Comscore Tracker

Tekan Putin, G7 Sepakati Batas Harga Migas Rusia 60 Dolar AS per Barel

Putin janji akan balas negara yang menerapkan kebijakan ini

Jakarta, IDN Times - Negara anggota G7 dan Australia telah menyetujui pembatasan harga minyak Rusia pada Jumat (2/12/2022). Mereka akan mengadopsi batas harga sebesar 60 dolar AS (sekitar Rp923 ribu) per barel.

Kebijakan tersebut diputuskan setelah membujuk Polandia dan meyakinkan bahwa batas tersebut akan dipertahankan pada 5 persen lebih rendah dari harga pasar, dikutip dari BBC

Harga batas sebenarnya telah diajukan G7 pada September, yang bertujuan untuk menghindari lonjakan harga minyak global dan energi baru, serta menghentikan Rusia untuk mengambil untung dari ekspor minyak.

1. AS yakin kebijakan baru G7 bisa menekan Rusia

Sebelumnya, Uni Eropa (UE) ingin menetapkan batas di harga 65-70 dolar AS, namun rencana itu mendapat penolakan dari Polandia, Lithuania, dan Estonia. Mereka menganggap harga tersebut terlalu tinggi. Warsawa menginginkan nilainya serendah mungkin, namun akhirnya mengalah pada Jumat malam dan mendukung aturan tersebut.

Meski begitu, anggota UE masih menegosiasikan apakah penerapan batas harga akan cukup untuk memberikan pukulan besar bagi sumber utama pendapatan Moskow.

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS), John Kirby, yakin bahwa pembatasan itu akan memiliki efek yang diinginkan untuk membatasi Presiden Rusia Vladimir Putin mengambil untung dari penjualan minyak

"Dan membatasi kemampuannya untuk terus menggunakan uang itu guna mendanai perangnya," kata dia, dilansir AP News

Kebijakan terbaru memastikan, jika ada negara yang ingin membeli minyak dari Rusia, maka harganya harus di bawah 60 dolar AS per barel.

Baca Juga: 13 Ribu Tentara Ukraina Tewas dalam Perang Melawan Rusia

2. Imbas kenaikan harga minyak global

Tekan Putin, G7 Sepakati Batas Harga Migas Rusia 60 Dolar AS per BarelIlustrasi kenaikan harga minyak (IDN Times/Arief Rahmat)

Kebijakan ini berisiko pada pasar yang mungkin saja kehilangan pasar minyak global dalam jumlah besar. Imbasnya justru pada kenaikan harga minyak dunia. 

Selain itu, hal tersebut telah menimbulkan kekacauan politik bagi Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin di negara lain. 

Eropa sendiri sudah terperosok dalam krisis energi. Bahkan, UE menghadapi protes atas melonjaknya biaya hidup. Negara-negara berkembang pun merasakan imbas dari pergeseran biaya energi.

Dikutip dari Kyodo News, saat ini minyak mentah Brent yang menjadi patokan internasional, telah diperdagangkan sekitar 85 dolar AS (sekitar Rp1,3 juta) per barel. Namun, baru-baru ini dilaporkan bahwa minyak mentah andalan Rusia telah diperdagangkan di bawah 60 dolar AS.

Washington pun mengatakan bahwa tingkat batas harga nantinya dapat disesuaikan, tergantung pada reaksi Rusia dan faktor lainnya.

3. Respons Rusia perihal aturan tersebut

Tekan Putin, G7 Sepakati Batas Harga Migas Rusia 60 Dolar AS per BarelIlustrasi bendera Rusia. (pixabay.com/IGORN)

Rusia mengecam skema pembatasan pada minyaknya. Putin mengatakan bahwa dia tidak akan menjual minyak di bawah batas harga dan akan membalas negara-negara yang menerapkan aturan tersebut.

Menurut Asosiasi Energi Internasional, sebelum agresi Rusia pada Februari lalu, lebih dari separuh ekspor minyak Rusia mengalir ke Eropa. Importir terbesarnya adalah Jerman, Belanda, dan Polandia.

Namun, sejak perang berkecamuk di Ukraina, UE berusaha untuk mengurangi ketergantungan. AS telah melarang minyak mentah Rusia dan Inggris berencana menghentikan secara bertahap pada akhir tahun.

Melihat sanksi tesebut, Kremlin tidak kehilangan akal. Moskow telah mengalihkan sebagian besar pasokannya ke pasar lain, yakni India, China, serta negara Asia lainnya dengan potongan harga, bahkan sebelum embargo UE.

Embargo UE terhadap minyak mentah Rusia yang dikirim melalui laut dan larangan asuransi pada pasokan tersebut akan mulai berlaku pada 5 Desember 2022. 

Baca Juga: Jepang Akan Gunakan Perannya di G7 dan PBB untuk Menekan Rusia 

Rahmah N Photo Verified Writer Rahmah N

Member IDN Times Community ini masih malu-malu menulis tentang dirinya

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Vanny El Rahman

Berita Terkini Lainnya