Comscore Tracker

WHO Peringatkan Varian Baru COVID-19 yang Lebih Ganas dari Delta

WHO juga sarankan pembagian vaksin COVID-19 harus merata

Jakarta, IDN Times – Komite darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan tentang varian COVID-19 yang baru dan lebih berbahaya dari varian Delta pada Kamis (15/7/2021). Komite memperkirakan varian baru itu akan menyebar ke seluruh dunia, membuat pandemik COVID-19 semakin sulit untuk dihentikan.

Pengumuman itu merupakan berita buruk terbaru yang disampaikan di saat berbagai negara di dunia sedang berusaha memerangi gelombang infeksi baru yang dipicu oleh varian Delta, yang pertama kali diidentifikasi di India.

“Pandemik belum selesai,” kata komite WHO memperingatkan dalam sebuah pernyataan pada Kamis setelah menggelar pertemuan sehari sebelumnya.

Baca Juga: WHO: Pencampuran Vaksin COVID-19 Berbahaya

1. Tren pandemik mengkhawatirkan

WHO Peringatkan Varian Baru COVID-19 yang Lebih Ganas dari DeltaPekerja migran menunggu uji rapid antigen di lokasi pembangunan komplek gedung tempat tinggal ditengah wabah penyakit virus corona (COVID-19) di New Delhi, India, Sabtu (19/9/2020) (ANTARA FOTO/REUTERS/Adnan Abidi)

Ketua komite tersebut, Didier Houssin mengakui kepada wartawan bahwa tren kasus COVID-19 baru-baru ini mengkhawatirkan. Ia juga mengatakan bahwa tingkat kewaspadaan tertinggi masih perlu diterapkan.

“Kita masih mengejar virus ini dan virus masih mengejar kita,” ujarnya.

Untuk saat ini, ada empat varian COVID-19 yang mendominasi gambaran pandemi global, yaitu Alpha, Beta, Gamma dan Delta yang menyebar dengan cepat.

Tetapi komite memperingatkan bahwa yang lebih buruk bisa terjadi di depan. “(Ada) kemungkinan kuat untuk kemunculan dan penyebaran global varian baru dan mungkin lebih berbahaya dari yang dikhawatirkan, mungkin bahkan lebih menantang untuk dikendalikan,” ujarnya.

Baca Juga: Luhut: Varian Delta Tidak Bisa Dikendalikan

2. Pandemik masih jadi tantangan global

WHO Peringatkan Varian Baru COVID-19 yang Lebih Ganas dari DeltaSeorang pria berlari melewati tiang pemakaman yang terbakar dari mereka yang meninggal karena penyakit virus corona (COVID-19), selama kremasi massal, di krematorium di New Delhi, India, Senin (26/4/2021). (ANTARA FOTO/REUTERS/Adnan Abidi)

Komite lebih lanjut mengatakan bahwa pandemik tetap menjadi tantangan secara global karena negara-negara memiliki cara yang berbeda dalam mengurus masalah kesehatan, ekonomi dan sosial mereka.

“Negara-negara dengan akses lanjutan ke vaksin dan sistem kesehatan yang memiliki sumber daya yang baik berada di bawah tekanan untuk membuka kembali masyarakat mereka sepenuhnya,” katanya.

“Di sisi lain, negara-negara dengan akses terbatas ke vaksin mengalami gelombang infeksi baru, melihat erosi kepercayaan publik serta kesulitan ekonomi yang meningkat, dan, dalam beberapa kasus, meningkatkan kerusuhan sosial,” tambahnya, menurut The Straits Times.

3. Dampak ketidaksetaraan penanganan pandemik

WHO Peringatkan Varian Baru COVID-19 yang Lebih Ganas dari DeltaBendera berkibar di kantor pusat WHO di Jenewa, Swiss (www.who.int)

Para ahli lebih lanjut mengatakan bahwa sebagai akibat dari banyaknya keputusan kebijakan yang semakin berbeda dalam menangani kebutuhan nasional yang sempit, pendekatan yang selaras untuk respons global menjadi terhambat.

“Penggunaan masker, jarak fisik, kebersihan tangan, dan peningkatan ventilasi ruang dalam ruangan tetap menjadi kunci untuk mengurangi penularan,” kata Komite.

Mereka juga menekankan kebutuhan untuk memvaksinasi setidaknya 10 persen dari populasi setiap negara pada bulan September dan pentingnya untuk membagi vaksin antara negara-negara kaya dan negara-negara miskin.

“Banyak negara sekarang telah memvaksinasi populasi prioritas mereka, direkomendasikan bahwa dosis harus dibagi dengan negara-negara yang memiliki akses terbatas sebelum memperluas program vaksinasi nasional ke kelompok risiko yang lebih rendah,” kata Komite itu.

Baca Juga: WHO Desak Tiongkok Transparan soal Data Asal Usul COVID-19

Topic:

  • Dwifantya Aquina

Berita Terkini Lainnya