Comscore Tracker

Nicolás Maduro, Mantan Sopir Bus yang Jadi Presiden Venezuela

Dirinya tidak diakui presiden oleh AS dan Uni Eropa

Jakarta, IDN Times – Venezuela telah menjadi sorotan dunia setelah ekonominya mengalami krisis parah, di mana negara kaya minyak tersebut menjadi miskin dan dilanda inflasi ribuan persen.

Keadaan itu pun diperparah oleh berbagai isu pelanggaran demokrasi dan hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di negara itu, utamanya semenjak Nicolás Maduro menjabat sebagai presiden sejak 2013.

Akibat itu, banyak warga negara itu yang melakukan migrasi dan perpindahan itu bahkan menjadi salah satu migrasi massal terbesar dalam sejarah Amerika Latin, sebagaimana dilaporkan BBC.

Namun demikian, Maduro terus menyalahkan negara-negara lawannya sebagai penyebab krisis karena memulai perang ekonomi.

Untuk mengenal lebih jauh mengenai kepala negara yang banyak menuai kontroversi itu, berikut IDN Times rangkumkan sejumlah fakta terkait Maduro.

Baca Juga: Maduro Berencana Digitalisasi Penuh Ekonomi Venezuela

1. Mantan sopir bus

Nicolás Maduro, Mantan Sopir Bus yang Jadi Presiden VenezuelaAbcnews.com

Maduro yang masih menjabat presiden ternyata merupakan seorang mantan sopir bus yang telah lama berkecimpung dalam serikat buruh. Pria kelahiran 23 November 1962, di Caracas, Venezuela itu terpilih pertama kali sebagai Presiden Venezuela dengan selisih tipis pada April 2013 untuk melanjutkan sisa masa jabatan Presiden Hugo Chavez, yang meninggal pada Maret.

Maduro kemudian terpilih mengemban jabatan presiden untuk kedua kalinya pada 20 Mei 2018 dengan 67,8 persen suara. Namun hasil pemilihan ini menjadi kontroversi besar. Maduro baru dilantik untuk masa jabatan keduanya sebagai presiden pada 10 Januari 2019, menurut Britannica.

2. Awal karier politik Maduro

Nicolás Maduro, Mantan Sopir Bus yang Jadi Presiden VenezuelaPresiden Venezuela Nicolas Maduro saat Hari Kemerdekaan di Karakas, Venezuela, pada 5 Juli 2020. ANTARA FOTO/Miraflores Palace/Handout via REUTERS

Maduro tumbuh dalam keluarga sederhana di Caracas. Ayahnya terlibat dalam politik sayap kiri dan gerakan buruh. Ia kemudian mengikuti jejak ayahnya dan mengikuti pelatihan sebagai penyelenggara di Kuba. Saat bekerja sebagai sopir bus di Caracas, ia menjadi perwakilan di serikat pekerja transit dan naik pangkat.

Ketika Chavez, yang saat itu adalah seorang perwira militer, dipenjarakan pada 1992 setelah melakukan upaya kudeta yang gagal, Maduro dan calon istrinya, Cilia Flores, yang saat itu adalah seorang pengacara muda, berkampanye untuk pembebasan Chavez. Itu terjadi pada 1994.

Pada 1999, Maduro adalah anggota Majelis Konstituante Nasional yang menulis ulang konstitusi. Langkah ini membantu Chavez naik ke kursi kepresidenan. Tahun itu, Maduro juga memiliki jabatan di Kamar Deputi (majelis rendah legislatif Venezuela), yang kemudian digantikan menjadi Majelis Nasional unikameral.

Maduro tetap memegang jabatan di lembaga itu pada 2000. Ia terpilih kembali pada tahun 2005 dan menjabat sebagai presiden badan tersebut sampai tahun 2006, sebelum akhirnya menjadi menteri luar negeri.

3. Namanya semakin dikenal ketika Chavez jatuh sakit

Nicolás Maduro, Mantan Sopir Bus yang Jadi Presiden VenezuelaANTARA FOTO/Miraflores Palace/Handout via REUTERS

Nama Maduro dalam pemerintahan mulai berkembang sejak itu, terutama saat kesehatan Chavez mulai memburuk dan mengumumkan dirinya mengidap kanker pada 2011. Pada Oktober 2012, setelah kemenangan Chavez dalam pemilihan presiden atas Henrique Capriles Radonski, Maduro menjadi wakil presiden. Pada saat yang sama, istri Maduro (mantan presiden Majelis Nasional) menjabat sebagai jaksa agung Venezuela, yang menyebabkan keduanya dipersepsikan sebagai pasangan kekuatan politik tertinggi di negara itu.

