaz Abdelhadi, dilansir The Guardian.

2. Penyerangan terhadap jurnalis foto asal Amerika Serikat

Insiden tersebut turut melukai seorang jurnalis foto asal Amerika Serikat yang bertugas untuk harian The Washington Post, Heidi Levine. Sekelompok penyerang memukuli dan menendang Levine selama sekitar sepuluh menit, meski ia telah mengenakan rompi pelindung dan helm dengan identitas pers yang jelas. Para pelaku juga mengambil kamera, telepon genggam, dompet, serta paspor miliknya sebelum rekan jurnalis setempat datang memberikan pertolongan.

"Saya dihempaskan ke tanah dan terus ditendang, beruntung rompi pelindung serta helm berhasil menyelamatkan nyawa saya," tutur Levine saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit di Ramallah.

Pimpinan redaksi media tempat korban bekerja bersama sejumlah organisasi pers internasional mengecam keras aksi kekerasan fisik tersebut. Menanggapi insiden ini, kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyampaikan bahwa pemeriksaan fakta atas peristiwa di lapangan saat ini tengah berjalan.

3. Peningkatan ancaman kekerasan selama musim panen zaitun

Aksi di desa Abu Falah berlangsung bersamaan dengan peristiwa serupa di kawasan Turmus Ayya, saat sekelompok pemukim dilaporkan memukuli petani dan membakar tiga unit mobil warga. Rentetan intimidasi ini kian mengancam kegiatan panen zaitun yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat setempat.

Lembaga pemantau hak asasi manusia Yesh Din mencatat setidaknya ada 170 serangan yang terjadi sejak akhir September, menewaskan empat orang warga dan melukai lebih dari seratus orang lainnya. Selain menimbulkan korban, ribuan pohon zaitun juga dilaporkan rusak akibat ditebang maupun terbakar.

Kondisi petani kian tertekan menyusul perluasan larangan berladang di Area C hingga mencakup 8.800 hektare, di tengah minimnya perlindungan hukum bagi para petani di lapangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article