Sebelum pergi untuk menjalani operasinya yang kesekian kali di Kuba pada Desember 2012, Chavez menunjuk Maduro sebagai penerus pilihannya jika dia tidak bertahan. Saat Chavez absen dari kursi kepresidenan karena kesehatannya, Maduro menjadi pemimpin de facto negara itu. Chavez diumumkan meninggal pada 5 Maret.

Maduro yang menjabat posisi presiden sementara, mencalonkan diri dalam pemilihan khusus pada 14 April untuk menjadi presiden dan menjalani sisa masa jabatan Chavez. Maduro memenangi pemilu dan meraih hampir 51 persen suara. Meski kemenangannya diragukan lawannya, Maduro dilantik sebagai presiden pada 19 April.

4. Kejatuhan ekonomi

Nicolás Maduro, Mantan Sopir Bus yang Jadi Presiden VenezuelaPresiden Venezuela, Nicolas Maduro, saat melakukan kampanye jelang Pemilu Legislatif pada pekan lalu. (Twitter.com/maduro_en)

Selama masa jabatannya, Maduro banyak diprotes, baik oleh rakyat maupun pejabat oposisi dalam pemerintahan, dan pada saat yang sama kekacauan ekonomi mulai terjadi.

Sebagai produsen minyak, Venezuela menghadapi goncangan ekonomi karena harga minyak dunia yang tertekan. Selain itu, output minyak mentah Venezuela semakin tidak proporsional. Produksi minyak bumi kentalnya semakin tinggi padahal itu membutuhkan biaya penyulingan yang lebih mahal ketimbang minyak mentah light sweet.

Perekonomian juga dibebani dengan produksi industri yang menurun dan ekspor nonminyak yang turun. Menurut beberapa pengamat, hal itu merupakan akibat dari kegagalan pemerintah untuk berinvestasi secara memadai di sektor industri dan nasionalisasi industri yang didorong secara ideologis seperti listrik dan baja.

Inflasi negara juga membengkak, menjadi salah satu yang tertinggi di dunia. Semua itu mengarah pada penurunan kemampuan impor, membuat kekurangan bahan pokok seperti tisu toilet, susu, dan tepung, serta obat-obatan tertentu, menjadi semakin meluas.

Venezuela dilaporkan mengalami resesi sejak 2014, dengan inflasi sebesar tiga digit.

Baca Juga: Maduro Berharap Bisa Perbaiki Hubungan dengan AS di Bawah Biden

5. Tidak diakui pemimpin oleh negara Barat

Nicolás Maduro, Mantan Sopir Bus yang Jadi Presiden VenezuelaPresiden Venezuela, Nicolas Maduro. (Instagram.com/nicolasmaduro)

Terpilihnya Maduro untuk masa jabatan kedua menuai banyak kontroversi. Para pemimpin oposisi menuduh pemilu dilakukan secara tidak adil dan meminta pendukung oposisi untuk memboikot pemungutan suara.

Menurut Dewan Pemilihan Nasional, hanya 46 persen pemilih yang memenuhi syarat memberikan suara dan banyak dari para pemilih diyakini terpaksa memilih karena dijanjikan akan terus menerima bantuan makanan yang disediakan pemerintah. Sumber oposisi bahkan mengatakan jumlah pemilih jauh lebih rendah dari itu.

Meski demikian, Maduro tetap dinyatakan menang dan akan menjabat hingga 2025 karena masa jabatan satu periode presiden Venezuela adalah enam tahun. Sayangnya, hasil ini bukan hanya tidak diakui di dalam negeri, tapi juga oleh sejumlah negara dan organisasi internasional, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa.

Baca Juga: Presiden Maduro Klaim Ciduk Mata-mata AS di Kilang Minyak Venezuela

Topic:

  • Anata Siregar
  • Jumawan Syahrudin

Berita Terkini Lainnya